
"Julian, please. Kamu jangan terpancing emosi. Kita pergi dari sini, okay?" Emilia menggandeng keras lengan sang suami dan menatapnya penuh harap agar Julian tidak mendengarkan omongan lelaki sampah macam Roy.
"Dengar, aku membebaskan kamu hari ini, tapi tidak lain kali. Kalau sampai aku melihat kamu lagi berkeliaran di samping Emilia dan menyakitinya, aku tidak segan-segan akan mematahkan batang lehermu. Ingat itu!" Julian mendekap pinggang Emilia dan membawanya meninggalkan tempat yang sudah menebarkan udara tidak sehat tersebut.
Emilia menurut saja kemana tubuhnya didekap.sang suami. Dan, itu ternyata ke parkiran mobil. Julian menekan kunci pengaman dan membuka pintu untuk sang istri di kursi penumpang belakang.
"Kenapa di belakang?" Tanya Emilia dengan wajah heran. Namun, Julian tidak menjawabnya. Rahang pria itu terlihat mengeras beberapa kali sehingga Emilia tidak bertanya lebih banyak lagi.
"Coba lihat lagi lengan kamu. Suatu saat aku akan membunuh lelaki itu. Lihat saja nanti!" Julian mengambil kotak P3K yang ada di bagian belakang kursi. Emilia tidak menyangka selama ini ada kotak penyimpanan khusus di kursi bagian belakang. Dengan penuh kelembutan, Julian menyemprot lengan istrinya yang memerah. Spontan kulit Emilia terasa dingin dan sejuk namun rasa perih sedikit terasa beberapa lama kemudian. Goresan kuku Roy tampak sedikit menusuk kulit lengan Emilia dan warna merah itu terlihat jelas di kulit putih mulusnya.
Emilia hanya bisa diam, tidak ingin banyak berkata-kata karena khawatir akan membuat sang suami semakin marah dan kesal.
"Hmm tadi itu … aku … minta maaf karena … sudah bersembunyi dari kamu." Ada nada ragu dan takut-takut di ucapan Emilia saat mengakui perbuatannya yang kekanak-kanakan. Namun dia melakukannya karena memang dia tidak ingin ketahuan oleh orang lain tentang hubungan mereka berdua.
"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu takut kalau orang-orang tahu kita ini sepasang suami istri? Sebegitu enggannya kah kamu menikah denganku?" Julian mengeraskan rahangnya namun jari jemarinya masih tetap telaten merawat luka di pergelangan lengan Emilia, istri yang juga cinta pertamanya itu
"Julian," Pernikahan yang hanya akan berakhir dalam waktu sebelas bulan lagi ini adalah rahasia dan Emilia tidak merasa harus membukanya ke umum. Dia tidak ingin saat perceraian itu terjadi, dia akan menjadi pihak yang dirugikan. Dia tidak ingin dicemooh orang-orang menikahi Julian hanya karena status sosial dan harta kekayaan Julian saja.
"Katakanlah, apakah kamu menganggap aku sebagai suami kamu atau disini hanya aku yang merasa kalau aku sudah menikah?" Pertanyaan Julian bagaikan petir di siang bolong. Siapa yang tidak ingin bersuamikan seorang Julian Miller. Tapi, pernikahan mereka bukanlah pernikahan seperti pasangan suami istri biasanya. Mereka berdua menikah atas asas saling menguntungkan dan ada batas waktunya. Apakah seperti ini bisa disebut pernikahan?
__ADS_1
"Maafkan aku, Julian. Aku … tidak bermaksud melakukan itu. Aku hanya … merasa kalau … pernikahan kita itu kan hanyalah sementara. Jadi, aku masih ingin bisa menyapa kamu dengan baik jika suatu saat kita telah bercerai dan bertemu lagi di jalan." Emilia terus menunduk sambil mengucapkan kata-kata yang menyesakkan tenggorokan dan dadanya.
