
"Aku tidak tahu apa yang membuat kamu menangis. Kalau kamu sudah siap menceritakan padaku, aku akan siap mendengarkannya." Ujar Julian.
Tangisan Emilia semakin keras mendengar ucapan Julian yang membuat wanita itu semakin lemah dan merasa tidak berdaya.
Setelah beberapa saat, akhirnya tangisan Emilia mereda. Segala sesak di dada ditumpahkannya bersama pelukan Julian.
"Aku lapar. Ayo kita makan." Emilia menyuap makanan satu persatu ke dalam mulutnya. Julian hanya memperhatikan istrinya makan tanpa mengganggunya dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
"Aku memiliki kisah panjang dibalik hutang lima ratus juta. Apakah kamu mau mendengarkannya?" Tanya Emilia tiba-tiba setelah selesai makan dan membasuh tenggorokannya dengan segelas air minum dingin.
"Ceritakanlah! Malam ini akan sangat panjang dan aku akan mengisi waktuku dengan mendengarkan ceritamu." Ucap Julian. Emilia tersenyum tipis menimpali jawaban Julian. Senyuman yang sangat jarang dilihat Julian karena Emilia lebih sering menampakkan wajah cemberut, diam, atau tanpa ekspresi.
"Nenekku punya hutang sebanyak lima ratus juta pada keluarga Roy. Mungkin kamu sudah mengetahuinya meskipun sedikit info. Dan, papinya Roy bersedia untuk menghapus hutang itu asalkan aku mau menikah dengan anak mereka, Roy." Emilia berhenti berbicara sejenak, lalu menarik dan menghela napas panjang.
Julian masih sabar dan diam mendengarkan cerita istrinya. Dia menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih dahulu, sampai sang istri menyudahi ceritanya.
"Dan, aku menolak menikah dengan Roy karena …aku memergokinya sedang selingkuh dengan sepupuku dan … bahkan sepupuku itu sedang hamil anaknya. Oleh karena itu, aku memutuskan pertunangan dan aku mencari uang pelunasan hutang secepatnya, agar aku bisa bebas dari keluarga mereka." Ucap Emilia. Setelah beberapa saat, tampaknya Emilia sudah selesai bercerita.
"Dan, aku datang disaat yang tepat kamu membutuhkan uang itu." Jawab Julian lagi. Emilia mengangguk pelan dua kali. "Dan, kalau tidak ada aku yang akan melunasi hutang itu, kemana kamu akan mencari uangnya?" Pertanyaan Julian membuat Emilia menatapnya lekat-lekat.
"Entahlah," Jawab Emilia lirih. "Mungkin aku akan meminjam uang dari bank dengan menggadaikan barang apa saja yang aku miliki." Jawab Emilia lagi.
"Sekarang kamu sudah tidak perlu lagi meminjam uang ke bank. Tapi, kamu perlu membantuku." Ucap Julian, sambil berdiri lalu menatap ke langit dari balkon kamar apartemennya paling atas.
Emilia tahu kalau dia tidak mungkin meminjam tanpa pamrih.
"Tentu saja. Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Emilia. Dia tidak berani mendekati Julian karena wanita itu takut ketinggian.
"Minggu depan aku akan membawa kamu ke rumah ibuku."
__ADS_1
"Ah, kerumah ibu Julian?" Emilia bergumam dan suaranya yang nyaris rendah itu masih terdengar oleh Julian.
"Ya, sudah saatnya kita mengumumkan pernikahan ini pada keluargaku. Tapi aku jamin kalau status kita tidak akan bocor sampai kantor." Jawab Julian dengan wajah penuh percaya diri meyakinkan Emilia.
"Baiklah kalau begitu. Aku hanya tidak ingin dikenal menjadi janda dari pernikahan yang seumur jagung ini." Jawab Emilia dengan nada rendah.
Julian menatap nanar wanita yang sebenarnya rapuh itu dibalik penampilan luarnya yang berusaha tegar.
—--
"Selamat pagi,"
"Selamat pagi, bu Emilia," Sudah menjadi kebiasaan Emilia setiap pagi sampai kantor, dia akan menyapa semua karyawan yang dia temui. Semua rekan kerja dan anak buahnya menyukai Emilia yang sekarang, dibandingkan Emilia yang dulu, kaku dan sangat disiplin tanpa toleransi.
