If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
19. Mengunjungi Nenek (1)


__ADS_3

"Dua hari lagi. Saat jam makan siang, aku akan mengajaknya bertemu berdua saja." Jawab Netta.


"Ide yang bagus. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah menaruh hatiku padanya. Wanita udik dan rendahan seperti dia, tidak pantas dibandingkan dengan kamu yang seksi dan selalu membangkitkan seleraku." Jawab Roy sambil menggigit bibirnya biar terlihat lebih seksi.


"Selera kepalamu!" Rutuk Netta dalam hati. Sungguh andaikan Roy bisa membaca hati dan pikiran Netta, dia pasti akan membuang wanita perebut lelaki orang itu jauh-jauh.


"Jadi, yang kamu harus lakukan adalah muncul di belakangnya dan langsung duduk di sampingnya. Dengan begitu, dia tidak akan melarikan diri lagi." Ucap Netta sambil menyeringai sinis. Wanita itu merasa rencananya sangat sempurna sehingga tidak akan ada lagi yang menggagalkannya. Senyuman iblis pun terbit di bibir Roy yang sudah membayangkan warisan dan mobil yang telah disita ayahnya akan kembali ke tangannya.


"Bagaimana kalau janjiannya di restoran hotel? Aku akan memesan satu kamar dan membuatnya mabuk lalu aku akan membawanya ke kamar." Roy memiliki usul yang dianggapnya lebih baik lagi. Netta tidak menyangka kalau kadar dendam Roy sebegitu besarnya atas penolakan Emilia. Namun, dia tidak akan ikut campur lebih jauh. Hubungannya dengan Roy hanyalah simbiosis mutualisme. Sama-sama saling membutuhkan namun tidak mengikat.


"Terserah kamu saja. Aku akan atur dengan dia nanti. Sekarang, aku lapar setelah berkeliling belanja. Makanan sudah datang. Ayo kita makan dulu." Pinta Emilia pada pria yang menghela napas lelah. Lelah karena banyak yang harus dipikirkan karena semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.


"Setelah ini, kita ke rumah kamu. Aku ingin menginap di rumah kamu." Ucap Roy, setelah makanan tersaji di hadapan mereka dan pelayannya pergi.


"Apa?" Netta menganga bengong.


"Kenapa? Aku sudah membayarkan kamu belanjaan dan makanan. Apakah aku tidak akan mendapatkan imbalannya? Hmm?" Roy menaikkan satu alisnya, seolah berkata kalau Netta harus membayarnya tuntas hari ini juga … dengan tubuhnya.


"SIAL! Padahal aku sudah ada janji ke puncak dengan pria lain." Rutuk Netta dalam hati.


—--

__ADS_1


"Kamu yakin tidak mau aku antarkan?" Julian masih berdiri mengamati istrinya yang berjalan terseok-seok sambil sesekali menahan perih dibagian bawahnya. Pria itu benar-benar meminta haknya sekali lagi setelah mandi. Sedangkan, Emilia berusaha berjalan dengan pakaian yang sudah rapi dan tas yang diselempangkan di satu bahunya. Saat tidak sedang bekerja, Emilia tampak seperti seorang mahasiswi dengan kaos oblong dan rok jeans selututnya, juga sepatu kets andalannya.


"Aku baik-baik saja." Emilia menatap tajam pria yang sedang berdiri dan memasukkan dua kepalan tangannya ke dalam saku celana.


"Sial! Kenapa dia harus tampan dan gagah sekali? Dan, kenapa aku tidak bisa menolaknya saat dia memintanya lagi? Huft, ini kan hanya pernikahan sementara. Sadarlah, Emilia!" Gumam Emilia dalam hati sambil mengutuk dirinya sendiri.


"Kenapa? Ayolah aku antarkan. Hari ini juga aku tidak ada acara. Aku tidak mau kamu susah berjalan seperti itu seorang diri" Ucap Julian sambil mengambil kunci mobilnya lalu berjalan menghampiri sang istri yang tampak kesal terlihat jelas di wajahnya.


