
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi, sepertinya aku sudah tidak bisa menahan lagi rasa ini." Secara tiba-tiba Edwin memajukan tubuhnya dan mencium tipis bibir Sophia yang sangat membuatnya tergila-gila sejak tadi. Sophia tidak menyangkalnya karena hati kecilnya juga menginginkan sentuhan dari Edwin.
Dimulai dari ciuman tipis-tipis, Edwin seperti kecanduan dan meminta lebih. Dan tubuh Sophia menjawabnya dengan jujur. Wanita itu memundurkan punggungnya hingga akhirnya tubuhnya tersandar ke belakang sofa. Edwin melakukan ciuman lebih dalam lagi dan lebih intens. Kini bukan hanya bibir sang wanita yang dicecapnya, melainkan leher Sophia ikut disesapnya kuat-kuat hingga meninggalkan jejak kissmark yang cukup lebar di dekat bahu sang wanita.
Sophia mendesis menahan geli dan hasrat yang sudah lama ditahannya. Dia juga wanita normal yang membutuhkan sentuhan dan belaian seorang pria. Namun, kehidupan yang keras memaksanya untuk membuang jauh-jauh semua nalurinya yang paling dalam tersebut.
Sophia adalah wanita yang mengedepankan logika untuk setiap hal yang ingin dilakukannya. Dia yakin betul kalau pekerjaan yang memberikannya kehidupan yang lebih baik adalah hal yang harus diperjuangkan lebih baik dibandingkan rasa cinta yang absurd dan terlalu melelahkan.
Dia sering mendengar curhatan beberapa teman kantornya yang telah memiliki seorang kekasih bahkan suami, kini tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri lagi. Mereka dipaksa harus mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk pria yang belum tentu bisa memberikan kebahagian seumur hidup. Waktu bahagia dan nyaman yang mereka miliki saat sebelum menjalin hubungan serius, sudah tidak lagi mereka miliki. Semua harus dilakukan atas dasar kompromi. Dan, jika kompromi itu tidak tercapai, maka pihak wanitalah yang harus mengalah.
Itulah mengapa sampai saat ini Sophia enggan untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan pria manapun. Baru saja dia akan membuka hatinya dengan seorang pria bernama Alfred namun alam semesta sepertinya belum berpihak pada mereka. Tapi entah mengapa dengan Edwin yang hanya seorang petugas keamanan, semua jalan seperti dibuka lebar-lebar dan semua kesempatan dimudahkan.
"Tu-tunggu dulu," Sophia mendorong dada Edwin yang sudah menempel erat padanya sejak tadi. Edwin meletakkan kepalanya di bahu wanita yang napasnya memburu dan dadanya naik turun itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya lagi."
"Kyaaaa,"
Tubuh Sophia diangkat dengan mudahnya oleh Edwin dan pria itu membawa sophia di kedua tangannya menuju kamar tidur Sophia yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Sophia benar-benar tidak bisa mengatakan apapun. Bibirnya terkunci rapat namun jantungnya terus berdegup kencang tidak berhenti. Kedua tangannya reflek memeluk leher pria yang sedang menggendongnya menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua.
BRAK!
Pintu kamar dibuka oleh Sophia namun ditutup oleh kaki Edwin dengan sekali dorongan.
Langit diluar sana yang gelap namun belum sepenuhnya gelap gulita, heningnya rumah tanpa suara-suara sama sekali, menjadi saksi bisu betapa dua anak manusia yang telah dewasa sedang menumpahkan hasrat terpendam yang sudah lama dikubur dalam-dalam.
Malam ini merupakan malam bersejarah bagi keduanya karena ini adalah malam penyerahan diri mereka seutuhnya untuk pertama kalinya. Baik Sophia dan Edwin tidak pernah melakukan hal seintim ini dengan orang lain. Hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri, terpatahkan karena situasi yang mendukung.
Suara-suara keduanya menggema ke seluruh isi kamar dan membuat siapapun yang mendengarnya akan menutup telinga karena malu. Sophia hanya berharap dia tidak membuat keputusan yang salah karena dia sudah terlanjur memberikan mahkota satu-satunya yang dimiliki oleh seorang wanita.
***
Perjalanan dari kamar hotel menuju satu tempat khusus yang lebih layak disebut gudang itu hanya memakan waktu kurang dari sepuluh menit. Julian ingin segera sampai di sisi sang istri sebelum Emilia bangun dan menyadari kalau sang suami pergi meninggalkannya sebentar.
"Uhhh, lepaskan aku! Siapa kalian? Dasar pengecut! Beraninya main keroyokan." Suara seorang pria dan wanita yang berteriak-teriak minta dilepaskan ikatan yang melilit tangan dan kaki mereka itu, tidak membuat siapapun yang diluar berjaga-jaga tergerak untuk mendekat.
Tanpa perlu berbasa basi, pintu gudang tua dengan pencahayaan temaram itu dibuka lebar dan masuklah seorang pria bertubuh tinggi besar dan bayangannya membuat takut dua orang yang berada di dalam.
__ADS_1
"Si-siapa kamu?" Tanya seorang wanita yang susah payah menelan saliva karena bayangan besar itu seolah menelan jiwanya bulat-bulat.
"Aku? Aku adalah orang yang akan membuat masa depan kalian suram hingga kalian akan berpikir lebih baik mati daripada hidup."
BUKKK!
"Aaaahh," Sebuah tonjokan menghantam pipi bagian kiri Roy. Hanya satu tonjokan namun tubuh pria itu langsung terjatuh dari kursi dan ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Aaaahhhhh," Netta yang melihat kondisi Roy, menjadi sangat ketakutan karena khawatir dirinyalah yang akan menjadi sasaran berikutnya.
"Aku tidak akan memukul seorang wanita karena aku bukan lelaki pengecut. Tapi, kamu akan mendapatkan balasan setimpal nanti. Lihat saja!" Seringai sinis diberikan Julian pada sepasang pria dan wanita yang telah menyakiti istrinya. Bahkan dia sendiri tidak berani melukai Emilia meski seujung kukupun, tapi mereka berdua sudah berani berkali-kali menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu.
"Ini adalah peringatan dariku pertama dan terakhir kalinya. Kalau kalian mengusik hidup Emilia lagi, aku tidak akan segan-segan melempar kalian ke kawanan anjing liar yang kelaparan. Tentu kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?" Rahang Julian mengeras dan wajahnya bagaikan dewa kematian di legenda Yunani yang siap membuat siapapun akan berakhir dengan sangat menyedihkan. "Apa kalian mengerti?" Cerutu yang dihisap Julian dan digigitnya di mulut bagian samping, semakin menambah kesan seram dan sadis yang membuat bulu kuduk Roy dan Netta berdiri.
Kedua pecundang itu mengangguk kencang namun wajah keduanya tampak dipenuhi dendam kesumat yang justu meluap-luap.
"Aku lihat kalian tidak menyesali perbuatan hina kalian itu. Tenang saja, aku masih banyak permainan yang akan membuat kalian menikmati setiap langkahnya dan orang-orangku akan memastikan kalian ikut serta di dalam permainan itu, kalau kalian masih berani macam-macam."
BRAKKKK!
__ADS_1
"Aaaargggh, ampuuuuun, maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Sepatu Julian yang sangat kencang menendang kursi hingga hancur berkeping-keping membuat Roy ketakutan luar biasa. Netta yang melihatnya pun berteriak ketakutan dan air matanya deras tumpah membanjiri pipinya.