
"Hutang lagi. Kamu tahu kalau diantara suami istri itu tidak ada hutang. Dan, aku sudah menganggap kalau hutang kamu lunas sejak menikah denganku." Jawab Julian tegas. "Dan, aku sudah bilang kalau aku tidak ingin mendengar kata hutang lagi di antara kita."
"Okay. Ada lagi yang ingin kamu katakan? Aku harus segera kembali ke mejaku." Perbincangan suami istri di pagi hari itu mungkin akan terlihat biasa saja jika di rumah tapi tidak jika di kantor.
"Temui aku dua jam lagi, setelah rapat. Aku harus memberitahukan apa saja yang harus dilakukan Edwin mulai hari ini dan seterusnya."
"Okay, ada lagi?" Emilia menyeringai kesal karena belum juga mulai bekerja, sudah mendapat interogasi dari bos sekaligus suaminya itu.
"Kiss me first,"
"What?" Emilia melebarkan mata melihat tingkah absurd pria ini.
"Kiss me first or I will kiss you," Lagi-lagi senyuman nakal Julian membuat Emilia tidak mampu menolaknya.
Emilia mendekati sang suami dan mengecup tipis bibir Julian lalu melarikan diri keluar dari ruangan secepat kilat. Julian melongo melihat gerakan istrinya yang tidak disangka-sangka. Suara tawa terbahak-bahak nya terdengar oleh Emilia yang sudah berada di luar.
"Dasar jahil. Dia itu tidak bisa membuat aku tenang meski beberapa saat. Ngomong-ngomong, dimana Sophia?" Meski sudah memanjangkan lehernya melihat kesana kemari, sosok temannya tidak ditemukan dimanapun.
"Jadi kamu mau merahasiakan dariku?" Sophia menarik tangan Edwin ke tangga darurat untuk berbicara lebih leluasa agar tidak ada yang mendengar.
"Aku tidak pernah merahasiakan dari kamu. Aku tidak tahu kalau kamu anak buah Julian."
"Julian? Jadi, kamu kenal baik bosku?" Sophia mengerutkan alisnya. Dia mengira kalau dia sudah mengenal baik Edwin tapi ternyata dugaannya salah.
__ADS_1
"Julian adalah sahabatku saat kami kuliah bersama di Amerika. Tapi, dia adalah seniorku diatas dua tahun." Jawab Edwin lagi.
"Wow, sekarang bosku adalah bos kekasihku. Dan, kekasihku adalah sekretaris bosku. Luar biasa." Sophia menghembuskan napas berkali-kali. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya. Sejujurnya dia masih shock begitu mengetahui kalau Edwin akan bekerja satu kantor dengannya.
Setelah memperkenalkan Edwin ke semua staff kantor, Sophia memberikan kode mata pada Edwin untuk mengikutinya ke tempat sepi.
"Bukankah ini bagus? Kita akan bertemu setiap hari tanpa harus janjian dan antar jemput lagi." Edwin memeluk sang kekasih yang masih memunggunginya karena kesal merasa dibohongi. "Aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa dari kamu. Semua ini hanya kebetulan saja." Kecupan penuh mesra mendarat di pipi kanan Sophia.
"Entahlah, aku masih belum bisa menerima semua ini. Ayo kita kembali bekerja. Pak Julian pasti mencari kamu."
"Sayang, tersenyumlah. Dan, bantu aku agar aku bisa bekerja dengan baik disini." Edwin mengurung tubuh Sophia dengan kedua tangannya lalu dia membuka sejenak kacamatanya dan mencium bibir Sophia tanpa ijin. Wanita itu tidak pernah bisa menolak sikap romantis dan mesra Edwin padanya.
"Sudah sudah, lipstick ku pasti berantakan sekarang." Sophia mendorong pelan dada Edwin.
Keduanya kembali ke tengah-tengah suasana kerja dengan berjarak beberapa menit tidak keluar bersamaan. Sophia tidak akan mengatakan pada semua orang kalau Edwin adalah kekasihnya. Dia tidak ingin Edwin dianggap memanfaatkan kedudukan Sophia sehingga bisa mendapatkan posisi yang sangat bergengsi itu.
