
"Oh really? Wow, terus terus?" Mata Emilia pun berbinar-binar mendengar cerita pembuka sahabatnya.
"Dia mengajakku makan malam sepulang kerja." Sophia tampak berusaha menahan rasa malunya bercerita hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Emilia turut senang mendengar cerita sang sahabat. Biar bagaimanapun, Sophia sudah dewasa dan sudah waktunya untuk menikah. Dia pasti tahu mana yang lebih baik untuknya.
"Selamat berkencan yaa. Hanya saja, kalau dia mengajak kamu ke rumahnya, kamu jangan mau ya Sophia," Ucap Emilia lagi mengingatkan.
"Tentu saja. Aku tidak akan sepolos dan sebodoh itu. Lagipula, dia sudah pernah menikah, pasti dia juga mengalami sedikit trauma dengan menjalin hubungan lagi."
"Hahhh? Dia duda kah?"
"Waktu dia mabuk, dia mengatakan kalau pernikahannya sudah hancur dan dia merasa dikhianati." Jawab Sophia.
"Jadi, ada kemungkinan dia masih menikah namun pernikahannya diambang perceraian. Begitu bukan sih?" Kini Emilia yang justru penasaran.
"Entahlah, nanti aku tanyakan kalau kamu penasaran." Ucap Sophia sambil menaikkan satu alisnya.
"Apa sih? Tenang saja, aku tidak tertarik dengan pria itu. Pekerjaanku lebih menarik bagiku." Emilia berlalu meninggalkan Sophia yang berteriak berkata padanya.
"Aku akan cari pria yang cocok untukmu!"
Emilia hanya melambaikan tangan tanpa membalik tubuhnya. Ini sudah kesekian kalinya Sophia mencari seorang pria untuk dijadikan kencan buta Emilia. Dan, semua itu berakhir dengan kenihilan. Sophia sudah tidak suka dan tidak setuju kalau Emilia bertunangan dengan Roy dari dulu. Sikap Rou yang selalu mengekang Emilia dan matanya yang jelalatan jika melihat perempuan cantik, membuat Sophia jengah dan ingin sekali menghancurkan pertunangan sang teman.
Tapi, Emilia yang sudah terikat dengan hutang piutang keluarga Roy, tidak bisa membatalkan perjodohan itu begitu saja. Entah darimana keberuntungan dan doa terpendam Sophia sejak lama akhirnya terkabul. Emilia tersadar dari mimpi buruknya selama ini dan membatalkan pertunangannya dengan Roy. Dan, Sophia adalah orang pertama yang bersorak kegirangan dan langsung memeluk sang sahabat dengan sepenuh jiwa.
—--
Emilia yang baru selesai keluar dari kantor jam sembilan malam, langsung disambut oleh mobil Julian beserta supirnya yang sudah menunggu di lobi sejak tadi.
__ADS_1
"Pak, sudah dari tadi?" Emilia melihat ke kanan dan ke kiri. Suasana sepertinya sudah aman tidak ada yang melihatnya. Semua karyawan sudah meninggalkan kantor pada jam ini.
"Baru saja, nyonya." Jawaban pak supir itu tentu saja tidak ditelan mentah-mentah oleh Emilia karena bekas puntung rokok yang cukup banyak ada di dalam asbak yang terbuat dari besi itu.
Emilia tersenyum dan enggan untuk berdebat lagi. Dia pun bergegas masuk ke dalam mobil sebelum ada yang melihat dirinya memasuki mobil bos mereka.
Begitu sampai di dalam mobil, Emilia langsung menyandarkan kepalanya ke belakang sandaran kursi. Pekerjaan yang menumpuk dan jam kerja yang panjang, sangat melelahkan baginya. Emilia pun langsung terlelap tidur hingga akhirnya mobil sampai di parkiran apartemen.
"Nyonya, sudah sampai. Nyonya,"
Setelah beberapa kali panggilan, Emilia pun terbangun dengan wajah yang masih sangat mengantuk dan lemas.
"Terima kasih, pak." Suasana basement yang sunyi senyap dan cukup gelap, membuat Emilia berjalan cepat-cepat agar sampai ke dalam apartemennya. Beruntung tidak ada kejadian yang membuatnya ketakutan.
