If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
32. Berakhir Dengan Menyakitkan


__ADS_3

Wanita bernama Donna itu melepas selimut ke atas lantai hingga menampakkan tubuh mulusnya. Namun, tiba-tiba suara ponselnya berdering.


"Sayang, kamu dimana? Aku sudah sampai bandara." Ucap pria lain yang memanggil Donna sayang pagi ini.


"Alfred?" Wanita bernama Donna itu sontak ketakutan kalau keberadaannya saat ini akan ketahuan. Ditambah lagi, banyak jejak merah di dada dan sekujur tubuhnya, kecuali leher tentu saja karena dia tidak mengijinkan siapapun, termasuk suaminya, untuk meninggalkan kissmark disana.


"Ya sayang, aku tahu kamu ada di kota ini. Jadi, aku sengaja datang untuk memberikan kejutan untuk kamu." Suara Alfred yang lepas dan ceria membuat Donna semakin bingung.


"Apa kamu sudah memesan kamar hotel?" Donna berjalan menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap membersihkan tubuhnya lalu menemui sang suami.


"Tentu saja. Aku sekarang ada di lobi hotel A." Jawab Alfred dengan suara yang lantang dan jelas.


Hati Donna mendadak mencelos mendengar nama hotel yang kebetulan sama dengan hotel yang sedang diinapinya saat ini. Wanita itu tidak ingin sang suami melihat keadaannya yang pasti akan membuat sang suami marah besar dan mungkin akan menceraikan dirinya kalau sampai melihat penampilannya sekarang.


"Kita bertemu di lobi sekitar satu jam lagi. Aku akan kesana." Jawab Donna berusaha mengulur waktu untuk dirinya bersiap-siap mandi, memakai baju, dan mengambil mobil sewanya di basement parkir hotel untuk menuju ke lobi hotel seolah-olah dia baru datang.


"Baiklah, aku kangen kamu. Jangan lama-lama ya." Jawab Alfred yang belum mengetahui perselingkuhan istrinya dengan beberapa pria saat istrinya itu dinas terbang ke kota atau negara lain.


Secepat mungkin Donna melakukan semuanya dan kurang dari 1 jam dia sudah berada di basement.


"Ok, semua sudah siap. Jejak merah sialan itu tidak terlihat. Aku hanya akan beralasan sedang haid jadi dia tidak akan meminta haknya. Toh dia tidak pernah tahu kapan aku datang bulan." Donna segera melajukan mobilnya dan berpura-pura baru memasuki lobi hotel.


"Alfred!" Donna bisa melihat penampilan sang suami yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan pria lainnya.


"Sayang," Alfred meletakkan tabloid yang sedang dibacanya di tempatnya semula.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah check in, kenapa kita tidak bertemu di kamar kamu saja?" Donna bertanya pada sang suami yang langsung merangkulnya begitu mereka bertemu.


"Aku baru selesai bertemu klien jadi aku sekalian saja tunggu kamu. Kamu pasti lelah sekali, ayo kita ke kamarku." Alfred mendekap lengan sang istri dan mereka berangkulan menuju kamar Alfred yang sudah dipesannya lewat aplikasi online. Pria itu juga sudah memegang kunci kamarnya.


Begitu masuk ke dalam kamar, seperti yang Donna duga, suaminya mulai memojokkannya ke dinding kamar.


"Alfred, tolong jangan, aku sedang datang bulan." Ujar Donna sambil memalingkan wajahnya ke samping. Tampak gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah pria yang sudah lima tahun lebih itu menjadi suami dari seorang Donna, sang pramugari.


"Kamu tahu, Donna? Kenapa aku jauh-jauh datang kesini dari Jakarta?" Alfred membalikkan tubuhnya memunggungi Donna dan menghadap ke jendela yang terbuka lebar.


"Bukankah kamu ingin bertemu klien?" Tanya Donna tidak mengerti.


"Aku kesini untuk mengajukan cerai padamu." Jawab Alfred dengan suara mantap.


