If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
4. Rahasia Di Balik Rencana Pernikahan


__ADS_3

“Aku berhenti didepan saja. Terima kasih, Roy dan Emilia.


Maaf kalau aku sudah mengganggu kalian.” Ucap Netta sebelum turun di tempat


yang ditunjukkan olehnya.


“Hati-hati dijalan, Net. Kamu yakin kamu tidak apa-apa


sendirian kan? Langit menjelang malam, kamu cepat pulang ya.” Ucap Emilia


sambil tersenyum lebar.


“Baiklah, sampai bertemu kembali. Hati-hati menyetirnya,


Roy,” Ucap Netta pada sang pengemudi.


“Okay, sampai bertemu kembali juga.” Roy melambaikan


tangannya pada wanita yang sudah berada di luar mobilnya.


Mobil yang dikendarai Roy pun kembali melaju menyusuri kota


Jakarta di jam kemacetan yang super parah seperti biasa ini. Emilia bisa


melihat seringai sinis Netta dari balik kaca spion mobil. Emilia juga


menyeringai sinis. “Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan tidak lama lagi.”


Gumam Emilia dalam hati.


Sejenak Emilia melihat pria yang duduk disebelahnya. Roy yang


mengetahui kalau calon istrinya sedang menatapnya, tersenyum cerah dan tangan kirinya


hampir saja ingin mengusap pipi Emilia yang menggemaskan. Namun, Emilia berkelit


hingga jari Roy tidak bisa menyentuh pipi calon istrinya. Meskipun Emilia tidak


memiliki kulit putih bersinar, namun kulit ciri khas wanita Indonesianya


menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Sebenarnya, bukan


hanya kecantikan Emilia saja yang memikat hati Roy dan mengubah pendiriannya dari


menolak Emilia menjadi menerimanya sepenuh hati untuk menjadi istrinya. Tapi,


juga prinsip Emilia yang menolak berhubungan intim sebelum sah menjadi suami


istri. Bahkan, sejak pertama mereka bertemu sampai sekarang, Emilia selalu


menolak untuk dicium oleh pria yang memiliki profesi sebagai pegawai


pemerintahan yang memegang jabatan penting di instansi tempat dia bekerja


sekarang.


“Sayang, setelah kita menikah nanti, kamu sudah berjanji


untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Aku sebagai suami kamu yang akan


membiayai semua kebutuhan kamu jadi kamu tidak perlu khawatir kekurangan


meskipun kamu sudah tidak bekerja lagi.” Roy mengingatkan sekali lagi akan


janji Emilia untuk berhenti bekerja jika mereka telah menikah nanti. Emilia tersenyum


tipis mendengarnya.


“Janji kamu untuk membiayai semua kebutuhanku itu tidak pernah


kamu penuhi, sejak hari pertama kita menikah. Bahkan, kamu langsung

__ADS_1


memperlakukan aku seperti budak **** dan pembantu di rumahku sendiri.” Gumam


Emilia dalam hati. Dalam ingatannya di masa depan, Emilia dan Roy tinggal


dirumah nenek Emilia setelah mereka menikah. Roy membuat hidup Emilia seperti


dalam neraka. Pada awalnya Emilia menerima semuanya dengan penuh kerelaan


karena dia menganggap kalau itu yang memang harus dia lakukan sebagai seorang istri


yang baik. Namun, peran ibu mertuanya yang ikut campur urusan rumah tangganya,


membuat hidup Emilia seperti antara hidup dan mati. Dan lebih sialnya lagi,


Emilia menerima semua perlakuan buruk itu selama sepuluh tahun lamanya, tanpa


membantah.


“Kita sudah sampai.” Akhirnya, rumah yang akan menjadi awal


dari segala penderitaan Emilia di masa depan pun tampak didepan mata. Disinilah


semua penyesalan yang akan Emilia alami nantinya jika menikah dengan Roy. Semua


pengorbanannya sia-sia dan tidak dihargai oleh siapapun.


“Selamat datang, calon pengantin. Kami senang sekali


akhirnya kalian bisa datang bersama-sama kerumah ini.” Sonia, calon ibu


mertuanya masih tampak sama seperti dulu. Hanya saja, rambutnya masih sedikit


lebih panjang dari ingatan Emilia di masa depan. Emilia berusaha memberikan


senyum ramahnya.