Sesampainya di dalam apartemen milik Julian, Emilia langsung menuju kamarnya untuk mandi terlebih dahulu lalu mengganti pakaian tidur. Perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi, memaksanya untuk memasak makanan untuk dirinya sendiri sebelum tidur.
Dengan kaos longgar kebesaran, Emilia keluar dari kamarnya setelah mandi dan handuk di atas kepala membungkus rambut panjangnya yang masih basah.
Setelah lebih dari dua puluh menit, akhirnya sepiring spaghetti dengan saus bolognaise dan tambahan nugget ayam dan sosis sudah tersaji di atas piring. Emilia memilih membuat teh manis hangat sebagai pelengkap makanan malam ini.
Sambil melahap makanannya seorang diri, dia menatap ke seluruh ruangan yang sangat luas namun sepi itu.
"Apakah seperti ini keseharian Julian? Sepi dan sendirian. Tapi, aku rasa dia tidak akan pulang cepat ke apartemen setiap hari. Dia pasti berkumpul dengan teman-temannya di klab malam atau kafe. Huft," Emilia kembali menyuap helaian spaghetti yang semakin enak dirasa ke dalam mulutnya.
"Apa Julian sudah tidur?" Emilia menatap layar ponselnya yang gelap. Pucuk dicinta ulampun tiba. Baru saja berkata beberapa detik, tiba-tiba layar ponselnya bercahaya karena ada panggilan video masuk dari pria yang ditunggu-tunggunya. Emilia merapihkan pakaiannya sejenak dan mengambil angle yang tepat sebelum menerima telpon.
"Halo, lagi apa?" Tampak Julian sedang duduk di atas kursi dengan ponselnya diletakkan di atas meja.
"Aku baru sampai rumah dan sekarang sedang makan malam. Kamu sudah makan?" Emilia bertanya balik. Julian melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
__ADS_1
"Ini sudah malam sekali. Kamu baru pulang?" Tanya pria yang langsung menyandarkan punggungnya di kursi belakang.
"Ya, aku lebih baik menghabiskan waktu di kantor daripada sendirian di apartemen besar ini." Jawab Emilia sambil memasukkan kembali helaian spaghetti ke dalam mulutnya.
"Kamu makan apa? Mie?"
"Bukan, ini spaghetti."
"Sama saja. Kenapa kamu tidak makan nasi? Kamu bisa sakit kalau makan instant begitu." Julian tampak sangat mengkhawatirkan istri tercinta yang berada jauh di negara seberang.
"Besok aku akan makan nasi. Ini sudah malam. Kamu belum menjawab pertanyaanku." Emilia menagih kembali jawaban dari pria yang wajahnya juga tampak sangat lelah.
"Pertanyaan apa? Oh soal makan. Aku sudah makan tadi sore. Dan, aku baru sampai kamar hotel. Emilia,"
"Hmm,"
"Do you miss me?"
"Uhuk uhuk," Spaghetti yang baru mau melewati tenggorokannya, seperti menyangkut tidak bisa ditelan juga tidak bsia dikeluarkan, ketika mendengar pertanyaan Julian.
Julian justru tersenyum tipis. Dia tahu penyebab sang istri batuk adalah pertanyaannya.
"Kenapa sekarang kamu tidak menjawab?" Tanya Julian balik.
"Aku harus jawab apa?" Tanya Emilia lagi setelah menenggak minuman untuk melegakan tenggorokannya.
"Do you miss me?" Julian mengulang pertanyaannya. Emilia tampak diam dan bingung. Dia tidak mungkin jujur mengatakan rindu pada pria yang sudah mendapatkan mahkotanya dan juga memberikannya kehidupan yang sangat nyaman dan lebih baik. Rindu? Apakah rindu itu ketika sedang sendirian dan mengharapkan kedatangan dan kehadiran seseorang di sisi kita? Emilia belum tahu apa itu rindu jika pada pria yang langsung menjadi suaminya karena mereka belum pernah pacaran sebelumnya.
"Dari ekspresimu sepertinya kamu …"
__ADS_1
"I miss you too," Jawab Emilia tiba-tiba.