If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
37. Teman Tapi Mesra


__ADS_3

"Aku tetap akan berusaha untuk merampas mahkota yang selama ini dia jaga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau dia pasti akan menikah denganku, bukan? Hehehe," Gumam Roy sambil menyeringai lebar, membayangkan rencananya yang amat sempurna dan hasil yang memuaskan.


Netta mendengus kecil namun Roy tidak mengetahuinya karena pria itu sibuk mengepalkan tangan sambil menatap ke bawah dengan seringai sinisnya.


"Roy, aku dengar bosnya Lia sedang keluar negeri. Ini kesempatan untuk kamu kalau mau mendekati Lia. Setidaknya, berkurang satu penghalangmu." Netta membuang abu puntung rokoknya ke asbak yang telah disediakan di atas meja.


"Oya? Hmm, ini kesempatan yang baik. Aku akan segera bertindak sebelum pria sialan itu menghalangi rencanaku lagi. Tapi, aku tidak bisa masuk ke gedung kantornya lagi. Aku akan mencegatnya saat dia pulang kerja di jalan." Ucap Roy dengan ide gilanya.


"Kamu mau menculik dia?" Netta mengerutkan alis.


"Bisa dibilang begitu. Kenapa?" Roy balik mengerutkan alis.


"Otak kamu benar-benar sudah tidak berfungsi atau bagaimana? Kalau dia menuntut kamu, kamu mau kehilangan karir yang kamu bangga-banggakan itu?" Ucapan Netta sontak membuat Roy terdiam.


"Benar juga. Aku sudah kehilangan hampir semua fasilitas dari ayah. Masa aku mau kehilangan pekerjaan yang aku impikan ini?" Gumam Roy dalam hati. "Lalu, apa kamu ada ide?" Pria yang sudah terlanjur tidak punya harga diri di hadapan Netta, perempuan selingkuhannya itu, melirik ke arah wanita yang menyeringai sinis.


"Kamu masih ingat kan kalau Lia punya nenek?"


"Oh, lalu?"


"Kamu dekati nenek Nur dan ambil hati neneknya. Lia memang wanita keras kepala tapi kalau neneknya sudah meminta, dia pasti tidak akan menolak." Jawab Netta penuh percaya diri.


"Neneknya? Ohh, jadi aku harus melakukan pendekatan pada neneknya?" Roy memikirkan usul yang diberikan Netta. Selama ini dia memang tidak pernah berusaha merebut hati nenek Nur karena baginya menjerat Emilia dan neneknya dengan hutang yang menggunung saja sudah cukup membuat mereka terperangkap dalam perjodohan yang dipaksakan.


"Pikirkan saja sendiri. Aku harus pergi sekarang. Aku masih ada janji lagi dengan seorang teman." Netta berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan pria yang masih memikirkan ide yang baru saja diterimanya. Keduanya berpisah dengan membawa cerita masing-masing.


—-


"Sophia, ada yang mencari kamu diluar." Karin, seorang resepsionis kantor tempat Emilia dan Sophia bekerja, memberitahu Sophia lewat telpon internal yang terhubung antar karyawan di kantor ini.


"Siapa?"


"Dia tidak bilang namanya. Dia hanya bilang kalau dia menemukan kartu pengenal kamu dan mau mengantarkannya." Jawab Karin balik.

__ADS_1


"Apa? Kartu pengenal? Aku kesana sekarang."


Tanpa menunggu Karin menjawab, Sophia langsung menutup telpon dan bergegas menuju ke meja resepsionis.


"Dimana dia?" Tanya Sophia pada Karin yang sedang menerima telpon lainnya. Karin menunjuk ke arah kursi ruang tunggu dengan kode leher dianggukan ke depan. Sophia bisa langsung melihat wajah pria yang sedang berdiri disana sambil menatap dirinya.


Sophia menelan salivanya. Entah kenapa dia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pasti bukan karena wajah tampan pria itu yang lebih segar dari kemarin malam. Atau, bukan dari senyum manisnya yang terkesan menggoda di mata Sophia.


"Kamu tahu darimana kantor tempat aku bekerja?" Sophia berjalan mendekati pria yang jarak diantara mereka hanya dua meter itu.


"Ada kartu nama kamu dibalik kartu pengenal ini. Jadi, aku tahu dimana kamu bekerja." Ucap pria tersebut.


"Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" Tanya Sophia dengan nada bicaranya yang terdengar lebih lembut dari biasanya itu.


"Terima kasih, karena kamu aku tidak jadi gelandangan atau yang lebih buruk lagi jadi korban pencopetan karena dalam kondisi mabuk parah. Oya, ini kartu pengenal kamu." Pria itu mengulurkan sebuah benda persegi yang terbuat dari kertas yang bahannya cukup keras dan berwarna biru itu. Sophia menerimanya sambil tersenyum tipis.


"Kita belum berkenalan dengan baik. Namaku Alfred Joshua. Dan, kamu?"


"Sophia Elena. Nama yang cantik, secantik wajah dan hatinya." Jawab pria bernama Alfred, yang kebetulan juga rekanan bisnis Julian.


"Apakah kamu ada waktu pulang kerja ini? Aku ingin mentraktir makan malam kalau kamu tidak ada janji lain." Setelah beberapa menit keheningan karena tidak ada yang berkata satupun, Alfred berinisiatif bertanya lebih dulu.


"Boleh. Kebetulan aku juga tidak ada janji." Jawab Sophia langsung.


"Ini kartu namaku." Alfred mengeluarkan kartu namanya.


"Ohh, ini kartu namaku." Sophia selalu membawa kemana-mana dua atau tiga lembar kartu namanya di saku kemejanya.


"Aku akan menelpon kamu lebih dulu." Ucap Alfred.


"Ponselku ada di atas meja. Nanti aku cek."


"Okay, aku sudah mengirim nomer ponselku. Kalau begitu, sampai bertemu nanti malam. Maaf mengganggu waktu kerja kamu." Ucap Alfred dengan penuh sopan santun.

__ADS_1


"Baik, sampai bertemu lagi nanti."


Keduanya pun berpisah hingga akhirnya penampakan Alfred menghilang dibalik tikungan.


"Ahhhh, kenapa aku sebahagia ini?" Sophia berteriak kecil hingga hanya dirinya yang bisa mendengar apa yang diucapkannya.


"Ciee, ada yang lagi berbahagia nih." Karin yang sejak tadi melihat interaksi antara Sophia dengan tamu yang baru pertama dilihatnya, menggoda Sophia yang seperti orang sedang dilanda kasmaran.


"Apa sih kamu. Dia itu cuma seorang teman." Jawab Sophia dengan senyum malu-malu.


"Iya iya teman. Teman tapi mesra." Goda Karin lagi.


"Sst, kamu jangan mulai tebar gosip ya. Nanti pasaranku jatuh." Jawab Sophia sambil mendelik galak.


"Hahahaha, sejak kapan pasaran kamu melambung tinggi?" Ucap Karin lagi.


"Karin! Ssst, diam!" Sophia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Karin tertawa renyah bisa menggoda wanita nomer dua yang terkenal tidak suka bergaul dengan banyak orang dan terkenal wanita gila kerja. Tentu saja posisi pertama dipegang Emilia. Emilia dan Sophia adalah contoh wanita karir yang senang menghabiskan waktu mereka di kantor daripada pulang cepat dan bersenang-senang bersama teman mereka.


"Sophia, nanti malam mau pulang bareng?" Emilia yang baru keluar dari pantry dengan membawa secangkir kopi di tangannya, langsung menegur Sophia yang kebetulan berjalan didekatnya.


"Ahh maafkan aku. Aku ada janji." Sophia memasang wajah sedih karena tidak bisa mengabulkan keinginan temannya.


"Ohh oke tidak apa. Janji sama siapa nih? Perempuan atau laki?" Kini Emilia juga menggoda Sophia. Sophia langsung menarik tangan Emilia ke tempat yang cukup sepi.


"Ehh pelan-pelan. Kopiku nanti tumpah." Emilia berkata setengah berteriak.


"Pria pemabuk yang aku tolong semalam, tadi dia datang mengantarkan kartu pengenalku." Sophia menutup mulutnya malu-malu.


"Oh really? Wow, terus terus?" Mata Emilia pun berbinar-binar mendengar cerita pembuka sahabatnya.


"Dia mengajakku makan malam sepulang kerja." Sophia tampak berusaha menahan rasa malunya bercerita hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2