If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
51. Permintaan Yang Konyol


__ADS_3

Sophia melihat semua yang dilakukan Edwin seperti orang yang sedang melayani pasien yang tidak bisa melakukan apapun.


"Ahhh biarkanlah, aku mau makan dulu," Pikir Sophia.


Makan siang yang menyenangkan karena makanannya enak dan terlebih lagi, Sophia hanya duduk manis menunggu makanan matang. Koki yang memasak makanannya sangat spesial dan … tampan. Setidaknya itu kesan pertama Sophia begitu melihat Edwin di rumah sakit.


Setelah makan siang yang canggung, Sophia beranjak perlahan menuju ke ruang tengah, dan Edwin dengan sigap berusaha membantu Sophia namun ditolak oleh wanita mandiri itu. Sudah terlalu merepotkan Edwin sejak kemarin jadi Sophia tidak ingin merepotkan Edwin lebih jauh lagi.


"Apakah hari ini kamu tidak bekerja?" Setelah duduk di sofa single dengan posisi nyaman, Sophia meminta Edwin untuk ikut duduk tapi di sofa hadapannya.


"Hari ini aku libur. Aku masuk lagi besok." Ucap Edwin sambil duduk dengan posisi bersandar di kursi yang terbuat dari kayu namun bantalan duduknya terbuat dari busa yang empuk.


"Oh, kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?" Tanya Sophia lagi.


"Aku seorang satpam di komplek perumahan." Ucap Edwin dengan tegas dan lugas. Dia tidak ingin menyembunyikan pekerjaanya dari siapapun, bahkan pada keluarga besarnya sekalipun. Meski kedua orang tuanya menentang mati-matian profesi anaknya yang sangat jauh dari kata terhormat, menurut mereka. Namun Edwin tetap bersikukuh dengan profesi yang semula terpaksa dia jalani karena satu hal.


"Ahhh, satpam." Tampak gurat kekecewaan tipis-tipis terlihat di wajah Sophia. Seorang lulusan Stanford tapi memiliki profesi sebagai seorang satpam. "Apa yang kamu lakukan dengan ijazah kuliahmu kalau pada akhirnya kamu menjadi satpam?" Sungguh pertanyaan yang sebenarnya pasti akan ditanyakan oleh mereka yang tahu latar belakang pendidikan Edwin dan membandingkan dengan pekerjaan dia sekarang.


Dan, Edwin bisa melihat perubahan wajah Sophia saat mengetahui pekerjaannya.


"Apakah ada yang salah dengan profesi satpam?" Senyum di wajah Edwin dan penekanan kalimat yang diutarakan, membuat Sophia sedikit terkejut. Dia langsung bergegas meminta maaf untuk respon spontan yang diberikan.


"Aku sama sekali tidak bermaksud menyepelekan pekerjaan kamu. Tapi, kamu kan sudah belajar susah payah dan biaya kuliah yang dikeluarkan disana tidak sedikit, jadi kupikir menjadi satpam tidak sebanding dengan kuliah kamu." Ucap Sophia lagi. Dia menelan saliva cemas karena melihat senyum tipis Edwin.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan disini. Kalau begitu, aku permisi. Selamat beristirahat."


"Edwin, tunggu! Aku …"


"Selamat tinggal, Sophia. Semoga kamu bisa mendapatkan pendamping yang sederajat denganmu atau lebih baik lagi lebih tinggi dari kamu statusnya. Aku hanyalah seorang satpam yang tidak pantas untuk berteman dengan wanita berkelas sepertimu."


Edwin melangkah keluar dengan kakinya yang panjang. Andaikan Sophia tidak sedang terluka kakinya, dia pasti mengejar pria itu dan menahannya pergi. Suara teriakan Sophia tidak dihiraukan Edwin yang terus melangkah keluar menuju motornya.


"Aaahhh," Sophia terjatuh duduk sambil menjerit cukup kencang karena merasakan kakinya kembali sakit. Demi mendengar teriakan Sophia, Edwin membalik badannya dan menghampiri Sophia lalu mengangkat tubuhnya menuju sofa panjang.


