If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
55. Emosi Sang Suami


__ADS_3

"Julian, please. Apa kamu tidak kasihan padaku?" Maggie memberikan tatapan memelas, berharap pria yang sulit didekati itu mau melunak hatinya dan bersedia menemaninya.


"I'm sorry but I can't. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan." Yang ada dalam pikiran Julian saat ini adalah Emilia. Dia benar-benar tidak bisa menemukan sang istri dimanapun. Panggilan telponnya ke Emilia tidak dianggap dan diabaikan begitu saja hingga terdengar nada putus otomatis.


"Sial! Dimana dia?" Rutuk Julian sambil kedua tangannya berkacak pinggang dengan sepasang matanya mengintai ke sekelilingnya berharap bisa menemukan sang istri dan menghukumnya karena sudah membuatnya khawatir.


Drrrt … tiba-tiba ponsel Julian bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dan itu dari Emilia.


"Kamu tidak usah mencariku. Kita akan bertemu di mobil satu jam dari sekarang." Mulut Julian menganga lebar membaca pesan dari Emilia. Tampak wanita itu sedang kesal terbaca jelas dari isi chat yang dikirimkan. Julian langsung menelpon Emilia namun lagi-lagi panggilannya tidak diterima.


"Angkat telponku, sayang. Atau aku akan membuat pengumuman di tempat ini mencari seorang istri yang hilang dan tidak mau ditemukan." Ancam Julian pada pesan yang dia kirimkan balik.


Ancaman pria itu berhasil. Terbukti tidak berapa lama kemudian, Emilia menelpon balik Julian.


"Kamu dimana?" Tanya Julian langsung pada intinya, sambil tentu saja tersenyum penuh kemenangan.


"Aku … aku lagi ngopi di kafe depan tempat dinosaurus tadi." Nada suara Emilia terdengar terpaksa dan tambah kesal karena suara Julian yang terdengar terkekeh.


"Aku akan kesana. Kamu tunggu, jangan kemana-mana."


"Aku bisa kemana lagi?" Ucap Emilia sebelum menutup panggilan telepon.

__ADS_1


Julian tersenyum mendengar jawaban Emilia dan bergegas menghampiri sang istri yang sudah menunggu di sana.


Namun alam semesta sepertinya tidak mendukung mereka untuk bisa berduaan di tempat umum. Dari kejauhan Julian melihat Emilia sedang duduk bercakap-cakap dengan … Netta. Dia adalah wanita yang menyebabkan berakhirnya pertunangan Emilia dengan Roy. Namun, itu menjadi keberuntungan Julian juga yang akhirnya bisa masuk dan merebut Emilia secepatnya sebelum terlambat lagi.


Julian memakai kacamata hitamnya dan topi untuk menutupi wajahnya lalu duduk di kafe dekat dengan tempat Emilia dan Netta duduk namun dalam posisi membelakangi mereka.


"Wah, lihat siapa yang aku temui ini. Puncak itu jauh ya dari Jakarta dan tidak ada angkutan umum kesini. Dengan siapa kamu datang kesini? Aku tidak melihat ada yang menemani kamu." Ucap Netta dengan seringai sinisnya seperti biasa. Gaya berpakaiannya yang selalu seksi tidak mengenal tempat dimanapun, mengundang kaum Adam untuk menatapnya dengan sorot mata seperti ingin melahap wanita pelakor itu.


Emilia balik menyeringai sinis. Sungguh malas rasanya dia menanggapi wanita yang masih sepupunya ini. Dulu mereka memang tidak terlalu akrab. Ditambah lagi dengan perbuatan Netta yang merebut tunangannya, semakin membuat jarak di antara mereka semakin lebar dan jauh. Dulu Emilia sangat membencinya tapi kini entah mengapa, Emilia merasa meninggalkan Roy adalah keputusan paling tepat dan bijak dalam hidupnya. Dan, dia sangat bersyukur sekali.


"Apa urusan kamu?" Jawab Emilia singkat. Netta melebarkan matanya dan mengeraskan rahangnya mendengar jawaban wanita yang semakin cantik sejak berpisah dari Roy itu.


"Huh, apakah kamu sekarang jadi wanita peliharaan pria tua dan botak? Aku dengar kamu sekarang keluar dari rumah nenek dan tinggal di apartemen. Wow, sungguh hebat sekali pria itu, mau membiayai wanita kampungan dan tidak menarik sepertimu." Netta menatap penampilan Emilia dari atas sampai ke bawah sambil berdecih sinis.