"Malam-malam yang kita lalui, apakah kamu akan melupakannya begitu saja?" Tanya Julian lagi. Sorot matanya menatap tajam perempuan yang menundukkan kepalanya sejak tadi. Emilia diam tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggigit bibirnya bilamana bibirnya terkunci rapat tidak bisa berbicara. "Emilia, bagaimana kalau aku menginginkan pernikahan ini untuk selamanya? Aku akan menggelar pesta pernikahan mewah kapanpun kamu inginkan." Julian menggenggam tangan Emilia seraya menatap penuh cinta pada wanita yang sudah mengisi hari-harinya dengan penuh warna kehidupan.
Ucapan Julian lagi-lagi membuat bola mata Emilia melotot lebar dan bibirnya menganga antara kebingungan dan tidak yakin dengan yang didengarnya.
"Apa maksud kamu? Kamu sendiri yang meminta batas waktu pernikahan ini. Aku hanya mengikuti kemauan kamu." Jawab Emilia lagi.
"Kalau begitu, aku menarik kembali ucapanku. Kita akan menikah untuk selamanya, tanpa ada perceraian." Bibir Julian melengkungkan senyuman penuh kebahagiaan. Akhirnya, dia bisa mengatakan apa yang dia ingin katakan sejak lama.
"Bagaimana dengan surat perjanjian itu?"
"Aku menyimpannya di dalam koper." Jawab Emilia dengan nada pelan namun cukup terdengar oleh mereka berdua.
"Jadi, kita sepakat kalau pernikahan ini selamanya sampai maut memisahkan kita." Julian menarik lembut tengkuk leher sang istri dan menempelkan dahinya ke dahi Emilia. Jantung Emilia berdegup kencang dan napasnya mengalun tidak teratur naik turun, saat Julian perlahan menciumi seluruh wajah Emilia mulai dari kedua mata, pipi kanan dan kiri, hidung, dan berakhir di bibir.
"Julian, please jangan. Kita masih dii dalam mobil." Emilia mendorong pelan dada sang suami.
"Tenang saja, tidak akan ada yang bisa melihat kita dari luar. Aku sudah tidak tahan lagi, sayang." Perlahan namun pasti, Julian menciumi bibir Emilia dalam semakin dalam hingga Emilia kesulitan bernapas.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, mereka melakukannya di dalam mobil. Emilia menahan sebisa mungkin agar desahannya tidak terdengar keluar. Dia menutup mulutnya dengan kuat, setiap saat Julian menghujamkan senjatanya berulang-ulang dengan kekuatan penuh. Meski dalam posisi duduk diatas pangkuan Julian dan saling berhadapan, Julian dan Emilia benar-benar menikmati waktu intim mereka meski dengan rasa was-was karena mobil mereka bersebelahan dengan banyak mobil lainnya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel dan melanjutkan bulan madu yang tidak direncanakan ini dengan lebih baik berada di dalam kamar saja berdua.
***
"Jadi, ini tempat kerja kamu?" Sophia sempat dibuat melongo dengan perumahan yang ditunjukkan Edwin dan diklaim sebagai tempat kerjanya.
"Iya ini tempat aku bekerja. Kenapa? Apa kamu pernah kesini?" Edwin dan Sophia yang menggunakan mobil Sophia yang dikendarai Edwin, bermaksud pergi ke pos komplek perumahan untuk mengambil baju ganti Edwin di pos yang akan dibawa ke laundry.
"Tentu saja. Ini kan perumahan tempat temanku tinggal. Tapi, aku sudah lama tidak ke rumahnya jadi aku tidak yakin apakah dia masih tinggal disana." Sophia memiringkan kepalanya sambil mengingat-ingat segala kemungkinan.
"Siapa nama teman kamu? Pasti aku tahu dan pernah melihat wajahnya."
"Namanya Emilia Lavanya. Dia tinggal berdua saja bersama neneknya." Jawab Sophia yang masih berada di dalam mobil bersama Edwin.
"Emilia Lavanya? Kalau tidak salah, rumah itu kosong sudah ditinggal penghuninya." Jawab Edwin.
"Serius? Kapan? Kok dia tidak bilang ke aku?" Sophia tidak percaya dengan yang didengarnya. Namun, Edwin hanya bisa mengangkat kedua bahunya seolah berkata, 'mana aku tahu'.
__ADS_1