If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
82. Pertama Kali Dalam Hidupnya


__ADS_3

Sebaliknya, teman-teman lelaki lain justru berlomba-lomba ingin menjadi kekasih Lastri dengan saling menonjolkan kemampuan mereka. Hingga pada satu ketika, Lastri pulang terlalu malam karena baru saja selesai menghias dekorasi kelas untuk lomba antar kelas esok harinya. Semua teman-temannya sudah pulang dijemput oleh keluarga mereka masing-masing. Lastri yang sudah yatim sejak kecil, harus berjuang menembus gelapnya malam dan diperparah dengan turunnya hujan dimana kebetulan dia tidak membawa payung hari itu.


Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berdiri di belakangnya.


“Kamu bisa pakai payung berdua denganku.” Mulut Lastri menganga lebar dan matanya melotot tajam ketika mengetahui yang mengatakan itu adalah Bowo, teman lelaki introvert yang tidak pernah menatap wajahnya. Bowo mengerutkan kening melihat tatapan kebingungan dari Lastri.


“Aku … aku bisa berlari sampai rumah.” Ucap Lastri dengan suara bergetar. Antara kedinginan akibat angin malam ditambah hujan deras atau dingin karena suasana tempat dia berdiri saat ini dengan kehadiran Bowo yang tiba-tiba.


“Kalau kamu sakit, nanti tidak ada yang mengurus acara perlombaan. Ayo, aku antarkan sampai rumah.” Bowo langsung menggenggam tangan kanan Lastri dan mengajaknya berjalan di bawah payung untuk menangkal air hujan yang semakin deras. Lastri tidak bisa berkata-kata lagi saking gugupnya.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menembus gelapnya malam dan hujan yang semakin deras. Berkali-kali Lastri harus menggigil kedinginan karena angin yang menusuk kulitnya tanpa perlindungan jaket itu. Bowo pun langsung berinisiatif dengan mendekap dari samping teman perempuan yang cukup terkenal diantara teman-teman perempuan lainnya itu.


Jalanan beraspal yang sunyi sepi menjadi saksi betapa kedekatan mereka dimulai dari malam itu dan tidak ada yang menyangka ketika pada akhirnya setelah tamat kuliah, Bowo melamar Lastri untuk menjadi istrinya.

__ADS_1


Perjalanan menuju puncak merupakan saat-saat yang membahagiakan bagi Emilia kecil. Gadis kecil itu tidak henti-hentinya bernyanyi dan bertanya seputar apa saja yang dilihatnya dari balik kaca jendela kursi duduk bagian penumpang belakang. Lastri dan Bowo tidak kalah gembiranya dengan terus menjawab pertanyaan anak satu-satu mereka sambil melemparkan senyum satu sama lain.


Jalanan yang sepi dan curam membuat Bowo harus lebih hati-hati mengendarai mobilnya. Ditambah lagi, semalam turun hujan deras sehingga jalanan menjadi lebih licin dari biasanya. Ketika mobilnya akan menanjak, tiba-tiba dari arah depan ada sebuah truk yang supirnya tampak tidak bisa mengendalikan laju mobilnya dan truk itu pun bergerak turun dengan sangat cepat dan nahasnya mobil yang dikemudikan Bowo berada tepat di belakang truk tersebut.


Tak ayal lagi, truk itu langsung menghantam mobil sedan berpenumpang tiga orang itu dan sedan malang itu pun langsung terdorong ke belakang dengan sangat cepatnya dan hanya dalam beberapa meter truk itu melindas bagian depan body sedan hingga rusak parah.


“Tolong, to-long,” Emilia kecil yang masih bisa menggerakkan tangannya karena bagian belakang mobil masih bisa terselamatkan hanya saja kakinya tertindih kursi penumpang bagian depan, berusaha berteriak mencari pertolongan. Sayangnya, suasanya jalanan sepi hingga kurang dari lima belas menitan bantuan dari mobil yang lewat pun akhirnya datang. Tidak berapa lama suasana di tempat kejadian pun mulai dipenuhi oleh orang-orang yang hendak membantu mobil sedan malang tersebut. Baru setelah petugas medis datang, mobil itu pun bisa dievakuasi. Emilia kecil sudah tidak sadarkan diri tidak berapa lama dikeluarkan dari mobil yang terhimpit.


