
Dengan dalih paksaan dari orangtua Julian dan rumor negative yang beredar tentang dirinya, Julian pun menawarkan Emilia sebuah perjanjian yang tidak pernah terlintas di pikiran sebelumnya. Sebuah perjanjian kontrak nikah yang akan menguntungkan keduanya dan membuat keduanya terbebas dari masalah yang menghinggapi diri mereka masing-masing.
Julian tahu kalau dia tidak boleh lagi menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan alam semesta kepadanya. Dia pernah bermimpi buruk sebelumnya dan mimpi itu datang berkelanjutan setiap harinya. Dalam mimpi itu, Julian melihat Emilia yang mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah menikah dan tidak diketahui keberadaannya setelah menyandang status sebagai seorang istri. Bahkan dalam mimpinya, Julian pernah melihat Emilia di sebuah hotel dalam keadaan sudah tidak bernyawa karena sebuah pisau yang menghunus perutnya. Mimpi itu seolah nyata bagi Julian sehingga dia berdoa setiap hari agar bisa diberikan kesempatan untuk bisa merubah mimpi buruknya menjadi mimpi baik dengan memberikannya kesempatan untuk menikah dengan Emilia.
“Julian, ada apa denganmu? Kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?” Suara Emilia yang lembut dan berhembus sayup-sayup wajah Julian, menyadarkan pria yang larut dalam lamunan di masa lalunya. Julian menyeringai lembut dan mengecup telapak tangan sang istri berulang-ulang seperti enggan untuk melepasnya meski sedetik pun. Emilia mengerutkan alis bingung.
“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.” Emilia membalas pengakuan sang pria yang tidak diragukan lagi sebesar apa cintanya pada dirinya.
“Aku tahu.”
“Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga mencintaiku?” Sorot mata Julian yang sendu, berharap jawaban yang diberikan wanita cantik yang duduk di depannya ini akan sama dengan yang diharapkannya.
“Hmm, bagaimana ya?” Emilia memainkan bola matanya dengan melirik ke atas dan ke samping. Julian pun mengerutkan dahi kebingungan.
“Emilia, kamu …?”
__ADS_1
“Aku tidak mencintai kamu. Maafkan aku,” Jawab Emilia sambil tersenyum tipis. Ekspresi Julian sudah bisa ditebak pucat dan helaan napasnya jelas mengungkapkan isi hatinya. “Aku tidak mencintaimu dengan sedikit. Tapi … aku mencintaimu dengan banyak dan sepenuh hatiku. Saking banyaknya sampai aku takut. Aku takut apakah aku pantas mencintai pria yang digandrungi banyak wanita dan memilikinya dengan sepenuh hatiku seumur hidupku.” Emilia menundukkan wajahnya antara malu dan gugup dengan reaksi yang akan diberikan pria yang berubah warna mukanya menjadi cerah dan tersenyum lebar.
“Aku ijinkan kamu untuk memilikiku sepenuh hatimu dan mencintaiku sebanyak yang kamu bisa. Tapi, itu tidak gratis.” Seringai di sudut bibir Julian membuat Emilia memiringkan dagunya.
“Apa maksud kamu? Kamu menginginkan uang lima ratus juta itu dilunasi?” Emilia mulai teringat dengan penyebab mereka menikah saat ini.
“Aku bisa mendapatkan lima ratus juta dalam sekali napas.”
“Cih, sombong sekali. Lalu, apa yang kamu inginkan?” Giliran Emilia menyeringai sinis. Dia menyesal mengungkapkan nominal uang yang tentu saja tidak ada artinya di mata seorang Julian Miller.
Emilia mulai teringat dengan alat testpack yang dia baru beli tadi. Jika memang dia terbukti hamil, bukankah akan ada cinta lain yang harus dia berikan untuk makhluk hidup lainnya yang sedarah sedaging dengannya?
