
"Kamu tidak punya uang untuk naik taksi? Keluar dari mobilku atau supirku akan menyeretmu keluar!” Julian selesai mengirim pesan pada Emilia untuk menunggu di pintu keluar. Sementara, Roxanne tampak sangat kesal karena pria yang akan dijodohkan dengannya itu, masih saja tidak mempedulikan dirinya dan bersikap dingin tanpa sedikitpun keramahan.
"Julian, kenapa kamu masih begitu kasar padaku? Kita ini akan menikah segera jadi kita harus sering-sering bersama." Roxanne keluar dari mobil dengan wajah yang sangat kesal dan sinis.
"Aku tidak pernah setuju untuk menikah denganmu." Ucap Julian lagi.
"Atau, jangan-jangan apa yang dirumorkan itu benar?" Julian berhenti sejenak masuk ke dalam mobil saat mendengar ucapan Roxanne. Namun, pria itu tidak menjawab apapun dan mobilnya langsung melesat meninggalkan Roxanne yang terus berteriak memanggil namanya, sehingga memancing orang-orang sekitarnya untuk melihat ke arahnya.
Tepat di ujung belokan yang cukup jauh dari penglihatan Roxanne, Emilia berdiri menunggu pria yang mengatakan akan menjemputnya. Dan benar saja, sebuah mobil mewah warna hitam metalik muncul dan berhenti di hadapannya. Kaca jendela diturunkan dan terlihatlah wajah pria yang merupakan suami kontraknya, memanggilnya dengan kode alis diangkat.
Emilia menghela napas sejenak lalu bergegas masuk ke dalam mobil sebelum ada orang lain yang mengenal mereka melihat.
Tidak ada percakapan di dalam mobil sama sekali. Emilia tidak mau tahu karena dia merasa dia tidak perlu ikut campur urusan pribadi Julian. Lagi pula, dia bukanlah istri sesungguhnya. Hanya istri kontrak yang terikat karena hutang. Sedangkan, Julian menunggu Emilia untuk bertanya perihal Roxanne yang muncul tiba-tiba. Namun seperti dugaannya, wanita itu tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi baru saja.
Sesampainya di apartemen, Emilia langsung menuju kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Julian hanya bisa melihat sang istri berjalan meninggalkannya tanpa berkata apapun. Pria itu menyeringai kesal karena merasa diabaikan.
Tok tok tok!
"Emilia, buka pintunya." Julian tidak ingin berlarut-larut dalam keadaan salin diam seperti ini. Dia berinisiatif untuk mengambil langkah terlebih dahulu.
"Ada apa?" Emilia yang masih mengenakan pakaiannya lengkap itu, hanya membuka pintu seukuran tubuhnya.
"Kamu kenapa?"
"Aku kenapa?" Emilia bertanya balik seraya mengernyitkan alisnya.
"Dari tadi kamu diam saja. Kalau kamu ingin mengetahui sesuatu, bertanyalah. Aku tidak bisa membaca pikiranmu." Ucap Julian masih berdiri di luar kamar.
__ADS_1
"Tidak ada, bos. Aku tidak ingin mengetahui apapun. Aku hanya istri kontrak jadi aku tidak berhak ikut campur urusan pribadi bos." Emilia langsung menutup pintu kamar dan tidak memberi kesempatan pada Julian untuk menjawab kembali.
Tok tok tok!
" AKU LELAH! AKU MAU TIDUR!" Emilia berteriak hingga suaranya membuat Julian mendengus kesal dan menyeringai karena merasa tidak dianggap.
"BUKA PINTUNYA ATAU AKU AKAN DOBRAK!" Ucap Julian tidak mau kalah.
Emilia geram luar biasa dan berjalan dengan menghentakkan kakinya ke atas lantai lalu membuka pintu kembali.
"Ada apa, bos? Ada yang bisa aku bantu?" Emilia tersenyum dipaksakan dengan alis dinaikkan.
Julian mendorong pintu lebih kencang dan melangkah masuk ke dalam kamar terpisah milik sang istri.
"Apa yang kamu lakukan? Aku lelah, aku ingin istirahat."