"APA? Alfred, kamu jangan gila! Hanya karena aku datang bulan terus kamu …"


"Sial! Pria ini bicara apa sih?" Gumam Donna dalam hati. "Aku tidak tahu apa yang kamu katakan." Donna berusaha bersikap setenang mungkin, meskipun hatinya mulai mencurigai maksud ucapan Alfred.


Alfred tidak menjawab apapun, tapi dia justru mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya ke atas.


"Kamu lihat ini," Alfred melempar ponselnya ke atas kasur. Donna segera mengambil ponsel tersebut dan melihat apa yang ada di atas layarnya.


Matanya terbelalak lebar ketika melihat apa yang ada disana. Foto-foto mesra dirinya dan beberapa pria sewaannya tertangkap jelas bahkan dari jarak sangat dekat. Dada Donna bergemuruh kencang melihat semua foto tersebut.


"Ada yang ingin kamu katakan?" Alfred memasukkan kepalan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil menatap Donna dengan sinisnya.

__ADS_1


"Al .. fred, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Donna meminta belas kasihan Alfred dengan tatapan memelasnya.


"Donna, aku sudah cukup bersabar selama ini untuk menyimpan semua rahasiamu. Aku menunggu-nunggu kapan kamu akan berkata jujur padaku. Jadi, sekarang, apakah ada yang ingin kamu katakan sebelum aku mengurus surat perceraian kita?"


"ALFRED! Kamu jangan gila! Kamu jauh-jauh kesini hanya untuk mengatakan itu padaku?" Donna mulai tidak bisa berpikir jernih. Kesenangan yang selama ini disembunyikannya, ternyata telah lama ketahuan oleh sang suami.


"Sekarang, tolong keluar dari kamarku. Mulai detik ini, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi." Alfred menuju pintu dan membuka badan pintu lebar-lebar untuk memberi kesempatan pada Donna untuk keluar kamar dengan sikap terhormat dan sopan.


"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Kita akan bertemu lagi besok agar kamu dapat menjernihkan pikiranmu terlebih dahulu malam ini." Donna keluar dari kamar dengan perasaan masygul.


Alfred menutup pintu dan duduk melorot ke bawah. Pernikahan yang sudah dipertahankan selama lima tahun lebih itu harus berakhir dengan perceraian yang menyakitkan.


Sebuah klub malam terkenal di kota dengan musik yang bising memekakkan telinga dan keriuhan pengunjung meliak liukkan tubuhnya seiring hentakan lagu yang sedang dimainkan seorang DJ, menjadi pelarian seorang pria dengan minuman keras yang ditenggaknya sejak tadi. Tidak peduli sudah lebih dari empat gelas minuman dia habiskan, dia hanya ingin melupakan apa yang sudah membuatnya kesal, kecewa, dan bercampur amarah.


"Hai pria tampan, mau aku temani malam ini? Kebetulan, aku sedang sepi tidak punya pasangan. Kamu sepertinya butuh teman curhat." Seorang wanita seksi dengan pakaian serba minim dan polesan make up yang cukup tebal, membuat pria yang sudah setengah mabuk itu tersenyum menyeringai sinis.


"Sedang sepi? Butuh teman curhat? Hahaha, apakah aku terlihat menyedihkan sehingga perempuan datang dan pergi sesuka hati mereka? Apakah aku tidak bisa berbuat semau aku seperti kamu yang mendekati semua pria kesana kemari? Dasar perempuan murahan!" Wanita yang awalnya ingin menemani pria setengah mabuk itu, justru merasa kesal dicap perempuan murahan oleh pria yang baru ditemuinya pertama kali. Meskipun sesungguhnya dia memang wanita yang menjual tubuhnya demi beberapa lembar rupiah.


"Cih!" Wanita itu pergi sambil mendecih sinis. Dia malas melayani pria mabuk yang sudah membuatnya kesal.


"Ya, pergilah kalian semua dari kehidupanku. Aku tidak butuh satu wanita. Aku bisa mendapatkan banyak wanita kalau aku mau." 


Gluk Gluk Gluk!


"Hahhhhhh,"

__ADS_1


Gelas kelima pun habis ditenggak isinya dalam sekali napas.


__ADS_2