If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
45. Rintihan Tidak Sengaja


__ADS_3

Dia sedang mengurus obat-obat di apotik untuk rawat jalanku." Sophia tersenyum lirih.


"Siapa dia?" Tanya Emilia lagi.


"Itu, orangnya sedang berjalan ke arah sini." Sophia menunjuk dengan menaikkan alis matanya.


"Ini obat-obatnya. Aku sudah bicara dengan apotekernya, katanya untuk antibiotik harus dihabiskan sedangkan obat nyeri dan demam hanya diminum jika masih terasa sakitnya. Apakah dokternya sudah datang?"


Emilia dan Sophia mengerjapkan mata berulang-ulang. Sophia tersenyum senang karena baru kali ini dia diperhatikan layaknya seorang kekasih. Tapi, Emilia justru yang bingung bercampur heran.


"Maaf, anda siapa ya?" Emilia bertanya sambil memiringkan dagunya.


"Oh maaf, nama saya Edwin. Saya …"


"Dia yang menyelamatkan aku dari kecelakaan dan membawaku ke rumah sakit, Lia. Perkenalkan, ini teman kantorku, Emilia. Emilia, ini Edwin." Sophia memperkenalkan dua orang yang saling berdiri berhadapan.


"Oh iya, terima kasih kamu sudah menyelamatkan dan membawa wanita keras kepala ini ke rumah sakit."


"Heiii, apa maksud kamu?" Sophia menyenggol lengan temannya dengan tatapan mata melotot.


"Hehe, kalau begitu aku bisa lega meninggalkan dia disini. Sophia, aku benar-benar minta maaf aku harus kembali ke kantor. Ada dokumen yang harus aku tandatangani secepatnya." Ucap Emilia dengan nada memelas.


"Iya iya aku tahu, pergilah. Aku baik-baik saja kok. Secepatnya aku akan pulang jadi aku tidak perlu menginap di rumah sakit. Pergilah!"

__ADS_1


"Aku akan ke rumah kamu sepulang kerja. Okay?"


"Tidak, tidak perlu. Aku akan langsung istirahat." Jawab Sophia dengan senyum melebar. "Pergilah cepat dan jangan ke rumahku. Jangan ganggu aku hari ini, okay?" Bisik Sophia di telinga kiri temannya agar suaranya tidak terdengar oleh Edwin. Emilia membelalakkan mata mendengar ucapan temannya yang mengandung maksud sesuatu.


"Terserah kamu," Bibir Emilia merengut karena merasa terusir oleh sahabatnya sendiri.


"Bye, kerja yang benar yaa." Sophia melambaikan tangan pada sahabatnya yang masih menatap keheranan. Mana ada orang yang baru terkena kecelakaan tapi wajahnya cerah berseri? Setelah melihat penampilan pria bernama Edwin tersebut, Emilia baru paham kenapa Sophia bersikap seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.


Sepeninggal Emilia, Sophia dan Edwin masih di ruang perawatan instalasi gawat darurat. Perban yang membungkus satu kakinya dari betis sampai telapak kaki kiri, membuatnya harus duduk di kursi roda untuk sementara waktu.


"Kamu bisa pergi, aku bisa sendiri." Ucap Sophia dengan ucapan yang tentu saja tidak sesuai dengan kata hatinya.


"Aku bisa menemani kamu sampai sore ini. Aku akan mengantarkan kamu pulang, baru aku kembali kerja." Ucap Edwin dengan santun. Pria itu berusaha untuk tidak menatap mata Sophia. Dia memilih untuk berbicara dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Oh begitu. Terima kasih banyak ya. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah berakhir dengan banyak cedera dan berdarah dimana-mana."


"Aku tidak konsentrasi? Aku …" Sophia teringat lagi kalau dia saat kecelakaan itu terjadi memang sedang melihat layar ponselnya karena ada bunyi telpon masuk. Dia tidak sadar kalau saat itu sedang menyeberang jalan. "Ahhh, aku baru ingat." Sophia menghela napas pasrah.


