If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
65. Roy Melarikan Diri


__ADS_3

Roy bersungut-sungut karena mendapatkan sarapan dari ayahnya yang tidak biasanya. Dia mencuci muka terlebih dahulu, tanpa sempat untuk mandi. Lalu berganti pakaian dengan kaos dan celana panjang santai.


"Dengan bapak Roy?" Dua pria dengan seragam serba coklat berdiri menyambut anak pemilik tuan rumah dan mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan lebih dahulu.


"Iya, saya sendiri. Ada apa ya pagi-pagi mencari saya?" Roy duduk dengan malasnya di sofa single yang berada di ruang tamu


rumah orangtuanya.


“Begini pak, kami langsung saja pada intinya ya. Kami menerima laporan akan kasus percobaan pembunuhan atas saudara Julian Miller yang dilakukan oleh dua orang pria dan mereka mengaku kalau mereka adalah suruhan dari pak Roy.” Kata terakhir yang diucapkan petugas polisi itu membuat sepasang mata Arka dan Roy membelalak lebar.


Arka kaget bukan main dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah anaknya. Sedangkan Roy, perlahan menundukkan kepalanya dengan rahang mengeras dan dahi berkerut. Dia tidak habis pikir kenapa dua


lelaki yang dia bayar itu bertindak bodoh dengan membocorkan rahasia yang sudah


disepakati bersama sebelumnya.


“Roy, katakan! Apa semua itu benar? Apa benar kamu berusaha untuk menjadi seorang kriminal?” Kalau tidak ada dua petugas polisi itu, ingin sekali rasanya Arka menghampiri anaknya dan memberikannya tamparan keras di pipi sang anak.


“TIDAK MUNGKIN! Anakku tidak akan mungkin berbuat sejauh itu. Katakan pada ibu, mereka berbohong. Ya kan, Roy?” Sonia tiba-tiba saja muncul dan berteriak histeris begitu mendengar tuduhan dari polisi pada anak kesayangannya.


Roy diam seribu bahasa. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tapi, dia tidak mungkin mengakui begitu saja tuduhan itu atau hukuman berat menantinya.


“Bapak tidak mungkin percaya begitu saja dengan pengakuan mereka kan? Aku tidak kenal siapa itu Julian. Untuk apa aku membunuhnya?” Ucap Roy dengan


seringai lebar.


“Benar benar, anakku anak baik-baik. Dia tidak mungkin melakukan tindakan konyol dan ceroboh. Banyak yang iri dengan Roy, bisa jadi mereka hanya mencari-cari kesalahannya saja.” Sonia memeluk anaknya dari samping dan menegaskan ucapan Roy yang tentu saja selalu dibelanya.

__ADS_1


“Kamu terlalu memanjakan dia, Sonia! Lihatlah, sekarang dia berubah menjadi penjahat.” Ucap Arka yang menatap sinis anak dan istrinya itu.


“Ayah, kenapa ayah selalu memandangku buruk dan tidak pernah membela aku? Apa aku ini bukan anak kandung ayah? KATAKAN!” Roy bangkit dari


duduknya dan menantang Arka dengan mata menyalang.


“Dasar anak kurang ajar!” Hampir saja sebuah bogem mentah mendarat di pipi Roy, kalau saja tidak dihalangi oleh dua polisi yang ada di hadapan mereka. Sonia panik melihat sikap suaminya yang seperti ingin memakan


anaknya sendiri. Dia tidak pernah melihat sikap Arka yang sekeras dan sebenci itu pada anak mereka.


“Mas!” Sonia memihak Roy dan memegang lengan anaknya agar menjauh dari ayahnya yang seperti ingin menghabisinya di tempat.


“Maaf, kami harus segera membawa pak Roy ke kantor polisi untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan tanya jawab.” Ujar salah seorang polisi itu.


“Tapi, anakku tidak bersalah. Bagaimana mungkin anda berdua bisa membawa anak saya begitu saja? Apa anda punya surat penahanannya?” Sonia memasang


tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi anaknya agar tidak bisa dibawa oleh kedua polisi itu.


Kami belum ada perintah untuk penahanan sebelum dilakukan pemeriksaan.” Ucap seorang petugas polisi lainnya.


