
"Ka-kamu bisa keluar sekarang." Pinta Sophia pada Edwin yang justru berdiri di samping Sophia.
"Hehehe, baiklah." Alih-alih berdiri, Edwin hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Sophia yang menghela napas kehabisan kata-kata.
Edwin benar-benar tidak melakukan apapun pada Sophia. Sebaliknya, pria itu justru mandi di bawah kran shower, sementara Sophia menunggu di samping bathtub yang air hangatnya semakin lama semakin penuh. Hingga dirasa sudah cukup, wanita yang masih merasakan pegal luar biasa di sekujur tubuhnya itu hendak berdiri untuk melangkah masuk ke dalam bathtub namun tiba-tiba tubuhnya kembali terangkat ringan karena Edwin yang menggotongnya ke dalam.
"Aku merasa bertanggung jawab karena sudah membuatmu seperti ini." Senyuman Edwin yang lembut dan menusuk hati seorang Sophia mampu menenangkan hati wanita yang hatinya sudah berbunga-bunga sejak pertama bertemu pria ini.
Setelah membersihkan tubuhnya masing-masing, Edwin kembali menggendong Sophia menuju kamar untuk berganti pakaian.
"Aku bisa sendiri. Kamu tolong keluar, ya," Pinta Sophia dengan tatapan memelasnya. Edwin terkekeh melihat tatapan penuh harap wanita yang mereka telah habiskan malam bersama itu.
"Aku sudah melihat seluruh tubuhmu inci demi inci. Jadi, kamu tidak perlu malu lagi. Namun, biar bagaimanapun kita butuh sarapan. Aku akan membuat sarapan untuk kita berdua. Kamu bisa keluar setelah sarapannya siap." Edwin mengecup tipis bibir Sophia dan memakai kembali pakaian yang berserakan di atas lantai kamar.
Sepeninggal Edwin, Sophia meraba bibirnya yang baru saja mendapatkan kecupan manis di pagi hari. Bibirnya menyunggingkan senyuman malu-malu.
***
"Pagi ini kita akan mengunjungi Taman Bunga. Apakah kamu sudah pernah kesana?" Julian dan Emilia yang sedang menikmati sarapan di restoran hotel, merencanakan apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan hari terakhir sebelum besok pagi-pagi mereka harus check out.
"Taman Bunga? Sepertinya aku belum pernah kesana." Emilia memiringkan dagunya. Dia yakin belum pernah kesana karena dia sendiri baru mendengar nama tempat wisata itu beberapa detik yang lalu.
"Sayang, kamu sebenarnya pernah liburan ke mana saja?" Tanya Julian penasaran, sambil menyuap daging steak yang telah dipotongnya kecil-kecil.
Emilia merasa kalau pertanyaan Julian lebih kepada mengetesnya atau mempertanyakan apa saja yang pernah wanita itu lakukan selama hampir tiga puluh tahun hidupnya, bahkan ke Puncak saja belum pernah. Emilia hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang dia pilih untuk makan paginya.
Julian melihat sikap istrinya yang enggan untuk menjawab, merasakan sedikit penyesalan atas apa yang telah dia ucapkan tanpa berpikir panjang sebelumnya.
"Kita akan sering pergi bersama setiap harinya. Aku akan membawamu pergi liburan setiap akhir pekan ke tempat manapun yang kamu ingin kunjungi."
__ADS_1
"Julian, jangan membuat aku menjadi sangat berharap padamu."
"Apa maksudmu?" Julian mengerutkan alis tidak mengerti.
"Kamu tahu kan? Pernikahan kita …."
"Pernikahan kita akan berlangsung selamanya. Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya?"
"Tapi, aku …." Emilia diam tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Kamu?"
"Aku …."
Sang pria menyeka mulutnya yang telah selesai sarapan.
"Emilia, setelah kita memutuskan untuk menikah selamanya dan akan melakukan resepsi untuk umum, aku ingin kita berdua mulai sekarang mengumumkan pernikahan kita di hadapan semua karyawan kantor."
"Aku tidak mau. Maksudku, aku tidak mau dalam waktu dekat ini. Tunggu beberapa bulan lagi baru kita … umumkan. Aku … belum siap menghadapi komentar-komentar pedas dari orang-orang yang tidak suka dengan hubungan ini." Jawab Emilia lagi.
