
"Serius? Kapan? Kok dia tidak bilang ke aku?" Sophia tidak percaya dengan yang didengarnya. Namun, Edwin hanya bisa mengangkat kedua bahunya seolah berkata, 'mana aku tahu'.
"Okay, aku akan ambil pakaianku dulu. Kamu tunggu disini saja. Kaki kamu masih sakit jadi jangan jalan jauh." Edwin keluar dari mobil dan berjalan sendiri menuju pos penjagaan yang jaraknya cukup dekat dari mobil Sophia yang terparkir di pinggir jalan.
"Cih, dia mulai berani memerintahku. Atau, selama ini dia suka memerintah aku tapi aku yang tidak sadar?" Sophia memiringkan dagunya.
Namun, Sophia tetap patuh berada di dalam mobil karena kondisi kakinya yang memang masih belum bisa berjalan jauh. Sebenarnya Edwin juga melarang Sophia untuk mengantarkannya ke pos. Edwin bisa menggunakan ojek untuk mengambil pakaian kotornya dan dibawa ke laundry. Motor yang biasa dia gunakan tiba-tiba tidak mau jalan setelah distarter berkali-kali. Sekarang motor itu masih berada di dalam garasi Sophia.
Sophia memaksa untuk ikut mengantarkan tapi dengan Edwin yang menyetir, dengan alasan biar bisa cepat sampai tujuan.
"Oke, sekarang kita menuju laundry. Mumpung masih sore jadi pasti masih buka laundry langgananku." Ujar Edwin setelah meletakkan tas berisi seragam kotor dan lain sebagainya di bagasi. Sophia hanya tersenyum dan mengangguk.
Mobil pun berjalan kembali menuju laundry yang menurut Edwin hanya dua ratus meter jauhnya dari pos dan masih dalam lingkungan komplek perumahan juga cuma di luar cluster.
Edwin kembali menurunkan tas berisi pakaian kotornya dan Sophia kembali menunggu di dalam mobil. Sophia bisa melihat apa saja yang dilakukan Edwin saat serah terima barang. Namun yang membuat matanya menyipit adalah seorang perempuan yang diduga karyawan laundry menerima pakaian dari Edwin dengan gesture terlihat genit dan curi-curi perhatian. Edwin hanya menanggapi seperlunya tapi tidak perempuan itu yang terus menerus mencoba mengajak Edwin berbicara intens.
"Sudah. Ayo kita kembali ke rumah kamu, sebelum langit jadi gelap." Edwin melihat langit yang sudah menjelang malam dan dia tidak ingin berlama-lama di jalan agar Sophia bisa lekas beristirahat. "Maaf ya, kamu jadi ikut kesana kemari." Ujar Edwin sesaat mobil mulai melaju hampir memasuki pintu tol.
"Kan aku yang minta. Daripada kamu naik ojek kesana kemari butuh waktu lebih lama. Oya, perempuan tadi itu siapa?" Sophia menatap lurus ke depan karena tidak berani melihat wajah Edwin lama-lama.
__ADS_1
"Perempuan? Perempuan yang mana?" Edwin melirik Sophia sesaat sebelum fokusnya kembali ke depan.
"Itu … yang di laundry." Sophia bertanya malu-malu bercampur was-was.
"Ahhh, itu Ana. Dia anak dari pemilik laundry." Edwin tersenyum sumringah sambil menatap wanita yang masih enggan untuk melihat ke arahnya. "Kenapa? Apa kamu mengenalnya?"
"Tidak." Jawab Sophia singkat. "Tampaknya kalian sangat akrab."
Edwin mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan ini.
"Ya bisa dibilang begitu. Karena setiap aku mengantar dan jemput laundry, dia pasti ada. Terkadang malah dia mengantarkan laundry ke pos." Jawab Edwin santai. Sambil sesekali matanya melirik ke kaca spion tengah dan luar.
