
"Emilia, akhirnya kamu datang juga. Aku tahu kalau kamu pasti berubah pikiran. Aku tahu kalau kamu tidak akan menggagalkan rencana pernikahan kita." Roy yang baru menuruni anak tangga dari lantai dua, melihat calon istrinya sedang duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya. Pria yang sudah mengenakan seragam pegawai negeri sipil sebuah kementerian itu, tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar seperti mendapatkan harta karun. Pria itu mengira kalau Emilia datang ingin merubah pikirannya dengan melanjutkan rencana pernikahan mereka.
Tapi, wajahnya seketika suram saat melihat reaksi kedua orangtuanya yang menatapnya kecewa dan dengan wajah lesu. Emilia justru terlihat diam tidak peduli dan tidak menunjukkan perasaan takut ataupun lemah seperti biasanya.
"Ayah, ibu, bagaimana? Apakah kita bisa memajukan tanggal pernikahan aku dan Emilia?" Roy masih berpikiran positif menanggapi ekspresi semua orang di ruang tamu pagi ini.
"Cih, menikah? Keluarga ini sudah kehilangan calon menantu hebat dan penuh cinta." Arka meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Tinggallah ibu dan anak yang saling menatap dengan pikirannya masing-masing.
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Terima kasih untuk semua bantuan yang ibu dan bapak berikan selama ini untuk aku dan nenekku. Kalau begitu, aku pamit undur diri." Emilia berdiri dan membungkukkan tubuhnya sekedar untuk memberi penghormatan terakhir kepada mantan calon ibu mertuanya. Sonia membalasnya dengan mendengus kesal. Buyar sudah rencananya untuk mengeruk kesenangan pribadi kalau Emilia bersedia menjadi menantunya. Roy pun seperti kebakaran jenggot tidak terima Emilia pergi begitu saja. Ancaman warisan yang akan menjadi miliknya, akan hilang begitu saja kalau dia tidak menikah dengan Emilia.
"Lia, tunggu aku! Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal. Tidak ada pria yang mau menerima wanita yatim piatu seperti kamu untuk menjadi istri kalau bukan dari keluarga baik-baik seperti kami. Lihatlah aku! Aku seorang pegawai negeri sipil. Gajiku stabil sampai aku pensiun dan kita tidak akan kelaparan. Bahkan kita bisa hidup lebih baik dari orang lain." Ucap Roy dengan penuh percaya diri.
Emilia menyeringai sinis mendengar pepesan kosong pria yang sudah mengkhianatinya di dua kehidupannya ini.
"Kita urus hidup kita masing-masing. Pria manapun yang akan menjadi suamiku kelak, sudah pasti bukan pria yang selingkuh dan bermain gila dengan wanita lain, apalagi dengan sepupuku sendiri. Selamat tinggal, Roy. Jangan pernah menggangguku lagi." Emilia melangkah keluar dari rumah besar dengan hati yang sangat lega karena telah mengeluarkan beban paling besar dari hidupnya. Tapi tidak dengan Roy dan Sonia yang mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangan mereka menahan kekesalan yang memuncak.
"Ibu, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku tidak ingin warisan untukku melayang begitu saja." Ucap Roy pada ibunya dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Tentu saja, nak. Kita harus mengatur strategi baru. Dia harus menikah denganmu apapun yang terjadi. Ibu juga tidak ingin ayah kamu membatasi jatah belanja ibu untuk bersenang-senang. Cih, dasar wanita tidak tahu diri." Ucap Sonia dengan wajah masih kesal bukan main.
__ADS_1
"Terus apa yang harus kita lakukan, bu?" Rengek Roy pada ibu yang selalu mendukung langkahnya, meskipun salah.
"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang kita sarapan dan kamu berangkat kerja. Ibu juga harus bersiap-siap untuk bertemu klien ibu sebentar lagi." Ucap Sonia yang wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan tadi. Sonia memiliki janji temu dengan selingkuhan brondongnya di villa yang sudah mereka janjikan sejak dua hari yang lalu.
