
Julian mengutuk dirinya sendiri yang mengungkit-ungkit nama wanita itu di depan istrinya langsung.
Emilia sedikit kecewa mendengar nama wanita itu lagi. Namun, dia tidak ingin menampakkan nya karena dia tahu betul posisinya hanyalah sebagai istri kontrak satu tahun.
"Aku … aku minta maaf. Aku hanya …" Julian
memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang. Dia merasa kalau dia sudah membuat satu kesalahan yang sangat fatal. Pria itu sedang memilih kata-kata sebelum mengucapkan kesalahan lagi.
“Roxanne itu … apa kalian sudah kenal dekat sejak dulu?” Emilia menatap wajah Julian sambil tersenyum. Baginya, tidak ada alasan untuk cemburu pada pria yang hanya menyandang status suami sementara. Julian mengernyitkan alisnya.
“Kenapa dia bertanya dengan ekspresi tenang sekali? Apa dia benar-benar tidak masalah mendengar nama Roxanne?” Gumam Julian dalam hati. “Okay, kalau memang ini yang kamu mau. Aku mau lihat, sampai mana kamu akan bersikap tenang.” Gumamnya lagi. Julian ikut tersenyum balik.
“Dia itu teman kecilku. Dari semua teman yang dekat denganku, hanya dia yang paling dekat. Orangtuanya sudah menganggap aku sebagai anggota keluarga mereka juga, begitupun Roxanne. Dia sudah orangtuaku anggap sebagai bagian dari keluarga kami.” Jawab Julian dengan mendengus tipis. “Kenapa kamu mau tahu?” Tanyanya lagi.
“Apa aku tidak boleh kenal dengannya? Kelak suatu saat, aku dan dia akan bertemu dan saat itu aku tidak mau suasana menjadi tidak nyaman. Jadi, aku ingin mengenalnya dengan baik mulai sekarang.” Jawab Emilia sambil terus tersenyum lebar.
“Apakah kamu benar-benar ingin mengenalnya?” Julian bertanya seraya menyeringai.
“Ya, kenapa tidak?” Jawab Emilia dengan penuh percaya diri.
“Okay. Besok aku akan panggil dia ke kantor. Kalian bisa berkenalan disana.” Julian mengeraskan rahangnya setelah memalingkan wajahnya ke kiri.
Emilia yang duduk di dekat jendela, tersenyum lirih
mendengar jawaban Julian.
__ADS_1
“Jadi, ternyata kalian sebegitu dekatnya. Baiklah, aku tidak berhak untuk kecewa. Cepat atau lambat, kita akan berpisah. Dan, jika saat itu tiba, aku tidak ingin ada rasa yang tertinggal di antara kita.” Gumam Emilia dalam hati.
Burung besi yang membawa sepasang pengantin baru dan puluhan penumpang lainnya itu, terbang tinggi di angkasa. Namun, ada dua rasa yang sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang mengandung banya kesalahpahaman namun tidak ada yang ingin bertanya lebih dulu dan meluruskan pendapatnya.
Akhirnya, mereka pun tiba di Bandara Soekarno Hatta dan Julian langsung membantu sang istri menarik kopernya dan berjalan terlebih dahulu di depan meninggalkan Emilia yang kebingungan di belakang.
“Kenapa sih dia? Bukankah seharusnya aku yang marah? Cih! Dasar pria tidak peka!” Emilia menyeringai sinis dan berjalan menyusul sang suami yang satu langkah pria itu adalah tiga langkah sang wanita. Sambil berlari-lari kecil, Emilia pun bisa menyusul Julian di sampingnya. Baru saja dia ingin
berkata sesuatu, telponnya berdering dan dia pun terpaksa menghentikan laju langkahnya.
“Halo,”
“Emilia, kamu kemana saja?” Suara nyaring dan lantang milik siapa lagi kalau bukan sahabat Emilia, Sophia.
“Sophia, kenapa? Kamu mencari ku?” Emilia justru balik bertanya.
“Oh, aku pulang kampung. Disana sinyal memang agak susah.” Emilia merasa tidak ada yang perlu di sembunyikan dia pergi kemana. Yang harus disembunyikan adalah, dia pergi dengan siapa.