"Kurang ajar! Kamu pikir kamu hebat, hah? Kamu hanya seorang anak yatim piatu yang dibesarkan dengan hutang-hutang yang menggunung." 


Ada tangan terkepal dan rahang mengeras milik seseorang yang duduk tepat di belakang Emilia. Sungguh, dia sudah tidak tahan sejak tadi untuk memberi pelajaran perempuan yang sudah menghina istri tercinta. Telinga Julian panas dan hatinya mendidih. Bagaimana bisa Emilia tampak tenang dan tetap tersenyum. Senyuman yang bisa dirasakan meski tidak dilihat langsung.


"Setidaknya aku tidak menjadi wanita pelakor. Eh tapi, aku seharusnya bersyukur dan mengucapkan terima kasih padamu. Karena kalau aku tidak memergoki kalian, aku tidak akan bisa bebas dari lelaki tidak tahu malu itu." Jawaban Emilia spontan membuat Julian tersenyum puas. Tapi tidak dengan Netta yang wajahnya memerah menahan amarah. Ingin rasanya dia melemparkan isi minuman yang ada di atas meja ke wajah Emilia. Andaikan dia tidak malu karena banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Emilia? Ternyata kamu ada di sini. Aku senang sekali bisa bertemu dengan kamu." Emilia kaget bukan main ketika Roy tiba-tiba berdiri di sampingnya dengan posisi cukup dekat. Spontan wanita yang menggerai rambut hitam panjang itu berdiri dan menjaga jarak dengan Roy sejauh mungkin.

__ADS_1


"Ternyata kalian berdua kesini. Huh, tidak ada yang ingin aku katakan." Emilia hendak pergi ketika tangan Roy mencengkeram lengan Emilia cukup kuat agar tidak melarikan diri lagi.


"Awww, sakit. Lepaskan tanganmu!"


Mendengar istrinya mengaduh kesakitan, Julian tidak bisa tinggal diam lagi dan berbalik lalu melepaskan cengkeraman tangan Roy di lengan istrinya.


BRUK!


Tubuh Roy terjerembab ke belakang menabrak kursi dan meja yang ada di sekitarnya. Julian menghempaskan tangan Roy dengan keras dalam sekali hentakan.


"Aaargggh," Spontan kejadian itu membuat semua orang yang ada di tempat kejadian, ikut melihat dengan rasa penuh penasaran.


Netta menghampiri Roy dan membantunya berdiri. Namun, Roy menolak bantuan Netta dan berdiri sendiri dengan wajah dipenuhi emosi yang meluap-luap.


"Lagi-lagi bertemu dengan kamu. Kamu itu senang sekali ya ikut campur urusan orang." Roy memijat tangannya yang kesakitan karena dicengkeram pria yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Mana yang sakit? Coba lihat!" Julian tidak mengindahkan ucapan Roy. Dia justru fokus melihat ke lengan Emilia yang terlihat jelas kemerahan. Andaikan ini bukan di tempat umum, Julian memastikan tangan Roy patah berkeping-keping karena telah menyakiti Emilia, wanita yang sangat dicintainya sekaligus istri rahasianya.


"Tidak apa-apa," Emilia berusaha menahan sakit agar Julian tidak melakukan hal yang lebih mengerikan pada Roy. Namun rasa sakit akibat cengkraman tangan Roy yang cukup kuat, tidak dapat disembunyikan Emilia. Mulutnya mendesis merintih ketika Julian memegang lengan yang digenggam Roy.


Sorot mata Julian yang berapi-api sudah cukup membuat Emilia khawatir. Wanita itu langsung meraih tangan Julian dan menariknya untuk keluar dari kafe.

__ADS_1


"Oh, jadi hanya segitu saja kemampuan kamu? Cih, dasar banci! Berlindung di balik ketiak wanita. Cuihhhh!" Roy meludah ke lantai kafe sehingga membuat jijik beberapa pengunjung disana dan karyawan kafe tentu saja. Julian menghentikan langkahnya dan mengeram keras rahangnya.


"Julian, please. Kamu jangan terpancing emosi. Kita pergi dari sini, okay?" Emilia menggandeng keras lengan sang suami dan menatapnya penuh harap agar Julian tidak mendengarkan omongan lelaki sampah macam Roy.


__ADS_2