Roy mengangguk-angguk setuju. Dua manusia licik dan tidak setia itu pun berjalan menuju ruangan makan, minus sang kepala keluarga karena Arka langsung pergi dengan supir pribadinya, tidak lama setelah Emilia pergi meninggalkan rumah.
"Fyuhh, akhirnya aku bisa menyelesaikan satu masalah. Dadaku merasa plong dan segar. Aku tidak pernah merasa selega dan sesenang ini." Gumam Emilia dalam hati sambil mengurut dadanya dengan senyum mengembang di bibirnya tidak terlepas. Namun, senyuman itu langsung redup ketika membaca pesan singkat dari Julian, bosnya.
"Kita harus ke KUA sekarang. Aku akan kirimkan lokasinya sekarang dan kita bertemu disana." Emilia menelan air liurnya dengan susah payah. Terlepas dari jeratan buaya, kini dirinya masuk ke dalam perangkap harimau.
"Baiklah, aku akan siap menghadapi semuanya. Aku tidak akan menyerah dan meminta belas kasih di kehidupan ini. Hati dan jiwaku adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengendalikannya. Semangat, Emilia!" Gumamnya dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
Tempat yang dituju pun akhirnya ada di depan mata. Di tempat ini, Emilia pernah mengurus surat-surat menikahnya dengan Roy. Dan, kini dia datang lagi dengan alasan yang sama namun pria yang berbeda.
Tidak sulit untuk menemukan pria dengan tinggi badan diatas rata-rata. Pria itu berdiri disana dengan posturnya yang kokoh dan ketampanannya yang membuat semua wanita yang berada disekitarnya berdecak kagum.
"Wanita mana yang beruntung memiliki calon suami setampan itu?"
"Duh tampannya. Beruntung sekali kita datang pagi-pagi sudah mendapatkan sarapan lezat."
__ADS_1
"Sayangnya aku sudah menikah. Tapi aku mau jadi simpanannya kalau dia mau padaku."
Gumaman itu terdengar sampai ke telinga Emilia yang berjalan perlahan menuju ke tempat dimana sang calon suami berada.
"Sudah selesai urusanmu dengan pria itu?" Tanya Julian pada wanita yang masih gugup tidak tahu harus bersikap apa.
"Su-sudah. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada hubungan apapun." Jawab Emilia dengan wajah dibuat setegar mungkin.
"Baguslah kalau begitu. Giliran kita akan tiba sebentar lagi."
Yang Emilia tidak tahu, Julian berusaha sekuat mungkin menekan rasa gugup dan malunya. Dia tidak ingin terlihat seperti pria yang benar-benar mengharapkan pernikahan ini. Walau kenyataannya dia memang menunggu momen seperti ini setelah Emilia memutuskan pertunangannya dengan pria tidak tahu diuntung tersebut.
"Giliran tuan dan nyonya sekarang." Charlie berkata pada dua orang dewasa yang berdiri dengan perasaan gugup yang tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka masing-masing. Charlie tersenyum melihat raut wajah tuannya yang akan melepas masa lajang dengan wanita pilihannya namun dengan cara yang tidak diduganya sama sekali.
Emilia sempat terkejut mendengar asisten pribadi bosnya memanggil dirinya dengan sebutan 'nyonya'. Namun, dia tidak punya waktu untuk mendebat karena panggilan untuk calon mempelai selanjutnya sudah dikumandangkan.
Akhirnya, resmi sudah secara agama dan hukum pernikahan dua insan manusia yang tidak melalui proses pacaran seperti pasangan pada umumnya. Dua buah buku jadi saksi betapa perjalanan mereka menjadi sepasang suami istri baru akan dimulai.
"Emilia, mulai hari ini aku adalah suami kamu dan kamu adalah istri aku." Ucap Julian sesaat setelah mereka berada didalam mobil.
__ADS_1