
Setelah menjalani berbagai proses pendaftaran administrasi dan lain sebagainya. Emilia dan suami akhirnya memasuki ruang praktek seorang dokter kandungan yang memiliki banyak pasien tetap dan terkenal bahkan dari luar kota. Seorang dokter pria yang masih cukup muda, mungkin seumuran dengan Julian dan itu yang langsung membuat Julian mengerutkan dahi dan memasang wajah tidak suka sejak memasuki ruangan tersebut.
Julian menarik lengan istrinya sejenak untuk menjauh dari dokter yang sedang berbincang dengan koasnya itu.
“Kenapa kamu tidak mendaftar ke dokter wanita saja?” Bisik Julian pada Emilia dengan suara yang sangat rendah. Emilia menatap wajah pria yang tampak jelas tidak suka dengan dokter yang memang tidak bisa dipilih itu. Emilia melepaskan tangan Julian tanpa menjawab pertanyaan yang sangat konyol didengarnya.
“Selamat pagi, dok.” Sapa Emilia dengan senyum keramahan seorang pasien pada dokter.
“Selamat pagi, bu. Ada keluhan apa yang bisa saya bantu?” Dokter muda itu membalas keramahan Emilia dengan senyum yang biasa dia berikan pada semua orang, terutama pasien-pasiennya.
“Begini dok, saya … sudah dua minggu lebih tidak datang bulan.” Tepat di akhir kalimat ini, Julian memalingkan wajahnya menatap sang istri dengan mata terbelalak. Dia baru tersadar kalau selama ini intensitas hubungan intim dengan Emilia belum dijeda oleh tamu yang biasa datang untuk para wanita. Di awal pernikahan mereka, Emilia sempat datang bulan selama lima hari dan sejak itu sampai sekarang, dia tidak pernah libur satu hari pun berhubungan intim dengan sang istri, kecuali saat dirinya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Atau, jangan-jangan …
“Kalau masih telat dua minggu, ibu bisa menggunakan testpack terlebih dahulu. Karena untuk dilakukan USG, telat datang bulannya minimal lima sampai enam minggu.” Ujar dokter muda tersebut memberikan penjelasan dengan sangat ramah dan mudah dicerna. Julian hanya diam mendengarkan percakapan antara istrinya dengan dokter kandungan. Dia akan bertanya pada Emilia nanti setelah keluar dari ruangan praktek dokter.
“Kalau itu, saya sudah melakukannya dok.” Ucap Emilia malu-malu seraya menatap mata Julian yang terlihat jelas penasaran.
“Apa ibu membawa hasil testpacknya?” Emilia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan terlihatlah sebuah kotak merah dari bahan beludru yang sangat cantik.
__ADS_1
“Sebentar-sebentar. Sayang, bolehkah aku melihat lebih dulu isinya?” Reaksi yang diberikan Julian membuat Emilia tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata. Dengan anggukan lemah, Emilia memberikan kotak tersebut pada sang suami, disaksikan oleh dokter dan dua koasnya.
Tangan Julian bergetar menerima kotak yang entah apa isinya apakah akan membuatnya senang atau sebaliknya. Kotak ini seharusnya diberikan padanya tadi pagi namun Emilia memilih untuk ke rumah sakit dengan alasan pemeriksaan lebih detail.
Semua orang menghela napas melihat momen Julian hendak membuka kotak yang tidak dikunci itu. Setelah tutupnya terbuka lebar, tampaklah tiga buah benda warna putih pipih panjang berukuran kecil dengan dua garis di masing-masing alatnya. Dokter dan dua koasnya saling bertatapan penuh senyuman berarti, Emilia tidak lepas menatap wajah Julian yang masih diam mematung seraya mengambil tiga benda itu dari dalam kotak.