"Ya ampun, kamu ke rumah nenek kok tidak ajak aku? Aku kan sudah lama tidak menghirup udara pegunungan.” Lagi-lagi Sophia merenggut kesal dan protes tak berkesudahan.
“Iya iya, maaf ya. Aku mendadak perginya. Aku …” Emilia melihat Julian di ujung sana berdiri di samping sebuah mobil dimana supir pribadinya sudah menunggu mereka. Pria itu mengangkat bahunya seraya berkata, “Kamu mau pulang atau tidak?”
“Hmm, Sophia. Aku tidak bisa bicara sekarang. Nanti aku telpon lagi ya.”
“EMILIA!” Emilia sudah terlanjur menutup telponnya sebelum Sophia mengatakan maksud dan tujuannya menelpon.
__ADS_1
Emilia berlari-lari kecil menyusul sang suami namun tiba-tiba dia menghentikan larinya dan bersembunyi di dekat tiang yang tinggi dan besar dan cukup untuk membuatnya tidak terlihat dari arah Julian berdiri.
Seorang wanita cantik dan seksi menghampiri Julian.
“Kamu darimana saja? Kamu dari bepergian? Kenapa tidak memberitahu aku? Kita kan bisa pergi bersama.” Wanita itu melihat Julian dengan kopernya yang baru saja dimasukkan ke dalam bagasi. Wanita yang tidak lain bernama Roxanne.
“Sial!” Julian mengumpat dalam hati. Melihat istrinya bersembunyi, Julian malah merasa seperti sedang berselingkuh. Pria tinggi atletis itu memutar otaknya dan langsung mengambil ponselnya untuk mengetik pesan.
“Itu bukan urusanmu. Sebaiknya kamu pergi. Aku sedang sibuk.” Ucap Julian pada Roxane yang masih setia berdiri di sampingnya menunggu ajakan sang pria untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Julian, sejak kapan kamu kaku begini? Ayolah, dengan calon istri tidak boleh sinis dan galak. Aku ingin bicara penting denganmu tentang pernikahan kita. Papi …”
“Aku tidak ada waktu. Pergilah atau aku yang akan pergi?” Jawab Julian lagi dengan rahang mengeras. Dia masih bisa melihat sedikit penampakan rok sang istri yang masih bersembunyi di balik tiang.
“Julian, aku!”
“Kalau begitu aku yang akan pergi!” Jawab Julian lagi.
“Aku ikut!” Tiba-tiba saja Roxane langsung masuk ke dalam mobil Julian tanpa permisi. Wanita itu menggeser duduknya di pojok dekat jendela, untuk memberi ruang pada pemilik mobil untuk duduk. “Aku sudah di dalam. Kamu mau apa?” Seringai nakal terbit di bibir Roxane. Wanita itu menantang pria yang tidak suka berkompromi. Julian tersenyum. Tiba-tiba dari pintu dekat Roxane duduk, seorang pria membuka pintu dan meminta Roxanne untuk turun atau dia akan memaksa Roxanne untuk keluar dari mobil tuannya.
Pria itu adalah supir Julian sekaligus pengawal pribadinya. Roxanne geram luar biasa. Tidak pernah harga dirinya dilempar ke tanah seperti ini.
“Julian, aku hanya ingin kamu mengantarkan aku pulang. Aku tidak bawa mobil kesini. Tadi aku bersama temanku tapi dia sudah pergi.” Roxane memasang wajah memelas. Julian memijat dahinya. Dia ingin segera pulang dan
sampai apartemen karena tubuhnya butuh istirahat secepatnya. Ditambah lagi, istrinya masih bersembunyi entah dengan pikiran apa dan itu membuat Julian semakin merasa bersalah.
__ADS_1
“Kamu tidak punya uang untuk naik taksi? Keluar dari mobilku atau supirku akan menyeretmu keluar!” Julian selesai mengirim pesan pada Emilia untuk menunggu di pintu keluar. Sementara, Roxane tampak sangat kesal karena pria yang akan dijodohkan dengannya itu, masih saja tidak mempedulikan dirinya dan bersikap dingin tanpa sedikitpun keramahan.