"Urusan apa? Aku tidak merasa ada pending urusan." Jawab Emilia sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Wanita itu bernama Roxanne. Dia adalah calon istri yang dipaksakan oleh kedua orang tuaku untukku agar aku bisa terbebas dari rumor penyuka sesama jenis. Tapi, aku tidak pernah menaruh hati sama sekali pada wanita itu."
"Oya? Tapi kalau aku tidak salah ingat, kalian kan pernah satu kamar." Jawab Emilia dengan bibir merengut sinis.
Julian tersenyum tipis. Sesuai dugaannya, Emilia cemburu padanya namun tidak berani mengatakannya.
"Waktu itu dia melarikan diri dari rumah orangtuanya dan kabur ke hotel, tempat kita pernah bertemu. Roxanne bilang dia akan pulang hanya kalau aku menjemputnya. Jadi, orang tua aku dan orang tua Roxanne memintaku untuk menjemputnya." Jawab Julian.
"Aku tidak pernah menganggap dia sebagai seorang wanita. Selama ini, aku hanya menganggapnya sebagai anak dari kolega bisnisku, tidak lebih. Aku harap … kamu tidak berpikiran macam-macam." Jawab Julian lagi. Kali ini nadanya lebih lembut.
__ADS_1
"Aku? Berpikir aneh-aneh? Maaf ya, aku tidak ingin mengganggu privasi kamu jadi aku berharap kamu juga tidak mengganggu privasiku. Sekarang aku mau mandi dan langsung tidur. Silahkan keluar jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan." Emilia membuka pintu kamarnya, meminta Julian untuk segera keluar kamar dan menyudahi obrolan yang Emilia tidak inginkan.
Julian yang juga lelah, tidak ingin berdebat kali ini. Pria itu pun melangkah keluar kamar. Saat Julian berdiri di hadapan Emilia yang sedang membuka pintu, pria itu berkata,
"Selamat beristirahat. Nanti malam kita makan di apartemen saja ya. Kamu pasti lelah untuk keluar kamar."
"Iya," Jawab Emilia dengan suara rendah dan tanpa menatap wajah Julian.
Pria itu pun keluar kamar dan menuju kamarnya sendiri yang berada di sebelah Emilia.
—--
Sesuai dengan yang dikatakan Julian, malam ini mereka menghabiskan waktu di dalam apartemen saja. Hidangan aneka pasta dan salad buah sudah disiapkan Julian sebelum memanggil sang istri keluar dari kamarnya.
Emilia benar-benar tidur nyenyak selama hampir tiga jam sejak kembali ke apartemen. Julian hanya memejamkan mata satu jam lalu menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak makanan malam bersama sang istri.
Suasana malam yang syahdu, tenang, dengan pemandangan kota Jakarta di bawah sana dengan segala hiruk pikuknya, ditambah lagi langit yang tanpa bintang sama sekali, hanya bulan setengah yang nampak malu-malu itu membuat hati Emilia tiba-tiba merasa melow. Di kehidupannya yang dulu, dia hanya tahu bekerja dan bekerja. Setelah menikah dengan Roy, kehidupan menyedihkan dan mengenaskan berlangsung lebih parah. Tidak ada sama sekali me time untuk dirinya agar bisa waras.
Emilia menundukkan wajahnya dan tiba-tiba terdengar suara isakan tangis tertahan dari bibirnya yang tertutup.
"Hei, kenapa kamu menangis? Apa ada yang kurang berkenan?" Julian berdiri dan menghampiri sang istri lalu duduk berlutut di sampingnya.
"Tidak ada. Aku hanya … tiba-tiba saja ingin menangis." Emilia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan entah mengapa tangisannya pun semakin keras. Perhatian Julian membuat Emilia tidak kuasa untuk menjadi lebih perasa.
Julian menarik kepala Emilia untuk menangis di pelukannya.
"Aku tidak tahu apa yang membuat kamu menangis. Kalau kamu sudah siap menceritakan padaku, aku akan siap mendengarkannya." Ujar Julian.
__ADS_1
Tangisan Emilia semakin keras mendengar ucapan Julian yang membuat wanita itu semakin lemah dan merasa tidak berdaya.