"Tapi, aku bisa sendiri. Aku tidak ingin status kita terbongkar." Emilia sebenarnya butuh bantuan Julian untuk sekedar mengantarkannya ke rumah neneknya di kampung. Rumah yang mereka tinggali sudah lama ditinggalkan dan neneknya kembali ke rumah utamanya di Jember. Rumah pemberian kakek tercinta yang terpaksa ditinggalkan karena harus menemani Emilia di kota besar sejak cucu satu-satunya itu sekolah sampai bekerja.


"Di sana tidak akan ada yang mengenalku. Lagi pula kamu kesana mau naik apa?" Tanya Julian lagi. Kalau berhadapan begini, perbandingan tinggi antara Julian dan Emilia terlihat jelas. Emilia harus mendongakkan kepalanya kalau berbicara dengan Julian.


"Aku akan ke bandara untuk pesan tiket di sana pulang pergi." Jawab Emilia.


"Charlie akan mengurus tiketnya untuk kita. Aku tidak tahu kita akan pulang kapan jadi aku belum pesan tiket untuk pulang. Sekarang ayo kita bersama-sama menuju bandara." Ucap Julian.


"Tapi,"


"Sudahlah, jangan banyak tapi-tapi. Jalan saja tidak bisa, mau pergi jauh. Lagipula, aku ingin bertemu nenek dan mengatakan padanya kalau aku adalah suami dari cucunya yang keras kepala." Jawab Julian sambil menyeret koper Emilia.


"Pakaian kamu? Kamu tidak bawa apa-apa?" Emilia menghentikan langkah kakinya menuju pintu.

__ADS_1


"Aku bisa beli di bandara." Jawab Julian tidak peduli. Baginya memegang dompet dan ponsel sudah cukup untuk pergi kemanapun sesuka hatinya. Hanya perempuan yang memikirkan banyak persiapan.


Emilia menyerah kalah dengan perdebatan siang ini. Dia tahu dia tidak akan menang jika berdebat dengan Julian, bos sekaligus suaminya. Keduanya keluar dari apartemen menggunakan mobil yang diparkir di basement.


Setelah Emilia masuk kedalam mobil dan duduk di samping kemudi, tiba-tiba sebuah suara wanita memanggil dari kejauhan.


"JULIAN!" Emilia masih mendengar suara itu sebelum pintu ditutup dan kaget bukan main. Dia langsung menunduk menyembunyikan tubuhnya di bawah dasbor.


Julian mengernyitkan dahi melihat wanita yang tidak ingin dilihatnya itu muncul, Roxane.


"Ada apa?" Jawab Julian sambil hendak memutar tubuhnya menuju kursi kemudi.


"Aku ikut!" Wanita yang selalu tampil dengan busana seksi dan dandanan menor itu tidak tahu kalau ada wanita di dalam mobil Julian. Kaca mobil yang hitam membuat isi di dalam mobil tidak akan terlihat dari luar.


"Aku tidak bisa. Pergilah! Aku sedang banyak urusan." Julian bergegas masuk ke dalam mobil karena ingin buru-buru mengunci pintu dari dalam.


"JULIAN! JULIAN! BUKA PINTUNYA!" Roxane menggedor-gedor kaca jendela di sebelah Julian namun Julian tidak mempedulikannya. Pria itu menekan pedal gas dan meninggalkan tempat parkir bersama wanita yang berteriak kencang memanggil-manggil namanya.


"Huft, hampir saja." Emilia keluar dari persembunyiannya dan duduk kembali dengan tenang.


"Kita tidak bisa sembunyi terus menerus. Apa kamu bisa begini selama satu tahun ke depan?" Julian menyetir mobil dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya membantu Emilia mengencangkan sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin menjadi santapan gosip miring karena bercerai setelah satu tahun." Jawab Emilia sendu. "Kelak setelah kita berpisah, aku harap saat kita bertemu dijalan, kita tidak akan meninggalkan kenangan buruk satu sama lain dan masih bisa terus berbicara santai seperti tidak ada yang terjadi. Itu harapanku." Emilia tersenyum lebar pada Julian yang justru dibalas dengan ekspresi geram oleh pria yang mengeras rahangnya.


__ADS_2