
Sepatu Julian yang sangat kencang menendang kursi hingga hancur berkeping-keping membuat Roy ketakutan luar biasa. Netta yang melihatnya pun berteriak ketakutan dan air matanya deras tumpah membanjiri pipinya.
Kalau Julian tidak ingat akan nasihat istrinya untuk tidak berbuat anarki, dipastikan Roy dan Netta akan mengalami cacat permanen mulai malam ini dan seterusnya.
Julian keluar dari gudang dan menyerahkan sepenuhnya langkah selanjutnya pada anak buahnya yang berjaga di luar. Dia harus segera sampai di hotel dan berbaring di sisi istrinya sebelum sang istri terbangun dan mencari keberadaanya.
"Kenapa aku baru menyadari kalau langit tidak menampakkan bintang lagi? Apakah seperti itu hidupku selama ini, baru menyadari banyak pecundang yang mempermainkan Emilia selama ini dan aku tidak memperhatikannya? Tenang saja sayang, aku pastikan tidak akan ada lagi yang berani mengusikmu." Julian membuang cerutunya ke atas tanah dan menginjaknya dengan sepatu pantofelnya.
"Uhhh," Emilia meraba-raba kasur di sebelahnya dengan mata masih terpejam. Dia tidak menemukan sang suami yang biasa memeluknya dengan penuh kehangatan. "Julian, Julian," Dengan suara masih lemas, Emilia mencoba duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa mengenakan selembar benang pun. Dia bisa melihat dengan jelas jam menunjukkan pukul satu malam, setelah mengucek-ucek matanya, "Julian,"
"Aku di kamar mandi, sayang." Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi. Emilia tersenyum lega mendengarnya.
Julian bergegas membersihkan tubuhnya dengan mandi dan sikat gigi. Dia tidak ingin istrinya tahu kalau dia baru saja kembali dari luar rumah dan menghajar dua pecundang yang selalu menyakiti istrinya berulang kali.
"Kenapa kamu bangun? Kami butuh sesuatu?" Julian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya mulai dari bawah perut hingga paha. Tetes air masih membasahi rambutnya yang belum kering benar.
"Kamu kenapa mandi malam-malam?" Emilia justru balik bertanya.
"Oh, aku tidak bisa tidur karena badanku lengket." Julian mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang dia pegang di tangan kanannya. Emilia justru terpana dengan bentuk tubuh suaminya. Bukankah dia sudah sering melihatnya tapi kalau ditutup setengah seperti itu, justru jantungnya semakin tidak aman berdetak.
"Ka-kalau begitu, aku akan mandi juga." Emilia turun dari kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Namun, sialnya dia kesandung ujung selimut yang tidak terlihat hingga terjatuh ke atas lantai dan selimutnya pun terlepas dari genggaman tangannya. Tak ayal lagi, tubuhnya terekspos sempurna di hadapan Julian yang langsung bergegas membantu sang istri yang terjatuh.
"Jangan menggodaku lagi. Kamu tahu kalau kamu adalah godaan terbesar buatku." Julian menatap tubuh sang istri dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. Emilia panik bukan main dan buru-buru mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya kembali.
__ADS_1
"Aaahh, aku tidak sengaja. Maafkan aku." Namun terlambat, Julian sudah mengangkat Emilia kembali ke atas kasur dan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah tubuhnya pun ditarik lepas dan dihempaskan ke sembarang tempat.
"Apa yang kamu lakukan? Aku … ummm," Julian membungkam mulut Emilia dengan ciuman panas yang menggelora. Dan, pria itu meminta kembali haknya untuk kesekian kalinya di malam menjelang pagi ini.
"Juliaaaan,"
***
Sementara di tempat lain, sepasang pria dan wanita masih tertidur pulas dengan posisi sang pria memeluk tubuh sang wanita dari belakang. Sinar matahari yang terik tidak bisa masuk menembus tirai jendela kamar karena posisi kamar yang menghadap barat dan juga tebalnya bahan tirai kamar, membuat mereka lupa kalau sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Uhhhh," Sang wanita terbangun lebih dahulu setelah membuka matanya perlahan. Dadanya terasa berat dan dia baru menyadari karena ada tangan yang kokoh dan berotot memeluknya dari belakang.
