
"Mommy senang sekali akhirnya kamu pulang dan mau menginap di rumah orang tua kamu ini. Berapa lama kamu akan berada di sini? Mommy mau ajak kamu ke pesta pernikahan anak teman mommy dua hari lagi." Jawab wanita bernama Caitlyn Ginevra, yang merupakan ibu kandung Julian Miller.
"Not again, mom." Ucap Julian dengan suara berat dan dalamnya.
"Apa maksud kamu?" Mommy dan papi Julian saling menatap keheranan. Biasanya Julian pasrah saja jika harus dikenalkan dengan anak perempuan dari teman mommynya.
"Aku sudah menikah." Ucap Julian dengan suara santai tanpa beban.
"You WHAT?" Caitlyn melebarkan mata tidak percaya dengan yang didengarnya.
"I'm a married man now." Ucap Julian.
"Hahahaha tunggu tunggu, kamu menikah? Dengan siapa? Roxanne? Kenapa kamu tidak beritahu kami? Kapan kalian menikah?" Tanya Caitlyn dengan pertanyaan memburu layaknya investigator sebuah kasus.
"Bukan dengan Roxanne. Tapi dengan wanita yang sudah lama aku incar." Julian tersenyum simpul. Setiap dia membayangkan wajah Emilia, senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Caitlyn dan Robby saling bertukar pandang dan mengerutkan dahi mereka.
"Kami … tidak tahu kalau kamu punya wanita incaran. Jadi, kamu benar-benar sudah menikah sekarang? Mana fotonya kami mau lihat." Caitlyn masih belum percaya dengan apa yang dikatakan anaknya. Caitlyn tahu betul kalau Julian selalu menolak bila ingin dikenalkan dengan seorang perempuan. Dan, anaknya itu akan menolak keras jika disuruh menghadiri kencan buta. Baginya, menikah harus dengan orang yang dia cinta dan kencan buta hanyalah pemaksaan kehendak pada pernikahan yang tidak berlandaskan cinta.
Julian tersenyum sumringah dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Foto yang diabadikan oleh asistennya, Charlie, saat menikah dengan Emilia di KUA, ditunjukkannya ke kedua orang tuanya.
Baik Caitlyn maupun Robby sama-sama terkejut dan melebarkan matanya. Bahkan Caitlyn langsung berdiri beranjak dari kursi dan menghampiri anaknya yang duduk di seberang.
"Jadi, kamu benar-benar masih normal kan? Kamu benar-benar menikah dengan seorang wanita kan?" Caitlyn tampak sangat terharu bahkan seperti ingin menangis. Selama ini dia dan suaminya juga keluarga besar beranggapan kalau Julian menyukai sesama jenis. Karena anaknya itu selalu menolak jika hendak diperkenalkan dengan seorang wanita.
"Mami, please! Aku pria normal dan aku masih menyukai wanita tentu saja. Tapi bukan berarti semua wanita yang mami dan papi akan kenalkan padaku, aku harus menyukainya. Aku sudah sering bilang kalau aku akan mencari sendiri calon istriku. Dan sekarang, kalian tidak perlu lagi mencarikan istri untukku karena aku sudah menemukannya." Julian mengusap mulutnya dengan lap bersih yang ada di pangkuannya. Dia pun berdiri dan beranjak ingin pindah ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah kenyang. Kalau mami dan papi ada waktu, aku ingin membicarakan hal ini bertiga saja sekarang juga. Tapi tentu saja setelah papi dan mami makan. Aku akan ke ruang tengah dahulu." Caitlyn dan Robby lagi-lagi dibuat tidak berdaya dengan ucapan sang anak yang sungguh tidak terduga.
"Apa kamu percaya dengan ucapan anakmu itu?" Caitlyn menghampiri suaminya kembali dan duduk menemani sang suami menyelesaikan makan paginya.
"Kenapa tidak? Dia sudah menunjukkan foto pernikahannya bukan? Lagipula usianya sudah sangat pantas untuk menikah." Jawab Robby santai.
"Tapi bagaimana dengan resepsinya? Kita hanya punya satu anak, masa tidak ada resepsi pernikahan besar-besaran?" Caitlyn benar-benar tidak bisa menerima keputusan sang anak secara keseluruhan.
