If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
30. Tidaklah Seburuk Yang Dipikirkan


__ADS_3

Emilia baru ingat kalau dia belum memberitahu dimana dia tinggal sekarang ke Sophia.


"Tidak usah repot-repot. Aku baik-baik saja dan besok aku akan kembali masuk bekerja." Ucap Emilia dengan senyum dipaksakan.


"Ya sudah, istirahat saja ya. Telpon aku kalau kamu butuh apa-apa ya. Si Roy gila itu bisa berbuat nekat sewaktu-waktu. Jadi kamu hati-hati di rumah sendirian. Kunci pintunya dan lihat-lihat dulu siapa orang yang mau datang sebelum kamu buka pintunya." Sophia benar-benar mengkhawatirkan nasib temannya ini setelah melihat aksi nekat Roy yang memaksa untuk menemui Emilia.


"Tapi, aku tinggal di apartemen yang sangat aman dan tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali pemiliknya tentu saja." Gumam Emilia dalam hati.


"Iya, terima kasih. Maaf ya aku pulang duluan."


"Bye, see you tomorrow,"


Sophia dan Emilia saling melambaikan tangan. Sepanjang jalan menuju lift dan lobi, Emilia hanya memikirkan apa yang dikatakan Roy saat di lantai satu dan apa yang dikatakan Julian saat mereka berpapasan beberapa menit yang lalu.


Julian sudah meminta Emilia untuk pulang diantarkan supirnya saja. Sesampainya di lobi, supir bosnya alias suaminya itu sudah menunggu di pintu masuk.


"Pak,"


"Nyonya,"


"Jangan panggil saya nyonya kalau di tempat umum," Emilia mendekati sang supir dan berkata dengan suara yang hanya didengar mereka berdua.


"Baik, maafkan saya." Sopir itu mengangguk meminta maaf namun Emilia tersenyum dan mengatakan tidak apa. Istri rahasia bos CEO itu pun langsung bergegas naik ke mobil, khawatir kalau-kalau ada temannya yang melihat.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Emilia langsung mengganti bajunya dengan pakaian santai. Kaos oblong longgar dan celana pendek sebatas paha adalah yang biasa dia lakukan di rumah dan dia pun mengambilnya dari koper yang dibawanya dari rumah.


Dia tidak ingin memikirkan apapun hari ini. Yang Emilia inginkan saat ini hanya memasak. Baginya memasak adalah mood booster di kala hati gundah dan galau.


"Aku masak apa ya? Hmm, apa aku buat bolu karamel saja? Sudah lama aku tidak membuat kue bolu." Emilia pun mempersiapkan bahan-bahan dan alat yang diperlukan. Rambutnya yang panjang dan lebat digulungnya hingga ke atas, celemek yang tergantung di samping lemari pendingin pun dikenakan. Penampilan Emilia yang sangat santai, tidak ubahnya seperti chef yang sedang memasak makanan menu istimewa untuk pelanggan VVIP.


Berkutat dengan tepung, telur, dan bahan lainnya membuat Emilia tidak menyadari kalau sejak tadi Julian sudah masuk dan berdiri dari jarak tidak bisa dibilang jauh menyaksikan sang istri sedang memunggunginya sambil menuang adonan ke dalam loyang. Tidak ada musik yang menemaninya. Hanya bunyi mesin pencampur adonan atau mixer dan bunyi loyang yang kadang saling berbenturan tanpa sengaja.


Julian merasakan tiba-tiba ada angin segar yang menembus dadanya. Apartemen yang biasanya sunyi sepi tanpa ada kehidupan sama sekali, kini terasa hidup dan penuh warna. Kini selalu ada makanan di atas meja, sering terdengar bunyi peralatan masak dari dapur, kadang bunyi tv di ruangan tengah.


Bukannya merasa terganggu tapi Julian justru sangat menikmati semua perubahan ini. Ternyata ada orang lain di apartemen ini lebih menyenangkan, dan tidak semengerikan yang dibayangkan.


"Ya ampun, kapan kamu datang? Kenapa tidak bilang?" Emilia terkejut dan hampir menjatuhkan loyang yang dia pegang setelah dikeluarkan dari oven.