Mulut wanita itu menganga lebar. Dia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya dan matanya pun terpejam malu setelah berhasil mengetahui apa yang telah mereka berdua lakukan semalam.
"Selamat pagi, sayang." Kecupan manis mendarat tiba-tiba di pipi wanita itu yang tidak lain adalah Sophia. Pria yang menciumnya dari arah belakang, siapa lagi kalau bukan Edwin, pria yang baru dikenalnya beberapa hari namun sudah berhasil mencuri hatinya.
"Maafkan aku, sudah membuat kamu tidak bisa tidur semalaman." Ucap Edwin lagi dengan satu tangannya menopang kepalanya, dan satu tangannya lagi memainkan rambut panjang Sophia dengan memelintirnya lalu menyibakkan helaian rambut yang jatuh ke belakang telinganya.
Sophia menatap pria yang telah mengambil keperawanannya dengan malu-malu. Dia menutup setengah wajahnya dengan selimut.
"Edwin, berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan meninggalkan aku." Sorot mata penuh harap diberikan Sophia pada pria yang tidak ada jarak diantara mereka berdua itu.
"Aku berjanji. Apapun pekerjaan dan statusku saat ini, aku tidak akan pernah berpaling ke wanita lain. Dan, seorang Sophia akan selalu menjadi wanita yang Edwin inginkan dan rindukan setiap harinya."
__ADS_1
Hati Sophia meleleh mendengarnya. Seumur hidup dia tidak pernah mendengar pengakuan cinta dari mulut seorang pria. Sophia yang tegar dan mandiri itu tidak peduli dengan kisah cinta yang sering diceritakan teman-teman kantornya. Dia tidak tertarik dan bahkan tidak iri untuk memiliki seorang pria yang akan menjadi tambatan hatinya.
Edwin memeluk Sophia dan mengecup kening wanita itu lalu duduk untuk segera turun dari kasur.
"Aku akan mandi duluan." Ujar Edwin.
"Maaf, tapi aku ingin duluan, boleh? Aku tidak tahan untuk buang air kecil." Sophia memberikan tatapan memelas dan Edwin pun terkekeh seraya mengangguk.
"Aduhhh," Sophia terjatuh saat dirinya hendak turun dari kasur. Edwin yang kaget langsung berlari ke arahnya sambil memutari kasur.
"Kamu kenapa?"
"Aku … aaaaahh, celana kamu mana?" Alih-alih ingin mengatakan penyebab dirinya jatuh, Sophia justru menutup wajahnya malu karena Edwin berjongkok di hadapannya tanpa mengenakan selembar pakaian sama sekali.
Awalnya Edwin kaget tapi pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Diantara kita sudah tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku dan kamu sudah tahu lekuk tubuh masing-masing." Jawab Edwin dengan nada yang sangat menggoda telinga Sophia.
"Apa-apaan sih kamu?" Sophia memalingkan wajahnya malu-malu setelah melepas tangannya dari wajahnya. "A-aku tidak bisa berjalan. Pinggangku pegal luar biasa dan kedua pahaku seperti seperti mau patah." Ucap Sophia sambil meringis.
"Ahh maafkan aku. Kalau begitu, ayo aku gendong ke kamar mandi."
"Tidak … wooo, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri." Sophia sangat malu karena kondisinya saat ini benar-benar tidak pantas dan memalukan untuk dilihat. Berbanding terbalik dengan Edwin yang tidak peduli dan terus saja menggendong Sophia sampai mereka berdua berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ka-kamu bisa keluar sekarang." Pinta Sophia pada Edwin yang justru berdiri di samping Sophia.
"Hehehe, baiklah." Alih-alih berdiri, Edwin hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Sophia yang menghela napas kehabisan kata-kata.