If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
9. Pemaksaan Roy


__ADS_3

"APA? Aku hanya meminta satu syarat itu saja, aku tidak akan meminta apapun. Anda juga tidak perlu menafkahi aku, meminta ijin padaku kalau ingin pergi kemanapun dan menemui wanita lain. Intinya, anda bebas melakukan apapun yang anda inginkan. Tapi, aku hanya minta anda mengabulkan satu syarat dariku saja, untuk tidak berhubungan ****.” Jawab Emilia dengan mata sendu.


Pria bermata biru dengan warna penuh misteri sedalam air laut itu, menatap Emilia tanpa berkedip sama sekali.


"Terus, kamu menyuruh aku untuk mencari wanita lain sebagai teman tidurku?" Tanya Julian dengan rahangnya sedikit mengeras.


"Bukankah anda biasa melakukan itu? Asalkan anda tidak melakukannya dihadapanku dan tidak ketahuan ibu anda, semua baik-baik saja. Aku sudah tidak punya keluarga lain selain nenekku jadi tidak akan ada yang keberatan." Ujar Emilia dengan wajah menatap ke lantai keramik dibawah kakinya.


"Emilia, lihat aku!" Ucap Julian dengan suara berat dan terdengar sangat seksi itu. "Aku memang menginginkan istri kontrak selama satu tahun saja. Tapi, aku juga pria normal jadi aku tidak bisa menjamin jika keinginan biologis itu tiba-tiba muncul." Ucap Julian lagi panjang lebar.


Napas Emilia terasa sesak seketika mendengar semua kalimat yang diucapkan bosnya itu. Argumen yang tanpa batas dan tidak masuk diakal olehnya yang baru kali ini dekat dengan pria. Bahkan dengan Roy pun, Emilia tidak pernah berbicara sebanyak ini. Pria itu hampir tidak pernah ingin berlama-lama bicara dengan Emilia, entah mengapa.


"Bos, aku rasa ... anda terlalu berlebihan menanggapi drama pernikahan ini." Emilia berkata sambil reflek menggigit bibirnya.


"Emilia, aku tidak pernah setengah-setengah melakukan sesuatu. Walaupun kamu nanti menjadi janda, apa mungkin orang akan percaya kalau kamu masih gadis? Dan, kalau mereka tahu kamu masih gadis, dimana mukaku akan aku taruh? Harga diriku akan terinjak-injak sebagai seorang lelaki." Ucap Julian dengan nada tenang. Namun tidak dengan Emilia yang jantungnya berdegup kencang.


"Bos, bisakah pembicaraan ini dilanjutkan besok? Aku sudah sangat lelah dan mengantuk." Sorot mata Emilia yang lelah dan sendu memang sudah dilihat Julian sejak tadi. Namun, pria itu masih meladeni Emilia yang dikiranya masih ingin terus berdebat sampai pagi.


"Tentu saja. Mari aku antarkan ke kamar kamu." Julian hendak berdiri namun Emilia berdiri lebih dahulu.


"Tidak tidak, aku harus ke kamar hotelku untuk mengambil barang-barangku." Sergah Emilia.


"Kalau begitu aku antarkan lalu kita kembali lagi kesini."

__ADS_1


"Tidak! Aku akan tinggal satu atap dengan anda kalau kita sudah sah menjadi sepasang suami istri." Ucap Emilia dengan tegas dan nada penuh penekanan.


"Huft, kamu sangat keras kepala."


"Maafkan aku kalau membuat anda kecewa." Jawab Emilia.


Julian pun terpaksa menuruti Emilia dan mengantarkannya kembali ke hotel tempat karyawannya itu menginap. Sesampainya di lobi hotel, Emilia tidak langsung turun. Dia was-was kalau Roy masih menunggunya disana.


"Apa kamu takut kalau lelaki itu masih menunggumu?" Tanya Julian. Dari mimik wajah dan tatapan Emilia, jawaban itu sejatinya sudah tidak diperlukan lagi. "Aku akan ikut kamu."