Emilia langsung menuju ruangan kerjanya dan mulai membuka laptop yang akan selalu menemaninya sejak jam kerja dimulai sampai jam kerja berakhir.
"Selamat pagi," Sapaan balik dari suara yang mulai tidak asing di telinga Emilia itu terdengar sangat jelas. Emilia spontan berdiri dan mengucapkan, "Selamat pagi, tuan."
"Pagi," Jawab Julian tanpa senyum.
Emilia dan Julian sudah membuat kesepakatan hitam di atas putih untuk tidak membongkar rahasia mereka di kantor. Emilia mengatupkan bibirnya dan tersenyum tipis. Pria yang kembali dingin itu, semalam telah membuatnya tidak bisa tidur hingga dini hari, dengan kegiatan yang menguras tenaga dan keringat.
"Lia, kamu kemarin ke kampung kenapa tidak ajak-ajak aku?" Sophia tiba-tiba muncul dan menyenggol lengan sang teman.
"Oh, aku mendadak pergi. Maaf ya, lain kali kita pergi bersama." Jawab Emilia sambil tersenyum lebar.
"Huuh, padahal aku juga akhir pekan kemarin tidak ada acara. Kalau tahu kamu pergi, aku pasti ikut." Jawab Sophia, wanita metropolitan yang menyukai kebebasan tanpa ikatan. Sehingga di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, tidak ada pria yang terlihat dekat dengannya.
"Bagaimana kalau makan siang kali ini aku yang traktir?" Emilia mengedipkan satu matanya pada teman wanitanya yang masih tampak kecewa dengan mengerutkan bibirnya.
__ADS_1
"Okay, terserah kamu saja. Oh iya, jam sepuluh nanti ada pertemuan dengan klien di Hotel Citra. Kamu jangan lupa ya." Jawab Sophia sambil mengedipkan satu mata kembali.
"Iya aku ingat. Nah, kamu nyusul saja ke Hotel Citra. Kita makan siang di sana. Pertemuan dengan klien paling hanya satu jam saja, tidak lebih." Jawab Emilia lagi.
"Sip lah kalau begitu." Senyum lebar langsung terlihat jelas di bibir wanita yang merupakan sahabat terbaik Emilia tersebut. Meskipun orang-orang sering salah mengartikan sikap Sophia yang cenderung pendiam dan tidak mau berteman dengan banyak orang.
Jam kerja pun dimulai. Semua orang mulai kembali ke mejanya masing-masing dan menenggelamkan diri mereka dalam tumpukan dokumen dan puluhan email yang masuk setiap paginya.
—--
"Netta, kapan kamu akan mengatur pertemuanku dengan Lia?" Roy menyingkir mencari tempat yang cukup sepi untuk melakukan panggilan pada wanita yang sering menjadi teman kencannya itu.
"Lusa ya, Roy. Hari ini dan besok aku ada urusan penting." Jawab wanita yang masih meringkuk di dalam selimut tebalnya, meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Huft, lama sekali. Urusan apa sih yang kamu miliki? Kamu juga bukan pekerja kantoran!" Ucap Roy sinis. Netta mengerutkan bibir dan memicingkan matanya.
"Pria ini kalau bukan karena uangnya, aku malas melayaninya. Mulutnya benar-benar sampah." Rutuk Netta dalam hati.
"Lusa atau tidak sama sekali." Jawab Netta sedikit kesal pada pria yang mengganggu tidurnya.
"Okay okay, pastikan lusa jangan mundur lagi. Satu minggu ini aku tidak keluar kota jadi aku ada waktu." Jawab Roy.
"Ih siapa yang tanya? Terus kalau kamu tidak keluar kota, kamu mau apa? Dasar pria manja!" Rutuk Netta lagi dalam hati.
"Ya," Jawab Netta singkat.
"Ya sudah, aku kembali kerja lagi. Tidur saja lagi kamu! Kerjanya cuma makan, tidur, shopping. Sungguh wanita pemalas!" Roy memaki Netta dan menutup telepon dengan meninggalkan amukan di dada Netta yang ingin berkata kasar pada pria yang sering menikmati tubuhnya itu.
"Dasar brengsek! Pergi saja kamu ke neraka!" Teriak Netta pada Roy setelah telpon dimatikan.
__ADS_1