
"Tidak. Aku rasa kita tidak membutuhkan asisten rumah tangga. Aku bisa melakukan bersih-bersih sepulang bekerja." Emilia merasa tidak nyaman jika ada orang lain di apartemen ini. Dia tidak ingin ada gosip yang
beredar di luar mengenai pernikahan tersembunyi ini. Sebisa mungkin dia ingin
menutup rapat apapun yang bisa membuat kemungkinan bocornya status pernikahan
mereka berdua.
"Tapi aku tidak ingin merepotkan kamu. Apartemen ini cukup luas dan kamu akan kesulitan." Jawab Julian lagi.
"Kita bisa melakukannya bersama-sama kalau kamu tidak keberatan." Jawab Emilia sambil tersenyum lebar. Julian mengerutkan alisnya. Entah apa maksud Emilia menolak asisten rumah tangga. Julian mengira itu karena Emilia tidak ingin terganggu privasinya jika ada orang luar dirumah ini.
"Okay, tidak masalah. Aku juga terbiasa melakukan semuanya sendiri." Ucap Julian lagi. "Kamu mau berangkat bersama-sama
ke kantor?"
“Iya, boleh. Kalau tidak merepotkan.” Jawab Emilia dengan ragu-ragu.
“Kita sudah suami istri, jadi tidak ada istilah merepotkan lagi.” Julian mengambil kunci mobil dan segera menuju pintu lebih dulu. Emilia tersentak mendengar ucapan suami istri dan tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Dia belum terbiasa dengan istilah itu dan sepertinya dia harus membiasakan diri.
Keduanya keluar dari apartemen dengan saling berdiam diri. Emilia tidak tahu harus mengucapkan apa, begitu juga Julian yang tidak berani bertindak duluan sebelum sang istri mengijinkan. Bahkan didalam mobil pun,
Julian dan Emilia tidak mengatakan apa-apa. Julian yang tidak punya pengalaman dengan seorang wanita, sangat berbeda jauh dengan gosip yang beredar di luar yang mengatakan kalau Julian Miller adalah sosok playboy dan memiliki banyak wanita dimana-mana. Pada kenyataanya, semua wanita itu harus pergi berakhir dengan kekecewaan karena tidak mendapatkan respon yang mereka inginkan. Sehingga para wanita yang dikecewakan itu membuat gosip buruk di luar tentang sifat Julian.
“Turunkan aku di halte depan saja, agar tidak ada yang melihat. Lain kali, aku akan berangkat dan pulang kerja sendiri.” Ucap Emilia saat tujuan mereka tinggal satu tikungan lagi.
“Baiklah, terserah kamu saja.” Jawab Julian tanpa menoleh pada penumpang satu-satunya di mobil.
“Selamat pagi,”
__ADS_1
“Selamat pagi,”
Emilia mengucapkan salam pembuka pada semua orang yang ditemuinya dan semuanya pun membalas dengan penuh kehangatan. Tidak berapa lama, CEO mereka berjalan di belakang dan melewati beberapa karyawan yang masih berkumpul karena belum masuk waktu kerja.
“Selamat pagi, pak.” Ucap semua karyawan yang ada di sekitar.
“Pagi,” Julian langsung masuk ruangannya tanpa memperhatikan semua yang memberi salam padanya.
“Kapan ya bos kita jadi ramah dan hangat? Sepertinya bos kita belum menemukan pawangnya.” Ucap Sophia. Hal tersebut ditimpali oleh rekan kerja lainnya.
“Padahal apa sih kurangnya bos kita itu? Tampan, gagah, kaya raya, pintar, dan lain sebagainya. Tapi kenapa ya sukanya malah sama lelaki? Ckckck,”
“Uhukkk,” Emilia yang sedang menenggak air putih langsung tersedak mendengar ucapan temannya itu. “Benar-benar gosip seperti ini rupanya yang membuat Julian ingin segera membuktikan kalau dia masih normal.” Gumam Emilia dalam hati.
“Kamu tahu darimana kalau tuan CEO kita seorang gay?” Tanya Emilia penasaran.
