If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
44. Memangnya Siapa Yang Mau Melamar Kamu?


__ADS_3

Julian memeluk papinya erat. Baru kali ini dia merasakan kebanggaan menjadi seorang anak dari keluarga Miller. Selama ini dia hanya melakukan yang terbaik yang dia bisa, hingga mengabaikan pergaulan dengan teman-temannya yang sering berkumpul di klab malam sampai dini hari. Julian lebih senang menghabiskan waktunya dengan menenggelamkan dirinya bersama tumpukan buku ekonomi dan ilmiah. Tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya ketika telah berhasil mempraktekkan apa yang telah dipelajarinya dari buku dan sekolah.


"Terima kasih, pi. Aku sangat menghargainya." Julian dan Robby keluar dari ruangan baca dengan membawa kesepakatan tak tersurat yang terjadi antara ayah dan anak.


"Kalian sudah selesai berbicara? Tampaknya kita tidak perlu repot-repot ke rumah keluarga Moretti karena … Selena ada di ruang tamu." Caitlyn tersenyum lirih kepada dua lelaki yang baru saja keluar dari ruang baca. Baik Robby maupun Julian mengernyitkan dahi. Mereka tidak menyangka kalau kepulangan Julian langsung terdengar oleh perempuan berambut pirang itu.


"Apa mami bilang saja kalau kamu masih sibuk?" Jarak antara ruang baca dan ruang tamu cukup jauh sehingga pembicaraan mereka tentu saja tidak akan terdengar oleh perempuan yang sedang duduk dengan anggunnya di sofa panjang ruang tamu.


"Tidak usah, mi. Aku harus menentukan sikap padanya secepatnya." Julian berjalan melewati maminya dan meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terheran-heran.


"Julian, lama tidak berjumpa. Aku senang sekali akhirnya kita bisa berjumpa kembali setelah sekian lama." Perempuan bernama Selena langsung berdiri dengan senyum sumringah karena bertemu kembali dengan kekasih hatinya sejak mereka masih kecil. Julian menolak pelukan dan ciuman yang akan diberikan Selena dengan menyuruh Selena duduk langsung begitu Julian sampai.


Perubahan wajah Selena yang bingung terlihat jelas. Memang sejak mereka masih anak-anak, Julian tidak pernah menunjukkan rasa suka padanya namun sekarang mereka sudah dewasa dan Selena pun sudah tumbuh menjadi perempuan cantik, seksi, dan mengundang decak kagum kaum adam.


"Sepertinya berita kedatanganku cepat sekali sampai di telinga kamu." Ucap Julian dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali. Sebaliknya, Selena justru menebarkan senyum manjanya dan lirikan mata yang membuat semua pria pasti bertekuk lutut di hadapannya. Namun, itu tidak berlaku pada Julian. Di mata Julian sudah tidak ada lagi perempuan yang menarik hatinya untuk dijadikan pasangan hidup. Baginya, Emilia sudah memenuhi seluruh ruang di dalam hatinya dan tidak akan pernah tergantikan dengan siapapun.


"Kamu tahu betul kalau tidak ada yang bisa terlewat dari pendengaranku. Berapa lama kali ini kamu akan disini? Satu bulan? Satu tahun? Atau selamanya?" Suara Selena yang mendesah mendayu membuat Julian ingin rasanya segera pergi dari ruangan ini.


"Besok aku akan kembali ke Jakarta." Jawab Julian dengan tegas.


"APA? Kenapa secepat itu? Papi dan mamiku sedang ada di luar kota sampai bulan depan." Ucap Selena dengan wajah penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Apa hubungannya dengan mereka?" Tanya Julian lagi.


"Tentu saja ada. Aku ingin mereka hadir saat kamu melamar aku." Jawab Selena penuh percaya diri.


"Melamar kamu? Memangnya siapa yang mau melamar kamu?" Tanya Julian balik, dengan dahi berkerut.


