If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
16. Malam Pertama (Menikah)


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam, keduanya keluar dari kamar masing-masing dengan selisih waktu tidak jauh berbeda tapi keduanya sama-sama menggunakan jubah setelah mandi warna putih.


"Kamu? Untuk apa keluar kamar?" Julian yang memakai jubah mandi namun dada bidangnya tampak terlihat jelas karena tali pengikatnya yang kendur, membuat Emilia malu-malu untuk menatapnya. Wanita yang baru satu hari berstatus sebagai seorang istri itu memalingkan wajahnya ke samping. Dia melihat dapur yang langsung memberinya ide untuk segera menuju kesana dan membuat sesuatu untuk mencairkan suasana.


"Aku haus. Aku mau ambil minuman." Dia pun mengambil botol minuman di dalam lemari pendingin lalu menutupnya kembali dan mengambil gelas yang ada di atas kabinet dapur. Karena jaraknya yang cukup tinggi membuat Emilia kesulitan.


Tiba-tiba sebuah kehangatan menjalar ke punggungnya. Pria itu berdiri di belakangnya dan mengambilkan gelas untuknya. Punggung tangannya bersentuhan dengan tangan Julian yang berurat dan kokoh. Emilia pun menelan air liurnya dengan susah payah.


"Te-terima kasih," Jawab Emilia setelah Julian meletakkan dua gelas di atas meja.


"Tuangkan untuk aku satu gelas."


"Iya," Emilia menuangkan ke dalam dua gelas kosong itu air dingin dari botol yang dipegangnya.


"Apakah kamu lapar?" Ucapan Julian yang tiba-tiba membuat Emilia bengong.

__ADS_1


"Apa? Bukankah kita sudah makan di dalam mobil tadi?" Jawab Emilia setelah mengisi gelas kosong itu sampai agak penuh.


"Aku masih lapar." Jawab Julian. Dengan kepalanya dimiringkan dengan ditopang satu kepalan tangannya, sikap Julian seperti seorang pria yang sedang menatap seorang wanita dari ujung kepala sampai ujung kaki secara intensif. Rambut Emilia yang setengah basah itu dibiarkan terurai karena Emilia tidak suka menggunakan hair dryer di malam hari. Dia ingin rambutnya kering alami, kecuali pagi hari saat akan berangkat bekerja.


"Kamu mau makan apa? Biar aku lihat di dalam kulkas ada bahan apa." Emilia beranjak menuju ke kulkas, meninggalkan pria yang sedang duduk di belakangnya yang mengamatinya tanpa berkedip. Ingin rasanya Emilia segera kembali ke kamar karena udara di dalam dapur ini tiba-tiba menjadi begitu menyesakkan baginya.


"Aku ingin memakan kamu, apakah boleh?" Jantung Emilia terasa berhenti berdetak ketika ucapan itu terdengar di telinganya sangat dekat, bahkan napas Julian pun membuat tengkuk lehernya merinding. "Kenapa kamu tidak menjawab? Katakanlah kalau kamu menolaknya. Ini malam pertama kita sebagai sepasang suami istri. Tidakkah kamu ingat?" Suara Julian yang berbisik di telinga Emilia, seolah sedang menggodanya untuk meluruhkan pertahanannya yang selama ini dijaganya rapat-rapat.


"Aku …" Emilia menggigit bibirnya gemetar. "Bukankah memang seharusnya aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri dengan baik? Kita sudah menikah jadi sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk menolaknya. Tapi …" Emilia bergulat dengan pikirannya sendiri. Pernikahan mereka memang hanyalah sebuah status di atas kertas. Emilia berencana hanya akan memberikan tubuhnya untuk sang suami kelak. Tapi, bukankah saat ini Julian suaminya?


Julian menyibak helaian rambut yang jatuh di pipi Emilia dengan penuh kelembutan. Jantung Emilia seperti berlari kencang. Dia tidak bisa menolaknya karena … Julian telah membebaskannya dari hutang dengan memberi lima ratus juta pada keluarga Roy. Lalu, apakah dia tidak memberikan imbalan padanya?