“Ibu, aku akan ikut mereka. Sebagai warga negara yang baik, aku akan menjawab panggilan ini. Tapi maaf, permisi sebentar pak. Aku akan bersiap-siap dulu.” Jawab Roy. Kedua polisi itu mengangguk setuju.


“Baiklah, kami akan menunggu disini.” Ucap salah satunya.


“Roy, ibu ikut.” Sonia menyusul anaknya dengan langkah tergesa-gesa.


Roy langsung masuk ke kamarnya dan mengambil tas ransel yang ada di dalam lemari. Dia bukannya ingin berganti pakaian, tapi justru ingin melakukan sesuatu yang diluar perkiraan kedua orangtuanya, yaitu …

__ADS_1


“Roy, apa yang kamu lakukan, nak?” Sonia melihat ransel di atas kasur dan pakaian yang diambil Roy dari dalam lemari dengan sangat


terburu-buru.


“Ibu kira aku gila dengan menyerahkan diri begitu saja? Ibu tahu, di dalam kantor polisi itu segala hal bisa menjadi terbalik. Aku akan


dipaksa untuk mengakui pembunuhan itu dan aku akan dihukum mati setelahnya. Aku


masih muda, jadi aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu.” Ucap Roy


dengan seringai sinisnya. Sambil memasukkan pakaian dan beberapa benda yang dianggapnya sangat penting, Roy memasukkan semuanya ke dalam ransel dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedetik pun.


“Tapi nak, dengan begini maka kamu sama saja mengakui tuduhan itu. Dan, kalau kamu pergi, ibu merasa tidak ada gunanya lagi ibu hidup.” Sonia memegang lengan anaknya dan mencoba mencegah sang anak untuk melakukan perbuatan bodoh.


“Ibu, ibu masih akan bisa terus melihatku kalau aku berada di luar. Tapi, ibu tidak akan melihatku selamanya jika aku berada di dalam penjara sana.” Roy menghempaskan tangan ibunya dan melanjutkan mencari-cari apa yang ingin dibawanya lagi. Dia mengganti pakaian sebelum pergi melalui jendela yang bisa langsung akses menuju halaman belakang dan keluar tanpa dilihat polisi yang


berada di ruang tamu yang jaraknya cukup tersembunyi dari pintu gerbang.


Sonia menatap nanar punggung anaknya yang sudah menghilang dari pandangan. Ibu yang terlalu memanjakan anaknya itu menangis sesenggukan karena ditinggalkan sang buah hati tanpa tahu apakah dia akan kembali atau kapan mereka akan bertemu kembali.


“Dimana Roy? Kenapa dia lama sekali?” Arka tiba-tiba masuk ke dalam kamar Roy dan mendapati istrinya menangis di balkon jendela kamar anak mereka. Perasaannya langsung mengarah kepada sesuatu yang dicurigainya. “Jangan bilang kalau …” Arka bertanya pada istrinya yang masih menangis sesenggukan.


“Ini semua karena kamu! Kamu tidak pernah menyayangi anak kamu dan kamu selalu bersikap kasar padanya. Dia pergi untuk mempertahankan hidupnya.” Ucap Sonia dengan suara terisak menahan tangis.


“Sial! Apa yang kamu katakan? Dengan melarikan diri, sama saja dia dia mengakui kalau dia melakukan kejahatan itu, Sonia!” Arka keluar kembali ke ruang tamu untuk menemui dua tamunya. Tidak lama kemudian, mereka berdua terlihat sudah berada di halaman belakang mencari keberadaan orang yang seharusnya akan dimintai keterangan itu.


***

__ADS_1


Tidak ada yang lebih membahagiakan dari seorang wanita yang setelah sekian lama kesepian dan hidup hanya untuk bekerja dan bekerja, ketika hari-harinya sudah diisi dengan kehadiran seorang pria yang mencintainya dan dia juga mencintai pria itu.


Kini Edwin selalu berada di sisi Sophia hampir setiap hari, jika jadwal bekerjanya kosong. Edwin dan Sophia seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan dan selalu terlihat mesra dan membuat iri siapapun yang melihat mereka.


__ADS_2