“Nak Emilia sudah datang. Ayo, lekas masuk. Kami sudah lama


menunggu kalian.” Arka, calon ayah mertua Emilia yang sangat menyayangi dan


kemudian, kesehatan Arka akan memburuk karena Sonia tidak mengurus suaminya


dengan baik. Yang dilakukan Sonia hanyalah bersenang-senang dengan teman


sosialitanya dan yang lebih gilanya lagi, Emilia pernah memergoki Sonia masuk ke


kamar hotel dengan seorang lelaki yang lebih muda, ketika Emilia ingin menemui


salah satu temannya yang bekerja di hotel itu.


Emilia membalas sapaan Arka dengan senyum ramahnya. Mereka berempat


pun menuju ruang tamu dan menempati sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.


“Ini pertama kalinya kalian datang kerumah bersama-sama. Ibu


senang akhirnya Roy menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan istri. Ayah dan


ibu berharap, pernikahan kalian akan langgeng dan bahagia selalu selamanya.” Ucap


Sonia dengan senyuman dan kata-kata manisnya. Emilia tahu kalau Sonia


berpura-pura bersikap baik karena suaminya mengancam akan membekukan kartu


kredit dan menghentikan semua aktivitas istrinya di luar jika tidak bersikap


manis pada Emilia. Satu yang masih menjadi misteri buat Emilia adalah sikap


ayah mertuanya yang terlalu baik padanya, apakah ada sesuatu dibalik itu? Itu


yang tidak diketahui Emilia dari dulu.

__ADS_1


“Ayah juga senang mengetahui kalau calon istri Roy adalah


Emilia. Ayah sudah mengenal kedua orangtua Emilia dengan baik sejak lama. Mereka


orang yang sangat baik. Andaikan waktu bisa berputar kembali, saat ini saya


pasti tidak akan bisa ada disini. Dan, Roy tidak akan pernah dilahirkan.” Ucapan


Arka membuat sepasang mata Emilia membelalak lebar, begitu juga Roy dan Sonia.


“Suamiku, jangan pernah katakan itu lagi. Itu semua sudah


takdir. Tidak ada yang bisa menolak takdir dari Tuhan.” Sonia menjawab perkataan


suaminya. Tapi tidak dengan Emilia yang langsung tertunduk lemah.


“Jadi, apakah ini sebabnya ayahnya Roy bersikap baik padaku


karena alasan hutang budi? Apakah ada yang terlewat dari ingatan masa depanku? Percakapan


seperti ini tidak terjadi sebelumnya. Kami hanya duduk-duduk berbicara singkat


dan langsung makan malam. Apakah ada pemicunya sehingga ada kejadian yang berubah?”


Gumam Emilia dalam hati.


“Lia, Lia, apa yang kamu pikirkan?” Roy menepuk bahu Emilia


yang tenggelam dalam lamunannya. “Aku memanggilmu berkali-kali tapi kamu tidak


menjawabku.” Ucap Roy lagi.


“Aahh, ah, maafkan aku. Aku hanya …”


“Sudah aku katakan, suamiku. Jangan pernah membuka luka lama


itu kembali. Yang sudah pergi tidak akan bisa kembali lagi. Yang kita harus


pikirkan sekarang adalah masa depan.” Ucap Sonia dengan suara tegas dan


lantang.


“Benar, masa depan! Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang


sama di masa depan. Aku harus menghentikan semuanya dari sekarang.” Emilia


kembali sadar dengan tujuan semula. Dia menghembuskan napas dengan senyum


kembali lebar.


"Tidak apa-apa, bu. Ayah, terima kasih atas ucapan


ayah. Aku yakin kedua orangtuaku tidak menyesal melakukan itu dan mereka sudah


tenang sekarang di surga. Aku sudah dewasa jadi aku tidak akan meratapi lagi


seperti waktu masih kecil.” Jawab Emilia dengan penuh ketegasan.


“Betapa beruntungnya mereka memiliki anak seperti kamu, Emilia.


Meskipun kamu perempuan tapi kamu sangat tangguh dan mandiri. Aku dengar dari


nenek kamu kalau kamu tidak pernah membawa pria manapun kerumah jadi kami yakin


kalau kamu tidak punya kekasih. Untuk itulah kami menyetujui pernikahan kamu


dan Roy.” Ucap Arka lagi panjang lebar.


“Itu yang ingin saya beritahukan.” Perkataan Emilia yang


tiba-tiba membuat ketiga orang yang ada di ruangan yang sama memberikan respon

__ADS_1


heran dan bingung.


“Apa maksud kamu, Lia?” Tanya Roy dengan dahi berkerut.


__ADS_2