"Kita bicarakan itu nanti setelah makan. Dia ke Italy juga sepertinya untuk membicarakan hal penting ini dengan kita."
Robby tahu betul sifat anaknya yang tidak ingin memberitahukan sesuatu kalau belum final. Sedangkan Caitlyn adalah tipe ibu yang ingin tahu sejak awal secara detail sampai hasil final.
Setelah keduanya menyelesaikan makan pagi, mereka menghampiri sang anak yang terlihat sedang sibuk menelpon seseorang dalam bahasa Indonesia.
"Jangan pernah telat makan siang sesibuk apapun kamu. Iya, aku juga sudah makan pagi. Aku baru sampai di rumah orangtuaku semalam. Aku hanya dua hari disini. Lusa aku kembali ke Jakarta. Okay, selamat makan. Bye. Miss you, hehehe."
"Mami, papi, duduklah."
Kedua orangtua yang berbeda negara namun disatukan dalam pernikahan itu menurut saja apa kata anak mereka satu-satunya itu.
"Aku hanya disini sampai besok. Lusa aku kembali ke Indonesia karena istriku disana. Semula aku berencana untuk paling tidak dua minggu disini mengurus pekerjaan di kantor utama. Namun, aku … ternyata tidak bisa berpisah dengan istriku lebih lama lagi." Senyum Julian yang lebar membuat kedua orangtuanya penasaran dengan sosok wanita yang sudah membuat anak mereka seperti ini.
"Julian,"
"Yes, mom."
__ADS_1
"Boleh kami ikut ke Indonesia bersama kamu pulang nanti?" Baik Julian maupun Robby terperanjat kaget mendengar permintaan Caitlyn.
"Why?"
"Kami … ingin melihat seperti apa wanita yang telah berhasil menaklukan hati anak kami yang sangat kaku dan benci bila berdekatan dengan wanita itu. Kami ingin berterima kasih padanya karena telah membuat anak kami menjadi pria yang sesungguhnya." Caitlyn tersenyum simpul. Membayangkan bahwa menantunya pastilah wanita yang memiliki segala-galanya baik status sosial, harta, dan juga penampilan sehingga Julian bisa bertekuk lutut padanya.
"Jangan sekarang, mom. Aku tidak ingin istriku kaget dan menerima kalian tanpa persiapan. Kalau semua sudah siap, aku akan mengundang mami dan papi ke apartemen." Jawab Julian.
"Oh begitu, jadi kapan kamu akan siap menerima kedatangan kami?" Tanya Caitlyn lagi.
"Secepatnya akan aku kabari, mom."
"Julian, papi ingin bicara berdua dengan kamu. Kita ke ruang baca sekarang." Robby berdiri dan berjalan lebih dulu menuju ruangan khusus tempat segala hal penting dibicarakan. Caitlyn mendesah menghela napas karena ditinggalkan.
"Pergilah ikuti papi kamu. Mami akan ke taman." Wanita yang masih cantik di usia kepala lima itu tersenyum hangat.
Julian mengikuti papinya dan disinilah mereka berada. Ruangan yang terisi oleh rak buku berukuran tinggi dan besar dengan banyak buku tebal terpajang rapih didalamnya. Ada meja dan sofa untuk menerima tamu dan ada juga meja dan kursi kerja milik Robby. Robby memiliki perusahaan di Italia yang bergerak di bidang transportasi laut. Dia adalah salah satu pengusaha yang disegani kawan dan ditakuti lawan.
"Julian,"
"Yes, dad."
"Kamu masih ingat dengan keluarga Moretti?" Robby duduk di kursi kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Lalu dia menggeserkannya di atas meja kepada Julian yang masih berdiri tegap menjulang.
"Selena Moretti. Kamu masih ingat?"
__ADS_1
Wajah seorang wanita Italia yang sangat cantik dengan rambut pirang dan bermata biru, terpampang jelas di selembar foto yang sedang dipegang Julian. Suami dari Emilia itu hanya mencebikkan bibirnya lalu mengembalikan foto itu ke papinya.