If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
80. Terlambat


__ADS_3

“Syukurlah, sekarang aku lebih lega dan tenang bisa menitipkan Emilia pada penjagaanmu. Anakku benar-benar tidak bersyukur telah mengenal wanita sebaik Emilia. Dia justru memilih perempuan tidak baik-baik untuk menemaninya dan membuatnya semakin jauh dari kebaikan. Sekarang saja dia sudah terang-terangan menunjukkan kalau dia keluar dari pekerjaannya dengan memilih menjadi seorang buronan. Andai saja aku tahu dia dimana, aku akan langsung melaporkannya ke pihak berwajib agar dia jera dan bisa bersikap dewasa.” Arka tersenyum lirih ke Emilia dan Julian.


Sejahat apapun perlakuan Roy dan Sonia, Emilia tidak bisa membenci pria paruh baya yang duduk di hadapannya ini. Dia selalu ada di saat Emilia membutuhkan dukungannya dan hanya Arka yang selalu membela Emilia didepan semua orang yang tidak menyukai Emilia. Andaikan ayah Emilia masih hidup, pasti hal yang sama akan dilakukan untuk anak perempuan satu-satunya ini.


“Aku pasti akan menjaga Emilia dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Anda pastikan saja anak anda tidak mengganggu kami. Karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan-segan berbuat lebih dari yang dia lakukan pada kami.” Ucapan Julian memang bernada pelan namun siapapun yang mendengar pasti tahu ada penekanan yang sangat kuat di ucapannya agar tidak ada yang berani mengusik Emilia meski seujung kuku pun. Arka mengangguk pelan seolah mengamini apa yang dikatakan pria blasteran tersebut.


“Aku tidak tahu dimana Roy sekarang. Maksud undanganku malam ini adalah … tolong cabut tuntutan pada Roy agar dia bisa pulang kembali ke rumah agar dia bisa memperbaiki perbuatannya. Aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan agar anakku itu tidak berbuat yang merugikan kalian berdua lagi.” Arka menghentikan ucapannya sejenak. “Apapun sifat dan perbuatannya, hanya dia satu-satunya keturunan dalam keluargaku. Aku mohon sama kamu Emilia, dan tentu saja suami kamu. Tolong cabut tuntutan kalian pada Roy dan aku akan pastikan dia tidak akan mengganggu kalian berdua lagi.”


Semua orangtua di dunia pasti akan melakukan apapun untuk anak mereka. Meski harus mengemis dan menjatuhkan harga diri mereka sendiri. Meski anak yang dicintainya telah berbuat kesalahan dan merugikan orang lain. Emilia mulai berpikir apakah dia akan melakukan hal yang serupa jika kelak memiliki anak. Anak? Wajah Emilia langsung merona merah karena tersadar dari lamunan fiksinya yang tidak mungkin akan terjadi. Tiba-tiba Emilia teringat dengan siklus haidnya. Sudah berapa hari ini dia tidak kedatangan tamu yang pasti datang menghampirinya.


Semua ucapan ayah Roy sudah tidak bisa didengarnya dengan baik. Dia ingin segera pulang ke rumah, tidak … dia ingin segera ke apotik untuk membeli testpack. Jantung Emilia tiba-tiba berdegup kencang. Dia ketakutan akan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Julian melihat wajah Emilia yang pucat dan tubuhnya gemetaran langsung meminta ijin pulang pada tuan rumah.


“Kamu kenapa?” Tanya Julian saat keduanya sudah sampai di dalam mobil. Sikap Emilia tidak berubah seperti tadi. Wanita itu justru menatap mata Julian dengan sorot mata penuh kebingungan. “Ada apa, sayang?” Tanya Julian lagi.


“Julian, a-aku ingin … kita mampir … ke apotik sebentar.” Emilia menggigit bibirnya kuat-kuat.


“Apakah kamu sakit? Kamu ingin membeli obat apa?” Julian mengusap bibir Emilia untuk mencegahnya menggigit anggota tubuh Emilia yang disukai Julian itu.


