
"Puftt," Julian terkekeh geli mendengar ucapan spontanitas dari sang istri. "Aku tidak pernah absen berolahraga setiap hari. Mungkin itu sebabnya tenagaku kuat. Maaf jika itu membuatmu tidak bisa mengimbangi." Seringai di bibir Julian tidak dilihat Emilia karena wanita itu lebih memilih menatap nasi goreng yang ada di atas piringnya.
"Bagaimana perjalanan bisnis kamu? Dan, juga setelah pulang ke rumah orang tuamu." Emilia mengganti topik pembicaraan untuk mengalihkan ucapannya yang memalukan.
"Semua berjalan sempurna. Kamu tahu kan kalau tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Mom and dad juga sangat menerima dengan baik pernikahan kita. Mereka senang mengetahui kalau kenyataannya aku masih pria normal." Sendok demi sendok suapan nasi goreng di piring Julian membuat piringnya hampir licin tak bersisa. Pria itu cepat sekali menghabiskan makanannya meski tidak pernah terlihat terburu-buru.
"Oh, syukurlah. Apa … mereka juga tahu kalau anaknya akan menjadi duda kurang dari satu tahun?" Pertanyaan Emilia membuat Julian menggenggam gelasnya erat-erat. Maksud hati ingin minum, namun justru seringai tipis yang terbit di bibirnya sebelum pada akhirnya dia memang menenggak habis minumannya.
"Emilia,"
"Yaa,"
"Bagaimana kalau aku tidak ingin mengakhiri kontrak 1 tahun ini?" Julian menatap Emilia lurus dan tidak berkedip sama sekali. Namun, justru sang wanita mengedipkan matanya berkali-kali dan mencoba mencari maksud dari pertanyaan Julian dari balik mata birunya.
"Itu tidak mungkin," Emilia memalingkan wajahnya dari menatap Julian dan kembali melihat piringnya yang masih banyak nasi goreng diatasnya.
"Kenapa tidak? Apa … kamu yakin bisa membayar lima ratus juta dalam waktu satu tahun? Bukankah itu uang dengan jumlah yang sangat banyak?" Entah mengapa Julian ingin sekali mengikat Emilia dengan hutang yang semakin menumpuk hingga tidak akan bisa terbayar agar wanita ini tidak bisa lari darinya.
__ADS_1
"Aku … aku memang tidak yakin. Tapi, aku juga sudah memberikan tubuhku untuk membayar kompensasinya." Bibir Emilia bergetar dan rahangnya mengeras. Tidak ada bedanya dia dengan perempuan yang menjual diri demi uang. Hanya saja, dia melakukannya atas nama pernikahan, bukan transaksi sekali pakai.
"Yang kamu bilang kompensasi itu adalah kewajiban sebagai seorang istri. Dan, kamu juga harus ingat kalau aku juga memberikan keperjakaanku padamu di malam pertama kita." Ucapan Julian membuat mata Emilia terbelalak lebar. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti ini sebagai topik makan pagi. "Jadi, tidak ada namanya kompensasi dalam pernikahan. Semua dilakukan atas nama hak dan kewajiban, Emilia." Julian mengakhiri ucapannya ketika melihat telinga dan pipi Emilia yang memerah dan bibirnya yang dia gigit sebelah.
Sungguh, saat ini juga ingin rasanya Julian meminta haknya kembali setelah melihat betapa lucu dan cantiknya sang istri meski tanpa make up sama sekali.
"Habiskan makananmu lalu temani aku menonton tv. Sayang sekali punya tv tapi tidak pernah dimanfaatkan." Julian mengusap puncak kepala Emilia yang masih diam menatap piringnya yang masih terisi penuh nasi goreng. Emilia tidak menjawab apapun. Karena dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.
Sebuah kontrak pernikahan yang sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikirannya, benar-benar dia harus alami karena ingin terbebas dari keluarga Roy. Emilia ingin mengubah masa depannya yang menyedihkan. Namun, siapa sangka kalau solusi satu-satunya adalah menikah dengan bos tempatnya bekerja.