Edwin semakin tidak mengerti arah pembicaraan yang diucapkan Sophia. Namun dia memilih untuk menunda pertanyaan yang mengganjal sampai nanti di rumah Sophia saja, karena konsentrasinya masih pada jalanan yang cukup lengang sehingga dia bisa melajun dengan kecepatan cukup tinggi. Sebaliknya, Sophia mengira diamnya Edwin adalah pria itu membenarkan semua praduga Sophia dan itu membuatnya semakin kesal.
Setelah perjalanan yang memakan waktu kurang dari satu jam itu, akhirnya mobil mereka tiba di depan rumah Sophia. Mobil pun berhasil terparkir kembali di dalam garasi dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat sepuluh menit.
"Kamu mau langsung pulang atau mau minum kopi dulu? Aku tidak punya makanan untuk ditawarkan." Ujar Sophia setelah dirinya keluar dari mobil dan masuk ke dapur yang pintu garasi terhubung langsung ke dapur.
"Kamu mau aku buatkan makan malam dulu sebelum aku pulang?" Edwin menawarkan diri sebelum dia mengenakan jaket kulitnya yang tergantung di hanger garasi.
__ADS_1
"Tidak, tidak usah, terima kasih. Aku bisa memasak sendiri." Sophia berjalan sangat hati-hati sambil mengenakan satu tongkat yang berada di tangan kanannya. Nahas, dia tidak melihat pijakan dari dapur menuju ruang tengah sehingga dia hampir terjatuh ke atas lantai kalau Edwin tidak sigap menangkapnya.
"Aaahhhh,"
Sepasang mata Edwin dan Sophia saling menatap dari jarak sangat dekat. Bahkan hembusan napas dari hidung mereka pun terasa jelas di wajah masing-masing. Satu tangan Edwin memegang perut Sophia yang hampir terjerembab ke depan. Sedangkan tangan kirinya mendekap punggung sang wanita pemilik rumah. Cukup lama mereka saling menatap hingga akhirnya keduanya tersadar dan mengalihkan wajah mereka ke arah lain.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?" Tanya Edwin sambil membantu Sophia untuk kembali berdiri tegak.
"Aku yang terima kasih karena kamu menolong aku yang hampir mematahkan kakiku kembali." Sophia mencoba berdiri tegak kembali dengan wajah merona merah menahan malu yang teramat sangat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya dan dia berharap Edwin tidak mendengarnya.
"Syukurlah," Perlahan Edwin membantu Sophia dengan memapahnya jalan menuju kursi di ruang tengah. Setelah berhasil membuat Sophia duduk, pria itu menyalakan beberapa lampu penting di dalam rumah. Dia pun kembali di hadapan Sophia tapi kali ini dengan duduk berlutut di hadapan wanita yang langsung melotot kaget bukan main melihat pria ini duduk di depannya sambil berlutut dan satu tangannya berada di atas pangkuan Sophia. Sekujur kulit Sophia meremang merasakan ada tubuh lain meskipun hanya tangan menempel di atas pahanya.
"Haruskah aku pulang? Kamu terlihat jelas belum bisa bergerak bebas dan melakukan kegiatan normal lainnya." Edwin menatap mata Sophia lekat-lekat. Sebaliknya, Sophia menundukkan wajahnya demi menghindari tatapan Edwin yang mampu menembus jantungnya.
"Hmm, i-itu terserah kamu." Sophia menggigit bibirnya mencoba menahan kencangnya degupan jantung yang bertalu-talu seperti hendak berlari. Edwin tersenyum tipis melihat betapa wanita di hadapannya ini sedang mencoba menghindari tatapan matanya dan berkata setenang mungkin.
Edwin memberanikan dirinya memegang dagu wanita yang membuatnya hampir roboh pertahanan dirinya. Sophia tersentak kaget merasakan dua jari Edwin yang lebar dan hangat menekan pelan dagunya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi, sepertinya aku sudah tidak bisa menahan lagi rasa ini." Secara tiba-tiba Edwin memajukan tubuhnya dan mencium tipis bibir Sophia yang sangat membuatnya tergila-gila sejak tadi. Sophia tidak menyangkalnya karena hati kecilnya juga menginginkan sentuhan dari Edwin.
__ADS_1