"Nona Sophia Elena?" Seorang perawat wanita datang dengan memegang sebuah surat. "Ini surat pengantar ijin sakit dari dokter untuk nona Sophia. Dokter menyarankan nona Sophia untuk beristiahat setidaknya satu minggu untuk memulihkan cidera otot." Ucap perawat itu menjelaskan kondisi Sophia yang saat ini dialaminya.


"Satu minggu? Besok saja aku bisa kembali bekerja kok, sus. Aku hanya perlu pakai kruk." Jawab Sophia sedikit membantah.


"Baiklah, itu terserah nona saja." Ucap sang perawat sambil tersenyum lebar. Dia pun menyerahkan selembar kertas ijin itu. "Nona bisa pulang sekarang. Semoga lekas sembuh ya,"

__ADS_1


"Terima kasih,"


Edwin yang sejak tadi mendengarkan percakapan antara Sophia dan suster, akhirnya ikut bicara setelah suster itu pergi.


"Mungkin ada benarnya kamu turuti apa kata dokter. Toh kamu juga sudah mendapatkan surat ijin sakit." Edwin membantu Sophia bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan perawatan.


"Satu minggu terlalu lama. Aku tidak bisa berdiam tidak melakukan apapun di rumah. Ahhh, pelan-pelan." Sophia merintih kesakitan saat kakinya diangkat sedikit oleh Edwin untuk merapihkan letak kakinya di atas penampang kaki kursi roda. Baik Sophia dan Edwin langsung saling menatap. Rintihan tidak sengaja yang dikeluarkan Sophia membuat wajah keduanya memerah menahan malu. Keduanya pun seketika salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke arah berbeda.


"Aku akan mengantarkan kamu pulang." Edwin membantu Sophia mendorong kursi roda sampai lobi rumah sakit. Mobil Sophia yang masih tertinggal di parkiran basemen kantor, akan dititipkan disana selama beberapa hari. "Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil mobilku di parkiran." Sophia mengangguk sambil mengatupkan bibirnya.


"Adegan seperti apa ini? Kenapa aku merasa seperti seorang istri yang dijemput suami setelah menginap di rumah sakit?" Sophia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan overthinking yang tiba-tiba muncul di otaknya.


—--


"Julian, aku ingin kita bicara." Selena yang sudah menunggu Julian sejak tadi, menarik lengan sang pria yang selalu menghindar darinya itu. Malam ini Julian dan kedua orangtuanya sengaja datang ke kediaman Moretti alias rumah orangtua Selena untuk menegaskan satu hal agar tidak terjadi kesalahpahaman berlarut-larut.


Julian menarik lengan yang dipegang Selena dan menghela napasnya.


"Tidak ada yang harus dibicarakan. Aku sudah memutuskan sesuatu yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Di antara kita tidak pernah terjadi apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa. Maaf Selena, kamu harus mencari pria lain yang akan kamu hidup bahagia bersamanya." Ucap Julian dengan suaranya yang berat namun selalu terdengar seksi di pendengaran para wanita, termasuk Emilia.


"Aku tidak ingin pria lain. Aku hanya ingin kamu! Julian, please. Aku bisa menjadi istri yang baik dan apapun yang kamu mau aku bisa lakukan. Please, beri aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku." Selena hendak memegang telapak tangan Julian namun Julian menghindar.


"Aku harus pergi. Mami papiku akan pulang sendiri. Selamat tinggal Selena." Julian melangkah cepat keluar dari rumah Selena untuk menuju mobilnya yang dia kemudikan sendiri. Baginya saat ini, tidak ada yang lebih dia inginkan selain berada di pelukan sang istri tercinta. Godaan yang diterimanya dari Selena membuatnya ingin segera pulang ke rumah dan memegang erat tangan sang istri.

__ADS_1


"JULIAN! JULIAN! TUNGGU AKU!" Teriakan Selena terdengar hingga ke ruangan keluarga tempat dimana dua pasang orangtua sedang duduk bercengkarama dan membicarakan banyak hal.


Namun, teriakan Selena hilang ditiup angin. Mobil berwarna hitam bold keluaran dari pabrika Eropa melesat meninggalkan rumah yang tidak akan didatangi oleh Julian lagi, setidaknya itu menurutnya.


__ADS_2