“Ayaaaaah ibuuuuu,” Keringat dingin membasahi leher dan wajah Emilia.


“Julian?” Emilia bingung untuk sesaat dan dia baru menyadari kalau dia baru saja kembali dari ingatan buruknya saat mengalami kecelakaan bersama kedua orangtuanya.


“Kamu tidak apa-apa, sayang?” Tubuh Emilia dipeluknya dan punggung Emilia dipukpuk untuk menenangkan wanita yang wajahnya pucat pasi dan napasnya memburu.

__ADS_1


“Julian, aku … aku selamat. Huhuhu,” Emilia menangis tersedu-sedu dan membalas pelukan Julian lebih erat lagi. Julian tidak mengerti apa yang dikatakan sang istri namun dia memilih untuk tidak bertanya saat ini, hingga sampai hati Emilia tenang dan tidak menangis sesenggukan lagi.


Terkadang tidak perlu sebuah ucapan untuk membuat hati orang yang dicintai menjadi tenang dan terlindungi. Tindakan lebih diperlukan dalam beberapa hal yang tidak membutuhkan banyak ucapan. Julian selalu merasa kalau apa yang dia lakukan saat ini adalah untuk membayar apa yang pernah dia lewati ketika kehilangan sosok cinta pertamanya. Hidup Emilia yang penuh dengan ketidakberuntungan sejak meninggalnya kedua orangtuanya dan harus menanggung beban hidup dari belas kasihan orang lain, membuat Julian ingin terus melindungi sang kekasih hati dengan segenap jiwa raganya.


Dia nyaris putus asa saat mendengar berita pertunangan Emilia kala itu. Susah payah dia mendapatkan berita tentang cinta masa kecilnya namun setelah berhasil bertemu justru harus berhadapan dengan kenyataan kalau cinta pertamanya akan menjadi milik orang lain.


Malam itu, Julian untuk pertama kalinya menenggak minuman keras hingga menyebabkan dirinya mabuk. Karena di pagi hari sebelumnya dia bertemu kembali dengan Emilia namun wanita itu justru memberinya kartu undangan pernikahan. Hati Julian hancur-sehancurnya. Belum sempat dia menyatakan cinta namun cintanya sudah mendapat penolakan secara tersirat.


Dengan pikirannya yang sudah tidak jernih lagi dan mulutnya yang meracau kemana-mana, Julian bersumpah akan mendapatkan Emilia dengan segala cara. Beruntung nama Emilia tidak diucapkan saat dirinya mabuk sehingga teman-teman Julian yang membantunya membawa pulang, tidak mengetahui isi hati Julian pada salah satu karyawatinya.


Kepalanya terasa berat akibat mabuk-mabukan semalam dan hampir saja dia tidak ingin masuk kantor kalau saja dia tidak ingat ada pertemuan penting dengan salah satu kliennya yang sudah tidak bisa diundur lagi. Julian pun terpaksa berangkat ke kantor setelah menyegarkan tubuhnya hampir satu jam lebih di kamar mandi.


Namun, Dewi Fortuna ternyata masih berpihak padanya. Dia mendengar langsung dari mulut Emilia kalau dia sudah memutuskan pertunangan sehari setelah memberikan kartu undangan. Usut punya usut ternyata diketahui sang calon suami berselingkuh di belakangnya dengan sepupu Emilia. Keberuntungan lain datang menghampiri Julian ketika Emilia diketahui membutuhkan uang sejumlah lima ratus juta untuk benar-benar terlepas dari keluarga mantan tunangannya. Disitulah Julian langsung bergerak cepat demi mendapatkan Emilia tanpa menunggu lebih lama lagi.

__ADS_1


Dengan dalih paksaan dari orangtua Julian dan rumor negative yang beredar tentang dirinya, Julian pun menawarkan Emilia sebuah perjanjian yang tidak pernah terlintas di pikiran sebelumnya. Sebuah perjanjian kontrak nikah yang akan menguntungkan keduanya dan membuat keduanya terbebas dari masalah yang menghinggapi diri mereka masing-masing.


__ADS_2