"Maafkan aku, jangan pergi, please. Aku tidak bermaksud mengejekmu sama sekali." Sophia melingkarkan kedua tangannya di leher Edwin. Semakin dilihat dari dekat, wajah pria dengan rahang tegas dan kulit wajah bersih tanpa jerawat sama sekali itu, terlihat semakin tampan.


Edwin menghela napas singkat setelah selesai membaringkan tubuh Sophia di atas sofa. Tidak ada darah yang terlihat dari perban yang membungkus kaki Sophia namun wanita itu meringis kesakitan sambil memijat pahanya dari balik midi dress yang dipakainya.


"Kakiku sepertinya keseleo. Sakit sekali." Sesekali terdengar suara meringis dari bibir wanita yang tampak sangat lemah dan tidak berdaya itu.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama."


"Tidak! Aku tidak mau ke rumah sakit lagi. Sakitnya akan sembuh sendiri kalau aku istirahat." Sorot mata Sophia yang memelas dan bibir yang membentuk seperti huruf 'n' membuat Edwin tersenyum tipis. Wanita keras kepala ini bisa bersikap manja juga ternyata. Gumamnya dalam hati.


"Lalu apa yang harus aku lakukan disini? Apakah kamu tidak ada saudara atau teman yang bisa menemani?" Tanya Edwin lagi.


"Teman? Ada tapi rumahnya sudah lama kosong. Entahlah dia tinggal dimana saat ini, aku belum pernah ke rumahnya yang baru. Saudara? Aku anak yatim piatu. Ini adalah rumah sepupuku yang tinggal di Amerika bersama keluarganya. Dia memintaku untuk tinggal disini agar bisa ditempati dan sekaligus dirawat biar tidak rusak rumahnya kalau dibiarkan melompong lama." Sophia menatap sekeliling ruangan tengah yang cukup luas untuk satu orang. Edwin mengangguk-angguk pelan.

__ADS_1


"Apa kamu tidak takut sendirian di rumah dan sekarang ada seorang lelaki asing masuk ke rumah ini? Aku lihat rumah tetanggamu kanan kiri dibentengi pagar yang cukup tinggi. Tidak ada satupun orang di luar dan suasana komplek perumahan ini sangat sepi."


"Terus, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan menyekapku? Membunuhku dan memasukkan jasadku ke dalam koper lalu membuangku ke sungai? Apakah itu yang akan kamu lakukan padaku?" Sorot mata Sophia yang ragu dan menyelidik, sejenak membuat Edwin melongo lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini Sophia melihat pria itu tertawa lepas. Sungguh tampan dan menenangkan.


"Aku pikir kamu terlalu sibuk bekerja hingga lupa menonton tv. Tapi, ternyata aku salah. Kamu terlalu banyak menonton sinetron yang membuat pikiranmu berkelana liar tanpa batas." Edwin menunjuk hidung Sophia dengan jari telunjuknya yang lembut.


Wajah Sophia memerah merona malu. Edwin tanpa sadar melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.


"Maaf, aku terlalu terbawa suasana." Keduanya terdiam beberapa detik. Bunyi dentang jarum jam di ruang tengah terdengar jelas oleh mereka berdua.


"Aku harus pergi." Edwin berdiri. Udara di dalam ruangan ini semakin menyesakkan baginya sehingga dia tidak bisa bernafas dengan leluasa.


"Berjanjilah padaku kalau besok kamu akan datang lagi." Ujung jari Edwin dipegang Sophia dan dengan tatapan memelas sang wanita, Edwin benar-benar dibuat tidak berdaya dengan permintaan wanita yang terbaring lemah di atas sofa panjang.


Edwin kembali duduk dan menghela napas.


"Aku benar-benar tidak tega meninggalkan kamu sendirian di rumah sebesar ini. Kamu tidak punya teman atau siapapun untuk menemani. Tapi …"


"Kalau begitu, menginaplah di rumahku sampai aku sembuh." 


Permintaan yang konyol!


Sophia menggigit bibirnya. Dia sendiri tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang terlontar begitu saja dari suara hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


"Apa … kamu yakin?" Edwin tidak berkedip menatap wajah Sophia yang tidak berani menatapnya.


__ADS_2