“Gosip ini sudah menyebar kemana-mana, Lia. Sepertinya hanya kamu yang ketinggalan berita. Makanya, para karyawan pria yang normal jadi ketakutan kalau berduaan saja dengan bos kita. Tapi, pria-pria melambai justru banyak yang mencari perhatian tuan Julian.” Ucap teman wanita Emilia yang memulai cerita tentang gosip pagi ini.
Nanti kalau tidak ada yang mau bekerjasama dengan perusahaan kita, kita gajian darimana?” Ucapan Emilia yang panjang lebar membuat semuanya terdiam. Mereka baru
sadar kalau mereka selama ini sudah kemakan hasutan yang tidak terbukti. Mereka
menyesal telah mengikuti gosip yang terlanjur membesar seperti bola salju yang
diluncurkan.
“Iya kamu benar. Maafkan aku. Okay, kembali kerja kerja kerja. Daripada menggosipkan bos kita sendiri, lebih baik kita kerja demi memajukan perusahaan ini. Kalau perusahaan berkembang pesat, efeknya kan ke gaji kita-kita juga. Betul apa betul?” Ucap rekan wanita tadi.
“Betuuuul,” Sorak sorai pagi ini membuat semangat bekerja mereka semakin berlipat-lipat. Dan, ada seseorang di dalam sana yang tersenyum tipis setelah mendengarkan obrolan diluar yang terdengar sampai kedalam itu.
__ADS_1
Tidak ada yang berbeda hari ini, semua seperti biasa. Baik Julian maupun Emilia tidak ada gelagat yang menunjukkan kalau mereka sudah menjadi sepasang suami istri, meskipun hanya diatas kertas dan sesuai perjanjian akan berjalan satu tahun saja.
Menjelang makan siang, Emilia yang sudah bersiap-siap untuk keluar menuju resto langganannya bersama Sophia, tiba-tiba mendapat pesan singkat dari Julian.
“Kamu mau makan siang dimana?” Emilia bingung harus menjawab apa. Namun, orang yang mengirim pesan ini bukan hanya sebagai bos, tapi juga suaminya yang sah secara hukum dan agama.
“Lia, ayo cepat. Balas pesannya di jalan saja.” Sophia yang sudah hampir keluar dari pintu, berteriak memanggil Emilia yang masih berdiri di sisi mejanya.
“Aku menyusul. Kamu duluan saja sama Vivi ya.” Balas Emilia sambil sedikit berteriak.
Tampak kekecewaan terbit di wajah Sophia, teman dekatnya yang kemana-mana selalu berdua dengannya.
“Ya sudah, kamu jangan lama-lama ya.” Sophia pun berlalu menghampiri Vivi yang sudah menunggu di depan pintu lift untuk turun ke lobi.
Setelah suasana didalam kantor sepi, Emilia mengetuk pintu ruangan pria yang masih ada didalamnya.
“Masuk,”
Emilia langsung masuk begitu mendapat ijin dari si empunya ruangan, sekaligus CEO tempatnya bekerja, dan juga suaminya sendiri.
“Anda ingin aku belikan makanan apa?” Tanya Emilia pada pria yang masih konsentrasi dengan pekerjaannya. Memang benar, kadar ketampanan seorang pria terlihat ketika dia sedang fokus bekerja.
“Aku tidak ingin dibelikan makanan apapun.” Jawab Julian, setelah menghentikan ketikannya dan menutup laptopnya. “Sebaliknya, aku ingin mengajak kamu ke restoran yang biasa aku datangi.” Pria itu mengambil jas yang ada di gantungan sudut ruangan lalu memakainya dengan cepat.
“Tapi, bos.”
“Saat tidak ada orang lain, panggil aku dengan namaku saja.” Jawab Julian sambil berdiri di hadapan Emilia yang masih bingung dengan ajakan yang tiba-tiba ini.
“Aku sudah berjanji pada teman-temanku untuk makan siang bersama.” Jawab Emilia dengan wajah harap-harap cemas.
__ADS_1
“Oh begitu? Ya sudahlah, kalau begitu aku tidak jadi makan siang. Lagipula aku masih banyak pekerjaan menanti. Kamu keluar saja susul teman-teman kamu.” Julian hendak mencopot jasnya kembali karena rencana makan siang pertama bersama sang istri terancam gagal.