If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
27. Pria Bernama Alfred


__ADS_3

"Ya sudah, aku kembali kerja lagi. Tidur saja lagi kamu! Kerjanya cuma makan, tidur, shopping. Sungguh wanita pemalas!" Roy memaki Netta dan menutup telepon dengan meninggalkan amukan di dada Netta yang ingin berkata kasar pada pria yang sering menikmati tubuhnya itu.


"Dasar brengsek! Pergi saja kamu ke neraka!" Teriak Netta pada Roy setelah telpon dimatikan.


"Kalau bukan karena uang kamu, aku juga malas meladeni anak mami macam kamu!" Netta benar-benar mendapati mood paginya sangat jelek dan itu akan berpengaruh selama sepanjang hari penuh.


Sementara itu di tempat lain, Emilia yang sedang bertemu klien di ruang rapat sebuah hotel yang dijanjikan bersama dua anak buahnya, telah membuat lawan bicaranya terkesima dan kagum akan pemaparan tim Emilia mengenai kontrak kerja yang akan mereka lakukan. 


Waktu rapat pun berjalan sesuai rencana. Setelah mereka selesai mencapai kesepakatan, seperti biasa acara diakhiri dengan ramah tamah berupa makan siang bersama dengan hidangan yang khusus telah disediakan oleh pihak perusahaan Emilia.


Yang dia tidak ketahui adalah Julian telah berada satu jam sebelumnya dan berada di ruangan lain karena tidak ingin mengganggu Emilia dan anak buahnya yang sedang rapat penting.


"Sophia, kamu dimana? Aku sudah selesai. Ayo, makan siang bersama." Mengambil tempat di dekat jendela agar bisa melakukan panggilan dengan leluasa, Emilia mengajak sahabat karibnya seperti rencana mereka semula tadi pagi.


"Maaf Lia, aku tidak bisa. Aku sedang mengurus bahan untuk rapat sore ini. Tadi tuan Julian bilang semua harus sudah siap satu jam sebelumnya." Jawab Sophia dengan suara terdengar sangat kecewa.


"Yahhh, kalau begitu aku bungkusin saja ya." Jawab Emilia lagi dengan nada sama kecewanya.


"Tidak usah. Tuan Julian sudah membelikan kami makan siang satu tim, hehehe. Entah ada angin apa bos kita satu itu sekarang mulai ramah dan jinak. Hahaha," Kini suara Sophia terdengar lebih baik dibandingkan tadi.


"Hehehe, ya sudah. Aku makan disini saja kalau begitu. Sampai ketemu di kantor ya." Emilia menutup panggilan setelah Sophia mengucapkan salam perpisahan sementara.


"Kenapa kamu sedih?"


"Astaga! Jangan buat aku jantungan!" Emilia kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Wanita itu sadar kalau disini ada banyak mata yang melihat jadi dia menjaga jarak dengan pria yang memiliki status sebagai bos jika di kantor namun berubah menjadi suami jika berdua di rumah.

__ADS_1


"Ada apa kamu kesini? Rapatnya sudah selesai dan kami sedang makan siang." Jawab Emilia sambil berjalan perlahan menuju meja prasmanan yang telah disediakan.


"Selamat siang, bos."


"Selamat siang, bos "


"Siang,"


Dua orang anak buah Emilia memberi salam pada bos CEO mereka. Mereka tidak berpikiran curiga melihat CEO mereka datang karena seperti biasa, Julian akan bercakap-cakap ringan dengan bosnya klien setelah kesepakatan terjalin.


"Kamu makan dulu saja karena setelah itu ada yang ingin aku bicarakan." Jawab Julian sambil ngeloyor pergi meninggalkan Emilia yang masih bengong tidak mengerti apa yang dimaksud ingin dibicarakan. Namun, karena perutnya sudah bernyanyi merdu sejak tadi, Emilia pun ikut bergabung dengan anak buahnya dan kliennya untuk makan siang bersama.