“A-apa artinya ini?” Baru pertama kali dalam seumur hidupnya, lidahnya tidak bisa berkata-kata dengan lancar. Seolah ada batu yang mengganjal di bibirnya dan menghalanginya untuk berkata dengan lancar. Julian menyerahkan kotak itu pada dokter yang semula ditentangnya. Dokter yang sudah melihat isinya dari kejauhan, tersenyum lebar dan berkata,
“Ini masih pemeriksaan awal. Dan, untuk lebih jelasnya, kami akan melakukan tes terlebih dahulu. Namun sebelumnya saya akan ucapkan, selamat untuk anda berdua yang sepertinya akan menjadi orangtua dalam waktu Sembilan bulan ke depan.” Jawab dokter tersebut dengan senyum sumringahnya.
Setelah berada di luar ruangan praktek, Julian masih tidak bisa berkata-kata. Pikirannya menjadi kosong dan mulutnya seoalh-olah terkunci. Emilia yang melihat reaksi Julian merasa kalau pria itu tidak menginginkan seorang anak hadir di pernikahan yang direncanakan ini. Julian pasti sangat kecewa karena pernikahan mereka harus diwarnai dengan hadirnya sang buah hati.
“Anak. Kita akan memiliki anak. Benarkah itu?” Julian menatap Emilia dengan senyum dan tatapan seolah ingin menangis. Emilia mengangguk pelan dan bingung. Tatapan macam apa itu? Kenapa sepasang mata pria ini berbinar-binar?
“Emilia, sayangku, I love you. I love you so much.” Julian memeluk tubuh Emilia dengan erat dan mencium wajahnya bertubi-tubi tidak peduli banyak orang yang berjalan hilir mudik di sekitar mereka.
“Julian, hentikan. Apa yang kamu lakukan? Disini banyak orang yang lewat dan melihat kita.” Emilia berusaha memberontak dan merenggangkan pelukan namun Julian semakin erat dan malah mengangkat tubuh Emilia dan memutarkannya berkeliling seperti komedi putar. “Julian, aku pusing, hentikan.”
__ADS_1
“AKU AKAN PUNYA ANAK! AKU AKAN PUNYA ANAK!” Suaranya yang berat dan lantang terdengar menggelegar di lorong rumah sakit yang cukup ramai. Sehingga semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan beraneka macam. Namun kebanyakan mereka menatap haru dan ikut bahagia dengan apa yang dikatakan Julian. Emilia tidak kuasa untuk tidak menangis bahagia. Dia menyangka kalau Julian tidak suka dengan kehamilannya. Tapi ternyata, pria ini justru sangat gembira dan bahagia bukan kepalang.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya dari rumah? Kenapa harus kesini?” Tanya Julian setelah berteriak yang sempat menggegerkan rumah sakit.
“Aku akan mengatakannya tapi kamu bilang kamu harus segera ke kantor setelah menerima telpon dari Edwin.” Bibir Emilia merengut mengingat peristiwa tadi pagi yang seharusnya jadi momen bahagia berdua dan kejutan manis di pagi hari.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kejutan pagi ini akan seperti ini.”
“Kalau dikasih tahu ya namanya bukan kejutan dong. Julian, apa kamu senang kita akan memiliki anak?” Emilia mengusap perutnya yang masih rata dan melihatnya dengan penuh cinta kasih.
“Aku bukan hanya senang, tapi aku sangat senang. Sejatinya sebuah pernikahan memang mendambakan seorang anak, bukan? Oh bukan, bukan hanya seorang anak tapi …” Kerlingan nakal mata Julian membuat Emilia penasaran.
“Tapi apa?”
“Tapi … aku ingin kita punya banyak anak. Minimal lima anak.”
“APA? Kamu menyuruhku untuk hamil terus-terusan?” Emilia menggelengkan kepala tidak percaya dengan yang didengarnya. Pria ini ternyata lebih menyeramkan dari perkiraan sebelumnya.
__ADS_1
“Aku hanya anak satu-satunya, kamu juga kan? Aku tidak pernah merasakan rumah ramai dengan banyak saudara. Aku ingin anak kita tidak sepi sendirian. Aku ingin rumah yang ramai dengan banyak anak dan suara-suara kecil mereka yang memenuhi seluruh isi rumah.” Ucap Julian dengan sorot mata berbinar-binar.