"A-aku …" Bibir Emilia bergetar tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah pengalaman pertamanya berdekatan dengan seorang pria sedekat ini. Bahkan Emilia pun tidak memberi kesempatan kepada Roy untuk memegang tangannya, apalagi menciumi wajahnya. Mungkin karena itulah pria itu berselingkuh dengan wanita lain di belakangnya. Hasrat seorang pria normal yang sangat menggebu-gebu harus dipatahkan dengan penolakan dari seorang wanita yang hanya mau menyerahkan dirinya kalau sudah resmi menikah.


Emilia memejamkan matanya karena tidak sanggup untuk melihat wajah Julian yang hampir tidak berjarak dari wajahnya.

__ADS_1


"Bukalah kedua mata kamu, istriku. Aku ingin kamu melihat dengan jelas wajah pria yang telah menjadi suami kamu ini." Suara Julian yang berat dan rendah, menyapu wajah Emilia dengan deru napasnya yang juga sama kencangnya.


"I-iya," Jawab Emilia dengan dada naik turun.


"Mungkin kamu tidak tahu kalau ini juga pengalaman pertamaku. Aku tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun. Apakah aku boleh meminta hakku mulai malam ini?" Pertanyaan Julian bagaikan peluru yang langsung menembus jantung Emilia. Tubuh wanita itu membeku seketika. Tidak tahu harus menjawab apa. Emilia mengangguk pelan.


Desir angin yang menyapu pohon dan dedaunan di luar menjadi saksi atas penyatuan sepasang suami istri yang menikah atas dasar kontrak demi kebaikan bersama.


Tidak ada yang mengetahui apakah cinta akan tumbuh diantara mereka berdua seiring berjalannya waktu. Namun, takdir selalu berjalan pada diri manusia dan telah ditetapkan sejak ditiupkan ruh ke dalam janin.


Emilia yang mengalami kehidupan menyedihkan di kehidupan pertamanya, membuatnya tidak mudah percaya pada semua orang. Dulu dia terlalu percaya dan baik pada semua orang sehingga dengan mudah dikelabui oleh orang yang tidak baik. Netta, sepupunya sendiri, berani berselingkuh dengan calon suami Emilia yang jelas-jelas sepupunya sendiri.


Hidup di masa itu mengajarkan padanya untuk lebih berhati-hati pada semua orang. Julian yang datang menawarkan hatinya, tidak serta merta diterima Emilia begitu saja. Emilia sudah tidak mudah percaya lagi pada manusia berjenis kelamin pria. Baginya pria hanya ingin mempermainkan hatinya. Hati yang pasti dia berikan seluruhnya jika dia sudah terikat.


Julian yang sejak dulu menyukai Emilia diam-diam, tidak berani menunjukkan taringnya karena dia terlambat mengenal Emilia. Wanita yang masuk ke dalam mimpinya saat tidur malam itu sudah bertunangan dengan pria pilihan sang wanita. Cukuplah baginya menatap karyawan teladannya itu dari kejauhan. Setiap pagi adalah saat-saat yang ditunggu Julian.

__ADS_1


Emilia akan datang lebih dulu dari karyawan lainnya dan wanita itu pun akan pulang paling terakhir. Mungkin Emilia tidak pernah menyadari betapa Julian sangat memperhatikannya karena mata Emilia sudah tertutup dengan rencana pernikahannya dengan calon suaminya. Namun Julian tidak pernah terbersit dalam pikirannya untuk merebut milik orang lain.


Barulah setelah dia mengetahui kalau Emilia sudah putus dengan tunangannya, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia pun segera mendekati Emilia dan bahkan langsung melamarnya. Pria itu tidak ingin dilangkahi oleh orang lain lagi. Sebelum terlambat, Emilia harus menjadi istrinya, bukan lagi hanya sebagai kekasih. Istri yang akan menemaninya di dunia nyata, bukan hanya dalam mimpi.


__ADS_2