
Setelah keduanya membersihkan diri dan tampak rapih dengan pakaian kerja masing-masing, Emilia mulai mengeluarkan kotak khusus bekas cincin kawin berwarna hitam dengan merah beludru di dalamnya. Namun sayangnya, baru saja kotak khusus itu digenggamnya, sebuah telpon masuk di ponsel Julian mengusik ketenangan sepasang suami istri yang baru akan memulai makan pagi bersama. Julian langsung menerima panggilan dan Emilia juga reflek menggenggam kembali kotak tersebut dan meletakkannya di atas pangkuannya.
“Halo, Edwin. Okay aku akan segera berangkat sekarang. Tunggu aku tidak sampai satu jam.” Julian menutup panggilan.
“Edwin? Ada apa? Apa ada yang sangat penting sampai kamu terburu-buru begitu?” Emilia berusaha menahan keinginan untuk memberitahukan kabar gembira pagi ini. Kabar gembira yang pastinya akan menahan Julian untuk pergi ke kantor lebih lama dibandingkan panggilan telpon dari sekretaris barunya, Edwin. Pria yang juga merupakan kekasih sahabatnya, Sophia.
“Ada klien yang sudah lama aku targetkan tiba-tiba datang ke kantor ingin membicarakan kembali bisnis yang sudah satu bulan ini aku anggap angin lalu.”
“Angin lalu? Bukankah selalu ada konfirmasi jadi atau tidaknya suatu kesepakatan setelah bertemu?” Dahi Emilia mengerut mendengar penuturan sang suami.
“Harusnya begitu tapi pria itu menderita kecelakaan hebat sehari setelah kami bertemu. Jadi, aku tentu saja tidak mengkonfirmasi lagi kelanjutannya. Oya, apa kamu sudah selesai sarapannya? Dibungkus saja dan makan di kantor kalau belum selesai.” Ucap Julian sambil berdiri setelah mengusap bibirnya dengan tissue.
“Aku … akan menyusul saja. Bolehkan?” Pandangan penuh harap diberikan Emilia pada pria yang mengernyitkan alisnya.
“Kamu tidak apa-apa? Kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku sejak tadi pagi. Ada apa, sayang? Katakan saja padaku.” Satu tangan Julian bersandar pada meja makan setelah dirinya berdiri di samping sang istri yang wajahnya tidak bisa menyembunyikan sedikit rona pucat. Julian mengusap pipi Emilia seolah ingin mencari tahu sendiri penyebab sang istri bertingkah aneh sejak bangun tidur.
__ADS_1
Emilia menggenggam tangan Julian yang lebar dan wanita itu memejamkan mata menikmati sentuhan pria yang sudah berhasil memenangkan hatinya.
“I’m fine. Really.” Ucap Emilia menyakinkan sang suami. Sungguh beruntung dirinya tidak mengalami mual di pagi hari seperti kebanyakan wanita hamil muda lainnya. Gejala-gejala seperti itu dia baca dari internet di tengah malam saat Julian sedang tertidur pulas. Emilia benar-benar menjadi dilemma sendiri dan tidak tahu harus mencurahkan kegalauannya kepada siapa. Akhir-akhir ini Sophia sudah susah dihubungi. Mungkin karena hubungannya dengan Edwin yang sedang dimabuk asmara sehingga kehadiran Emilia mungkin bisa mengganggu percintaannya dengan sang kekasih hati.
“Aku tidak yakin. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak peduli dengan klien itu. Edwin pasti bisa mengurusnya. Ayo kita berangkat sekarang.” Julian sempat menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan pengakuan Emilia. Pria itu langsung mengambil jas yang tersangkut di kursi makan dan mengajak Emilia untuk bangun dari kursinya.
“Julian, aku tidak apa-apa. Kamu pergi saja ke kantor. Aku hanya … hanya ingin duduk lebih lama disini.” Emilia tidak tahu harus menjawab apa tapi kotak beludru yang semula dia genggam kini sudah berpindah ke dalam tasnya.