Mendengar jawaban sang pria, Selena menjadi semakin tidak mengerti.


"Bukankah kamu datang kembali untuk melamar aku?" Tanya Selena dengan wajah merah padam.


"Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Aku tidak pernah menjanjikan pernikahan, dari dulu sampai sekarang. Dan, aku yakin betul kalau aku tidak pernah menyatakan perasaanku padamu. Betul bukan?" Tanya Julian lagi. Dahi Selena berkernyit, rahangnya mengeras, dan giginya bergemeretak.


"Julian, ini tidak lucu sama sekali."


"Julian, aku bisa menyembuhkan penyakit kamu. Aku bisa membuat kamu kembali menjadi seorang pria sejati." Perkataan Selena membuat kedua mata Julian terbelalak lebar. Lagi-lagi semua kesalahpahaman ini tidak akan selesai kalau dia tidak membuat batasan jelas.


"Maaf  tapi aku tidak tertarik."


"JULIAN! JULIAN!" Suara Selena yang cukup kencang menggema, bahkan sampai di luar ruangan baca tempat Robby dan Caitlyn menguping pembicaraan dua anak muda yang ada di ruang tamunya. Julian tidak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


"Selena, maafkan Julian. Dia masih butuh banyak istirahat karena baru sampai." Caitlyn terpaksa keluar dari persembunyiannya karena melihat suasana yang sudah tidak kondusif lagi. Anaknya benar-benar tidak peduli dengan perasaan Selena yang jauh-jauh datang untuk menemuinya.

__ADS_1


"Tante, aku …"


"Lebih baik kamu pulang dulu ya sayang. Kami akan berbicara lagi dengan Julian. Mungkin nanti setelah beristirahat, tenaga dan pikirannya akan pulih dan segar kembali. Dan saat itu, dia akan lebih mudah untuk diajak bicara." Lagi-lagi Caitlyn memberi harapan semu pada perempuan yang merupakan anak dari rekanan bisnis suaminya.


"Iya tante. Kalau begitu, aku pulang dulu sekarang." Selena tersenyum getir dan meninggalkan kediaman Robby Anggara dengan membawa luka hati yang teramat perih.


Setelah sekian lama dia menunggu Julian, bukan sambutan hangat yang dia terima, tapi justru perlakuan dingin Julian yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang.


—--


Emilia yang baru kembali dari makan siang, dikejutkan dengan berita kecelakaan yang menimpa sahabatnya, Sophia, saat sahabatnya itu sedang menyeberang jalan dari restoran menuju parkiran mobil yang ada di seberang restoran. Berita mengejutkan itu dia terima dari sesama rekan kerjanya di kantor. Emilia pun langsung menuju rumah sakit tempat Sophia dilarikan untuk mendapatkan perawatan intensif.


"Sophia, astaga apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa tertabrak?" Emilia bisa bernapas lega karena ternyata Sophia tidak mengalami cidera serius. Hanya telapak kakinya yang mendapatkan balutan perban dan dia pun harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu agar luka di telapak kakinya tidak mendapatkan tekanan berat.


"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja sebuah mobil menabrakku dari arah belakang. Aku yakin betul kalau tidak ada mobil yang datang mendekat. Beruntung, ada yang menarikku dan membawaku ke pinggir jalan sehingga aku selamat dari luka parah." Jawab Sophia dengan seringai senyum yang dipaksakan.


"Siapa? Dimana orang yang menyelamatkan kamu itu?" Emilia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yang dia lihat hanyalah beberapa perawat dan dokter yang sedang melakukan tugasnya. Dan, beberapa pasien tentu saja yang sedang mendapatkan pengobatan.


"Dia sedang mengurus obat-obat di apotik untuk rawat jalanku." Sophia tersenyum lirih.


"Siapa dia?" Tanya Emilia lagi.

__ADS_1


"Itu, orangnya sedang berjalan ke arah sini." Sophia menunjuk dengan menaikkan alis matanya.


__ADS_2