"Mister Julian,"


"Just call me Julian, will you?" Julian menjabat erat tangan pria yang merupakan rekan kerjanya sejak lama dan usianya pun tidak terpaut jauh dari Julian. Julian lebih muda satu tahun. "Apa kabar kamu, Alfred?"


"By the way, kamu punya karyawan cantik kok aku tidak dikasih tahu? Hahaha," Alfred melirik ke arah Emilia yang sedang bergurau ringan dengan rekanan dan anak buahnya sambil menikmati makan siang. Julian tahu siapa yang dimaksud partner bisnisnya ini.


Siapa yang membantah kalau Emilia memiliki kecantikan yang terpendam? Sejak dia memutuskan pertunangan dengan pria bernama Roy, penampilan Emilia yang dulu cenderung jadul, kaku, dan dengan warna serba gelap itu, Emilia merubah cara berpakaiannya menjadi lebih anggun dan lebih baik.


Rambutnya pun dipotong sedikit dan diberi model gelombang di bagian bawahnya. Kini tidak ada lagi kacamata tebal yang bertengger manis di hidungnya yang cukup mancung. Emilia menggantinya dengan lensa kontak warna coklat, meskipun terkadang dia tetap memakai kacamata namun model framenya dibuat tipis dan bentuk lensanya pun lebih kecil dan manis, dibandingkan sebelumnya.


"Kenapa? Apa kamu sudah bosan menikah?" Tanya Julian dengan seringai sinisnya. Alfred adalah pria beristri namun belum memiliki anak. Dia dan istrinya boleh dibilang cukup lama menikah, sekitar lima tahun. Istrinya seorang pramugari sehingga intensitas dirinya dan sang istri untuk bertemu sangat jarang.


"Entahlah, kamu tahu sendiri kalau aku ingin punya anak tapi istriku selalu sibuk dengan karirnya dan menunda terus entah sampai kapan. Kelak kalau kamu menikah, biarkan istri kamu di rumah biar kalian bisa langsung punya anak." Jawab Alfred sambil menghela napas.

__ADS_1


"Tapi itu bukan alasan kamu untuk main dengan perempuan lain. Biar bagaimanapun, dia masih sah menjadi istri kamu." Jawab Julian.


"Hah, istri yang mencintai pria lain namun menikahnya dengan aku. Hahaha. Hidup itu lucu ya. Sangat lucu." Tawa getir Alfred terdengar oleh Emilia. Sehingga dia yang sedang makan siang, langsung memalingkan wajahnya ke arah dua pria petinggi yang keduanya sama-sama sedang menatap dirinya.


"Lihat! Dia melihat ke arahku. Menurut kamu, apakah dia menyukaiku?" Pertanyaan Alfred membuat Julian berdecih sinis.


"Cih! Kalau mau mau main-main, cari wanita lain. Dia karyawanku dan tidak akan aku biarkan dia jatuh ke tangan pria playboy seperti kamu." Ujar Julian dengan suara berat.


"Ckckck, sejak kapan kamu protektif ke karyawanmu? Apakah sekarang … kamu mulai menyukai wanita?" 


Kesabaran Julian hampir habis mendengar ocehan absurd pria bernama Alfred tersebut.


"Sejak kapan aku suka pria?"


"Loh, memangnya itu tidak benar?" Pertanyaan Julian justru dibalas dengan pertanyaan dari Alfred.


"Please, shut your mouth up! Semakin lama kamu bicara, aku semakin ingin merobek mulut kamu itu." Julian berdiri dan merapikan jasnya.


"Hei, kamu mau kemana?"


"Kemana saja asal tidak bersama kamu. Nanti aku disangka gay kalau bergaul sama kamu."


"What the …! Dasar pria aneh?" Alfred mengumpat Julian dengan suara pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.


Julian pergi menghampiri semua anak buahnya, termasuk Emilia dan tim.

__ADS_1


"Kerja kalian sangat bagus." Pujinya sambil tersenyum puas.


__ADS_2