“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku … ingin membeli sesuatu.” Emilia tidak berani menatap pria yang telah menjadi suami sesungguhnya itu. Mereka berdua telah sepakat untuk melanjutkan pernikahan ini dengan resmi tanpa embel-embel kontrak lagi. Pernikahan sungguhan seperti pasangan suami istri pada umumnya. Namun, satu hal yang dilupakan Emilia dan Julian adalah … hubungan suami istri yang sering mereka lakukan akan berdampak lahirnya keturunan yang tidak disangka-sangka.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu beli?” Julian penasaran dengan permintaan Emilia yang ingin mampir ke apotik.


“Sudah, antarkan saja aku dulu. Aku harus memastikan satu hal.” Emilia menghitung dengan kedua jarinya dan akhirnya sampai pada kesimpulan kalau dia telah terlambat dua minggu dari waktu yang biasanya datang. Jantung Emilia berdegup semakin kencang.


“Ya Tuhan, aku belum siap menerima kenyataan kalau aku akan hamil. Tolong berikan aku hasil yang aku inginkan.” Emilia menutup matanya dan berdoa dalam hati. Julian semakin tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan wanitanya itu. Namun dia menuruti kemauan Emilia dan memutar mobilnya menuju apotik terdekat sebelum sampai apartemen.


“Aku ingin membeli alat testpack yang paling bagus.” Ujar Emilia pada petugas apotik. Dia berlari langsung keluar dari mobil begitu sampai di tempat parkir apotik dan meninggalkan Julian di belakang agar pria itu tidak tahu apa yang dibelinya.


“Baiklah, bu. Ibu butuh berapa?”


“Hmm, berikan aku lima.” Emilia akan mengetesnya berulang-ulang sampai dia yakin kalau dia benar-benar tidak sedang isi.


“Sayang, apa yang kamu beli?” Julian datang dan menghampiri sang istri yang meninggalkannya sendirian di mobil.


“Kamu kenapa sih kok mencurigakan begitu? Kamu sakit? Katakan padaku kamu sakit apa?”


“Aku sehat. Aku sangat sehat.” Jawab Emilia lagi.


“Kalau kamu sehat, kamu tidak akan datang ke tempat ini.”

__ADS_1


“Julian, ada yang harus aku pastikan tapi untuk saat ini aku harap kamu tidak banyak bertanya.”


“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku harap kamu baik-baik saja.”


“Aku sangat baik-baik saja.” Emilia langsung meninggalkan Julian lagi begitu petugas apotekernya datang dengan membawa barang yang dia butuhkan. Setelah membayarnya, Emilia pun menyimpan rapat-rapat lima buah alat testpack itu ke dalam tasnya dan meminta Julian untuk kembali ke mobil bersama-sama lagi.


***


Sesampainya di apartemen, Emilia meminta ijin untuk langsung ke kamar terlebih dahulu karena pikirannya sudah membuatnya lelah sejak tadi.


“Aku akan mencobanya besok pagi. Saat terbaik untuk mengetesnya adalah bangun tidur pagi.” Gumam Emilia sambil mengingat saran dari apoteker tadi saat dia menyelesaikan pembayaran.


“Kamu ingin makan malam dulu?” Julian menuju dapur untuk melihat apa yang bisa dia masak.


“Aku tidak lapar.”


“Tapi aku lapar.” Jawab Julian.


“Ahhh, aku lupa kalau kami belum makan malam.” Gumam Emilia. “Baiklah, aku akan masak setelah ganti baju.”

__ADS_1


“Kamu mandi saja, biar aku yang membuat makan malam.” Ucap Julian.


“Tapi, kamu kan juga lelah setelah menyetir. Aku akan mandi sebentar. Kamu duduk saja. Aku akan buatkan nasi goreng paling enak untuk makan malam kita.” Emilia tersenyum lebar dan segera berlalu menuju kamar.


__ADS_2