"Oh, syukurlah kalau begitu," Gumam Emilia dengan suara yang sangat rendah.


"Kamu bilang sesuatu?" Tanya Julian sambil mengerutkan dahi.


"Oh tidak tidak. Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Aku sedang membuat kue bolu. Aku buatkan minuman ya." Emilia menggenggam kedua tangannya di belakang tubuhnya sambil tersenyum lebar. Julian mengangguk-angguk dan berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju.


Tidak lama kemudian, pria itu keluar kamar dengan kaos oblong lengan pendek warna hitam pas di badan sehingga menampakan otot dadanya yang kokoh dan lebar. Dipadupadankan dengan celana panjang bahan warna putih, membuat penampilannya lebih santai namun seperti seorang model yang sedang berjalan di catwalk.


"Apa sudah matang kuenya?" Julian duduk di kursi tinggi mini bar yang tersedia di luar dapur. Konsep dapur di dalam apartemen Julian ini adalah bisa dilihat dari luar dan hanya diberi pembatas sekat setengah dari badan. Dan di bagian pembatas itu tersedia meja dan kursi tinggi di bagian luarnya.

__ADS_1


"Sekitar lima belas menit lagi." Ucap Emilia setelah melihat waktu di jam dinding yang menempel di tembok atas pagar dapur.


"Kalau begitu, kemari duduk sebentar. Aku ingin bicara denganmu." Julian menepuk kursi tinggi yang ada di sebelahnya. Emilia sudah menduga, kepulangan Julian dan idenya untuk menyuruhnya pulang lebih dulu adalah untuk membicarakan apa yang telah terjadi di kantor beberapa jam yang lalu.


Segelas air minum dingin diberikan Emilia pada Julian yang diterima sang pria dengan ekspresi senyuman tipis.


"Aku tidak akan bertanya apa yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu sudah sangat keterlaluan. Aku tidak bisa tenang meninggalkan kamu sendirian pulang pergi selama aku tidak ada." Julian menenggak minuman dingin itu dua kali tegukan lalu meletakkan kembali gelasnya dalam genggamannya.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dan kali ini aku akan lebih mawas diri dan cepat lari kalau dia ada di sekitarku." Jawab Emilia, berusaha meyakinkan sang suami kontraknya. Ketidakhadiran Julian di apartemen setidaknya membuat Emilia bisa bergerak bebas dan tidak ragu-ragu untuk pulang pergi.


Julian menyeringai seolah meragukan tekad sang istri yang beberapa waktu lalu masih menangis dalam dekapannya.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku ke Singapore? Hanya dua hari dan lagipula aku tidak tenang meninggalkan kamu sendirian tanpa teman disini." Ucap Julian sambil memalingkan wajahnya lurus ke arah depan. Ke arah oven yang sedang memanggang bolu buatan istri tercinta.


"Ikut ke Singapore? Kamu ingin rahasia ini terbongkar?"


"Kenapa tidak? Aku tidak takut. Apakah kamu yang takut?" Tanya Julian lagi.


"Peraturan di perusahaan tidak memperbolehkan cinta lokasi. Kalau ada yang ketahuan, salah satunya bisa dipecat. Aku tidak mau dipecat karena sudah pasti bukan kamu yang dipecat karena kamu seorang CEO. Mencari pekerjaan itu susah, tidak semudah yang orang lain kira." Emilia berkata dengan suara berapi-api.


"HAHAHAHA," Julian tertawa terbahak-bahak dengan lepasnya. Sudah lama pria itu tidak merasakan tertawa sepuas ini. Statusnya sebagai seorang pemimpin harus terus terlihat baik dan berwibawa di mata bawahan dan rekan kerja. Dia yang sebelumnya tidak memiliki orang dekat, tidak bisa menunjukkan ekspresi yang ada di hatinya pada siapapun.


Namun kini, Julian merasakan bahwa pernikahan kontrak yang dia lakukan tidaklah seburuk yang dipikirkan.

__ADS_1


__ADS_2