"Mau sampai kapan kamu menunggu? Sampai perut kamu membesar karena mengandung anak kita?"
Byurrrr …
Emilia yang sedang menenggak minuman, langsung menyemburkan air minum yang baru sampai tenggorokan ke wajah Julian tanpa disengaja.
"Astaga, ya ampun. Maafkan aku," Emilia mengambil tissue dan buru-buru menyeka wajah sang suami yang justru terkekeh. Baru kali ini seumur hidupnya wajahnya disembur air dan itu oleh wanita yang dicintainya.
"Kamu kaget aku berkata kalau kamu hamil?" Julian memegang tangan sang istri dengan lembut dan menatapnya penuh cinta seperti sejak awal dia mengenal Emilia.
__ADS_1
"Ka-kamu yang bicara sembarangan. Mana ada hamil secepat itu?" Emilia menjadi gugup karena tangannya digenggam pria yang sangat terobsesi padanya itu di depan umum. Dia bisa melihat beberapa pasang mata menatap mereka dengan berbagai raut muka berbeda.
"Kenapa tidak? Atau … ini adalah kode dari istriku agar aku bekerja lebih giat lagi untuk menghamili kamu?" Julian mengedip nakal satu matanya dan itu sukses membuat Emilia salah tingkah bukan main.
"Jangan bicara sembarangan. Ayo cepat kita pergi ke taman apa itu namanya." Emilia buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum Julian semakin liar dengan imajinasi mesumnya. Lagi-lagi pria itu terkekeh melihat rona merah wajah istrinya yang tampak sangat malu.
***
"Aku tidak akan pernah memaafkan bajingan itu. Aku akan membuatnya malu di depan semua karyawan kantornya." Roy mengepalkan tangan kesal bukan main. Sesampainya dia di Jakarta, dia langsung menempati rumah pribadinya dekat kantor karena tidak ingin ketahuan kalau dirinya habis dihajar oleh orang tak dikenal dan dia tidak ingin diberikan rentetan pertanyaan oleh ayahnya.
Sementara itu, di hadapannya juga duduk Netta dengan wajah merah membara menahan amarah. Belum pernah dia dipermalukan seperti itu seumur hidupnya. Video asusila antara dia dan Roy akan dijadikan kartu AS oleh Julian jika keduanya mengganggu istrinya lagi.
Netta menggigit jari dengan kesal.
"Aku tidak mau kalau nama baikku jadi hancur. Kamu harus cari cara agar kita tidak bisa ditindas seperti ini." Netta menatap pria yang sedang mengepalkan tangan dengan kesalnya.
Tiba-tiba senyum lebar di bibir Roy terbit dan itu menandakan lelaki itu sedang merencanakan suatu ide buruk.
"Aku punya ide." Ucap Roy dengan seringai sinis.
"Sebaiknya ide kamu itu sangat bagus. Bukan hanya bagus, tapi harus sangat bagus. Aku tidak sabar ingin menenggelamkan Emilia hingga ke dasar laut paling dalam dan tidak akan bisa muncul lagi … selamanya." Ucap Netta dengan sangat geram.
"Sekarang, dengarkan aku dulu." Roy meminta Netta untuk mendekat ke arahnya karena sebuah ide yang gila dan sangat jahat sedang direncanakan oleh lelaki yang sudah tidak ada harganya di mata Emilia.
"Ide yang sangat brilian. Aku tidak sabar untuk segera melakukannya." Sepasang mata Netta berbinar-binar menatap Roy.
"Kali ini kita tidak boleh gagal lagi." Keduanya tersenyum dengan aura iblis yang sangat terlihat jelas.
Keesokan harinya, Roy dan Netta memanggil dua orang lelaki bayaran untuk memuluskan jalannya.
__ADS_1
"Aku ingin rencana ini berjalan dengan hasil yang memuaskan dan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Kalian tahu bayaran kalian sangat besar." Ucap Roy pada dua lelaki bertubuh tinggi besar dan tampang preman dengan tato di lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya. Kedua pria yang berdiri itu saling menatap satu sama lain dan mengangguk dengan seringai sinis mereka.
Netta yang menyaksikan rencana jahat itu tersenyum lebar penuh kemenangan meski rencana itu belum dieksekusi.