Sophia terus berjalan melewati Edwin yang berjalan menuju mejanya. Edwin menyapa Emilia dan tersenyum ramah lalu mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan.
"Mohon bantuannya, nyonya bos." Edwin berkata dengan suara cukup rendah hingga tidak ada yang mendengarnya. Emilia cukup kaget dan mengerutkan alisnya.
"Jangan sampai kamu membocorkan rahasia ini ya. Biar aku dan Julian yang mengurusnya." Jawab Emilia dengan tegas.
"Tentu saja. Aku hanya seorang karyawan disini jadi aku tidak akan mencampuri urusan pribadi orang lain. Jadi, permisi aku harus ke ruangan Julian." Jawab Edwin sambil membungkukkan sedikit punggungnya.
__ADS_1
Emilia menatap kepergian Edwin dengan rasa bingung. Kini ada orang lain yang mengetahui status pernikahannya dengan Julian.
"Aku akan mulai memberitahukan ke kamu apa saja yang harus kamu lakukan. Sisanya, kamu bisa belajar sendiri atau minta tolong ke kekasihmu itu. Tapi jangan ke istriku. Ingat itu!" Ucap Julian dengan tatapan tajamnya. Edwin terkekeh dan mengiyakan saja agar semuanya cepat selesai dan dia bisa mulai bekerja di meja yang sudah disiapkan untuknya."
"Aahhh pegal sekali," Sophia merentangkan kedua tangannya sambil bersandar di punggung kursinya. "Makan siang yuk," Ajak Sophia pada Emilia melalui telpon kantor.
"Aku masih banyak dokumen yang belum dikerjakan. Kamu duluan saja." Jawab Emilia sambil sepuluh jarinya lincah menari di atas tuts laptop sedangkan gagang telpon dia jepit antara bahu kiri dan telinga kirinya.
"Nanti dilanjutkan lagi setelah makan siang," Sophia sedikit memaksa sang teman makan siangnya itu.
"Nanti saja aku menyusul. Kamu duluan sana. Sudah yaa, aku buru-buru. Bye,"
Sophia melongo mendengar jawaban temannya itu, terutama saat panggilannya ditutup.
"Yaaa anak ini! Awas ya kamu, Emilia." Jawab Sophia sambil merengut kesal.
"Eh Sophia, kamu tahu tidak sekretaris baru pak bos sudah menikah atau belum." Salah seorang rekan kerja Sophia yang wanita menghampiri meja Sophia dan melirik penuh dengan mata mau tahu urusan orang lain.
"Mana aku tahu. Coba kamu tanya langsung saja ke orangnya kalau berani." Jawab Sophia dengan sikap sedikit cuek dan tidak peduli.
"Hmm, boleh juga saran kamu. Aku akan tanya langsung ke orangnya. Hehehe,"
"Haaah? Serius? Ehhh tunggu dulu!" Terlambat baginya karena temannya itu sudah berdiri di sebelah Edwin dan keduanya tampak sedang berbincang dengan santai karena Edwin sesekali tersenyum ramah. Melihat sikap Edwin yang akrab dengan wanita lain, rasa kesal memuncak di hati Sophia dan tanpa sengaja dia menggebrak meja dan mengambil dompet dan ponselnya lalu berjalan melewati dua orang yang semula sedang tertawa bersama kini justru tertegun melihat sikap Sophia yang tampak kesal itu.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan. Dia memang begitu, mudah emosian. Makanya tidak ada pria yang betah dengan dia dan tidak ada yang mau berpacaran dengannya." Jawab wanita yang ingin mengenal lebih dekat Edwin itu.
"Kalau begitu, aku permisi mau makan siang dulu sebelum jam istirahat berakhir." Tanpa menunggu jawaban wanita tersebut, Edwin berjalan cepat hendak menyusul kekasih yang sedang merajuk itu. Namun malang, pintu lift telah ditutup dan keduanya hanya bisa menatap dalam diam satu sama lain.