“Sayang, kita sudah berjanji untuk tidak ada rahasia di antara kita. Apakah kamu lupa? Atau, kamu sendiri tidak bisa menyanggupinya?” Lagi-lagi ucapan Julian membuat Emilia merasa terpojok. Dia tidak akan merasa sedikit panik andaikan saja dia tidak menyembunyikan berita kehamilannya ini. Tapi, Emilia ingin menyampaikan kepada Julian kabar baik ini dengan suasana yang santai dan nyaman. Dia ingin melihat ekspresi Julian langsung saat seluruh perhatiannya hanya kepadanya. Bukan terganggu dengan rapat, dinas luar, dokumen, atau apapun.
“Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku juga harus memastikan sesuatu dengan mata kepalaku sendiri.” Emilia mengambil tas yang tergantung di kepala kursi lalu berjalan keluar lebih dulu meninggalkan sang suami yang melongo dan bingung karena Emilia pergi begitu saja meninggalkan kalimat yang membuatnya semakin dilanda rasa penasaran yang sangat hebat.
Sesampainya di rumah sakit, Emilia langsung menuju ke bagian pelayanan umum untuk konsultasi terlebih dahulu ke poli mana yang harus dia tuju kalau ingin memeriksakan kandungannya atau cek kehamilan. Salah seorang petugas wanita di bagian pelayanan mengarahkan Emilia untuk mendaftar di spesialis kandungan lalu nanti disarankan untuk meminta cek lab sesuai kebutuhan. Julian duduk di kursi tunggu, bergabung bersama beberapa orang lainnya yang sama-sama menunggu. Beruntung kondisi rumah sakit masih belum ramai sehingga tidak perlu mengantri lama.
“Aku bisa sendiri. Kamu langsung saja ke kantor. Nanti aku langsung ke kantor setelah mendapatkan hasilnya.” Ucap Emilia setelah mendapatkan nomer antrian di poli kandungan.
__ADS_1
“Tapi,”
“Sudahlah, aku baik-baik saja. Aku pasti akan memberitahukan padamu hasilnya, apapun itu.” Ucap Emilia dengan sepenuh hati meyakinkan sang suami yang masih belum percaya.
“Sayang, aku sudah memberikan mandat pada Edwin. Hari ini aku milik kamu seutuhnya. Aku akan menemani kamu di ruang pemeriksaan sampai hasilnya keluar. Jadi kamu jangan lagi mengusir aku pergi, okay?”
“Aku tidak mengusir kamu. Aku hanya …”
“Sudahlah, sekarang kita harus kemana lagi? Kamu mendaftar ke dokter apa?” Julian menatap wajah sang istri dengan penuh cinta sama seperti pertama kali dia mengenal Emilia.
“Aku … mendaftar ke dokter kandungan.” Pelan dan rendah namun suara Emilia mampu didengar dengan baik oleh pria pemilik warna mata biru ini.
“Apa? Dokter kandungan? Apa ada yang gawat terjadi padamu?” Rona panik mulai terlihat dari wajah pria yang semula tenang itu.
“Biar nanti dokter yang mengatakan hasilnya padamu. Okay?”
__ADS_1
Julian terdiam sejenak dan menghela napas panjang dan berat. Sungguh, sikap Emilia sejak bangun tidur benar-benar membuatnya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Julian merasakan adanya ketidakberesan namun dia mengangguk setuju untuk mendengar penjelasan dari dokter saja daripada harus berasumsi yang tidak-tidak.
Setelah menjalani berbagai proses pendaftaran administrasi dan lain sebagainya. Emilia dan suami akhirnya memasuki ruang praktek seorang dokter kandungan yang memiliki banyak pasien tetap dan terkenal bahkan dari luar kota. Seorang dokter pria yang masih cukup muda, mungkin seumuran dengan Julian dan itu yang langsung membuat Julian mengerutkan dahi dan memasang wajah tidak suka sejak memasuki ruangan tersebut.