Pernikahan yang tidak ada satupun dari karyawan dan teman-temannya yang tahu sehingga tidak ada yang mengucapkan selamat padanya. Hanya neneknya yang tahu dan orangtua Julian.
Setidaknya, aku tidak menerima siksaan dan tekanan batin. Aku masih bisa bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Aku tidak dikurung dengan rutinitas atas nama kewajiban seorang istri. Aku tidak diperlakukan semena-mena oleh keluarga yang tidak menyukaiku, setidaknya itu belum dilakukan keluarga Julian karena mereka belum bertemu satu sama lain.
Setelah menghabiskan sarapannya, Emilia membersihkan bekas peralatan memasak Julian dan makan pagi mereka. Meja yang sudah licin dilap dan kursi yang sudah dirapatkan kembali, membuat dapur terlihat lebih rapih dan enak dipandang.
Mareta melangkah menuju ruang tengah tempat dimana semua aktivitas normal berada. Tv dan sofa putih mendominasi interior ruangan tersebut. Disana duduk pemilik apartemen ini dengan satu tumit kaki diangkat ke atas tumit lainnya. Pria itu tampak sangat elegan dan berkelas seperti memang seharusnya. Pakaian santainya berupa kaos sedikit longgar dan celana panjang kebesaran yang serba putih menandakan kalau di lemari pakaiannya hanya ada dua warna, hitam dan putih.
__ADS_1
"Sial! Pria itu sangat tampan mau dilihat dari sisi manapun." Gumam Emilia sambil menghela napas panjang.
"Kenapa diam saja disana? Kemarilah, temani aku menonton. Aku ada film terbaru yang pasti kamu sukai." Julian menekan remote yang dipegangnya. Emilia pun menghampiri Julian dan duduk di sebelahnya.
Melihat Emilia yang menjaga jarak duduknya, Julian tersenyum tipis dan mengangkat bokongnya untuk mendekat ke arah istri yang tampak gugup itu. Julian memeluk bahu Emilia dan mendekapnya lebih erat ke arahnya. Jantung Emilia seperti berlompatan tidak karuan kesana kemari. Andaikan Julian bisa mendengarnya, sungguhlah dia sangat malu. Sudah beberapa kali mereka melakukan hubungan suami istri namun Emilia masih merasa gugup jika berada di dekat Julian.
"Film apa yang akan kita tonton?" Emilia mencoba mengusir rasa gugupnya.
"Ini," Julian memberikan majalah yang diatasnya terdapat cover tentang sebuah film barat tentang percintaan sepasang pria dan wanita yang berbeda status sangat jauh. Emilia tidak menyangka selera tontonan Julian seperti ini.
"Kenapa? Apa kamu bertanya-tanya tentang selera film yang aku tonton?" Julian lagi-lagi tersenyum tipis sehingga Emilia merasa salah tingkah.
"Apa dia bisa membaca pikiranku?" Kerutan di dahi Emilia membuat Julian terkekeh.
"Aku menyukai semua genre film. Tapi hanya satu yang aku tidak sukai, semua yang berbau film Korea. Aku heran pada wanita yang tergila-gila pada pria kurus dan wajah seperti perempuan itu." Julian memiringkan dagunya tidak mengerti dengan selera kebanyakan perempuan saat ini.
Emilia melebarkan matanya. Dia pasti akan terkejut setengah mati kalau aku mengoleksi semua tentang Song Seung Heon. Pria tampan dan karismatik juga belum menikah sampai saat ini itu adalah pria khayalannya dalam mimpi. Emilia pernah berkhayal jika suatu waktu menikah dengan aktor Korea itu, pastilah dia akan menjadi wanita paling berbahagia di dunia ini. Begitulah khayalan para fans yang kadang di luar nalar.
__ADS_1
Namun, Emilia tidak ingin berdebat dengan pria yang pasti tidak akan bisa dimenangkan karena kata-kata Julian memang ada benarnya. Setidaknya itu menurut para orang awam yang tidak memiliki idola tersendiri.