“Baiklah, tuan besar. Untuk saat ini, aku akan memberikan seluruh cinta dan perhatianku untuk kamu seorang, Julian Miller. Sampai waktunya ada Julian junior yang mungkin akan membuat duniaku berpaling darimu meski hanya sedetik.” Gumam Emilia dalam hati. “Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk mencintaimu, suamiku.” Kali ini kalimat manis ini mengalir deras dari bibir Emilia seraya kedua tangannya memeluk leher kokoh Julian dan menariknya hingga keduanya terbaring bersama di atas ranjang berukuran besar tersebut.
“Aku harap kamu tidak menyesali apa yang kamu lakukan ini?” Seringai nakal di bibir Julian diikuti dengan kecupan di leher Emilia yang pasrah dengan apa yang akan dilakukan sang suami.
__ADS_1
“I’m all yours tonight and forever.” Bisikan lembut Emilia di telinga Julian membuat pria itu tidak bisa menahan lagi gejolak yang ada di hatinya. Sejak tadi dia mencoba mengontrol keinginannya karena melihat istrinya yang tertidur pulas dan tampak sangat rapuh saat terbangun dari mimpi buruknya. Namun, ternyata satu bisikan lembut dari bibirnya langsung mendobrak kerasnya dinding pertahanan yang dia bangun.
“Aku tidak akan berhenti bahkan jika kamu memintanya dengan menangis.” Ucapan Julian dibalas dengan kecupan tipis oleh Emilia di bibirnya.
Malam yang masih panjang dimanfaatkan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya momen yang biasa diciptakan oleh sepasang suami istri pada umumnya. Tiada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan oleh orang yang saling mencintai. Dan justru sebaliknya, cinta akan terasa hambar dan bahkan masih perlu banyak belajar saling memahami jika hanya satu cinta yang berkibar.
***
“SIAL! Kemanapun aku pergi, laki kurang ajar itu selalu bisa mendapatkanku. Cih! Sudah cukup aku bersabar selama ini. Hidupku sudah hancur berkeping-keping karena dia. Emilia, apa yang kamu lakukan hah? Kamu tiba-tiba menikah dengan lelaki yang tidak pernah kamu bicarakan denganku sebelumnya? Lihat saja! Aku akan menghancurkan kalian seperti kalian menghancurkan dan mempermalukan hidupku.” Geladak kapal illegal itu menjadi tempat persembunyian Roy berikutnya karena dia sudah tidak bisa kembali lagi ke rumahnya. Polisi sudah mengetahui keberadaan rumah itu dan anehnya sosok Netta tidak ditemukan di dalam rumah itu. Begitu informasi yang didapat Roy dari orang bayarannya sebelum kabur menjadi buronan untuk kesekian kalinya.
Roy tidak tahu harus pergi kemana. Karirnya di pemerintahan, fasilitas hidup yang membuatnya nyaman, penampilannya yang biasa perlente, kini harus dibuangnya jauh-jauh dari pikirannya karena penampilan Roy yang sekarang, tidak ada bedanya dengan seorang preman lusuh yang tidak punya pegangan uang sama sekali.
Karena kondisinya yang kepepet, Roy menjambret sebuah dompet dari orang yang dia temukan berjalan sendirian di jalanan. Isi dompet jambretan itu bisa menghidupi dirinya dengan membeli makanan dan minuman pengganjal lapar juga pakaian bekas untuk mengganti pakaian yang dia sandang sebelumnya untuk menghilangkan jejak. Sisanya digunakan untuk naik kapal dengan cara menyogok petugas kapal tanpa tiket.
Kapal yang cukup besar ini dijadwalkan akan berlayar menuju pulau penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Roy memilih untuk istirahat sejenak menyandarkan punggungnya yang letih di badan kapal yang terbuat dari kayu. Dia memutuskan untuk berpikir lagi setelah sampai tujuan. Tidak ada yang mengenal Roy yang sekarang, bahkan orangtuanya sendiri pun mungkin tidak akan bisa mengenalinya lagi. Lelaki itu membuat dirinya tidak dikenali lagi dengan memakai rambut palsu gondrong dan rambut asli halus yang tumbuh di rahangnya akibat tidak bercukur setelah beberapa hari lamanya.
__ADS_1