"Tidak, bos. Aku tidak ingin ada gosip yang merugikan nama baik bos. Aku akan menghadapinya sendiri, apapun yang terjadi." Emilia menarik dan menghembuskan napas berkali-kali. Sebelum akhirnya wanita itu keluar dari mobil dengan tangan terkepal.


Julian menepikan mobilnya sejenak lebih depan lagi di celah parkir yang tersedia. Pria bermata biru itu langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam lobi.


"Maaf, apa anda melihat seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang baru masuk?"


"Maaf yang mana ya, tuan?"


"Yang ..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesosok pria yang berjalan cepat menuju ke pintu lift terdekat. Pria itu seperti sedang mengejar seseorang dan naluri Julian berkata kalau yang dikejarnya adalah Emilia. Dia pun bergegas mengikuti pria itu masuk kedalam lift, sayangnya pintu lift sudah tertutup dari dalam.


"SIAL!!!" Julian memukul pintu lift dan menekan berulang-ulang tombol panah agar pintu terbuka kembali. Tidak berapa lama, lift sebelahnya yang terbuka. Dia tidak tahu kamar Emilia berada di lantai berapa sehingga pria itu menekan semua nomer lantai.


"Kamu harus bertahan, Emilia. Sial sekali kalau aku sampai ketinggalan." Setiap pintu lift terbuka, Julian keluar untuk mencari keberadaan pria tadi dan setelah dua kali keluar, dia baru menemukan pria tersebut tapi sudah berada di ujung sedang berlari-lari kecil.

__ADS_1


Julian mengikutinya dan benar saja, pria itu berhenti dan bertemu dengan Emilia di luar pintu kamar.


"Lia, dengarkan aku! Aku tidak akan pernah setuju dengan pembatalan pernikahan kita. Kita akan tetap menikah, apapun yang terjadi." Ucap Roy dengan suara tertahan namun terdengar jelas kekecewaan yang mendalam.


"Huh, jadi maksud kamu ... aku harus melupakan perselingkuhan yang kamu lakukan dibelakangku? Aku bukan wanita lemah dan aku tidak akan sudi diperlakukan seperti itu." Jawab Emilia dengan tatapan tegas dan sinisnya.


"Seperti yang aku katakan, kita harus tetap menikah. Apakah aku harus meninggalkan jejak padamu baru kamu mau menikah denganku?"


"Jangan macam-macam atau aku akan teriak!" Emilia memberontak berusaha melepaskan cengkeraman tangan Roy yang ingin membawanya masuk kedalam kamar. Namun tenaga Roy sebagai lelaki, cukup sulit untuk Emilia abaikan.


BUG!!!


"Arrghhh," Sebuah pukulan tiba-tiba mengenai pipi kanan Roy dari arah belakang dengan kencangnya. Emilia sempat shock namun dia lebih shock lagi ketika dilihatnya yang meninju pipi Roy adalah bosnya sendiri alias calon suami kontraknya. "Kurang ajar! Siapa kamu?" Roy berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung. Tinju dari Julian yang memiliki lengan berotot membuat pipi Roy langsung bengkak dan ada setetes darah di bibirnya.


"Aku bisa melaporkan kamu dengan tuduhan penganiayaan. Ada cctv sebagai barang buktinya dan karir kamu akan hancur seketika, itu kalau kamu bersikeras untuk menuntut." Ucapan Julian yang penuh keyakinan membuat Roy kesal bukan kepalang sambil mengepalkan tangannya.


"Lia, urusan kita belum selesai. Kita akan bertemu kembali dan kamu pasti akan menjadi istriku!" Ucap Roy geram.


"Sungguh lelaki yang tidak punya harga diri." Ucapan Julian yang terdengar cukup keras membuat Emilia cukup kaget dibuatnya. Roy hanya bisa mendengus kesal dan meninggalkan wanita yang hampir hilang mahkotanya.


Sepeninggal Roy, Julian berkata,


"Cepat kemasi barangmu dan mulai pindah denganku malam ini juga. Kecuali kamu ingin bertemu dengan lelaki brengsek itu dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ucapan Julian ada benarnya juga. Namun Emilia masih ragu untuk tinggal satu atap dengan pria yang belum jadi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2