
Emilia merasa tersentak dan tersadarkan. Di kehidupannya yang sekarang, sudah seharusnya dia tidak lagi menjadi wanita yang apatis, pengecut, dan selalu mengalah. "Percuma saja aku diberikan kesempatan hidup kembali kalau sifatku tidak berubah." Gumam Emilia sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan aku, bos. Aku berjanji mulai hari ini aku tidak akan merasa rendah diri lagi. Aku akan melakukan apa yang memang harus aku lakukan." Ucap Emilia dengan sikap penuh semangat dan wajah tegas.
Julian hanya menyimak apa yang dikatakan Emilia sambil terus memakan roti yang dibuat calon istrinya itu.
"Oya, aku lupa memberikan ini padamu." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan yang Emilia bisa lihat adalah sebuah kartu persegi berwarna hitam, dan itu bukan kartu nama karena kartu nama bosnya itu berwarna putih. Emilia bukan orang awam jadi dia tahu betul kartu apa itu. Julian menyodorkan kartu itu di atas meja dan berkata, "Kamu boleh pakai uang lima ratus juta untuk membayar semua hutang kamu pada keluarga mantan tunangan kamu. Dan, mulai hari ini kamu bisa pakai sepuasnya kartu itu karena kamu adalah istriku. Username dan passwordnya ada dibagian belakang kartu." Ucap Julian dengan mudahnya.
"Tapi bos, kita belum menikah jadi aku tidak pantas menerima uang itu." Jawab Emilia dengan alis berkerut.
"Kita pasti akan menikah dan uang itu anggaplah aku melunasi lebih dulu apa yang kamu inginkan di awal perjanjian." Jawab Julian, sambil menatap wanita didepannya yang masih intens berdiri.
Emilia terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang ingin segera melunasi hutang pada kedua orangtua Roy sehingga dia bisa terbebas dari intimidasi dan ancaman Roy yang selalu ingin bertemu dengannya setiap hari. Namun, memakaibuang itu terlebih dahulu sama saja dengan menyerahkan dirinya di awal sebelum menikah. Emilia takut kalau Julian meminta tubuhnya untuk diserahkan sebelum ikatan sah sebagai sepasang suami istri diikrarkan.
"Kalau kamu khawatir aku akan melakukan hal yang diluar kemauanmu, aku akan usahakan untuk tidak melakukannya. Ambillah dan segera selesaikan urusanmu dengan mereka. Well, rotinya sangat enak. Aku senang karena sekarang makananku setiap hari terjamin. Kalau aku tidak rutin berolahraga, aku pasti gendut. Terima kasih. Aku mau ke kamar sekarang. Kamu jangan tidur terlalu malam karena besok masih harus berangkat kerja lagi."
"Iya, bos." Jawab Emilia dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Betul, besok hari Jumat, hari terakhir kesempatanku untuk ke bank. Aku harus secepatnya melunasi hutang pada keluarga pria brengsek itu. Kalau begitu, besok aku akan mencairkan lima ratus juta dan akan aku lunasi segera." Hati Emilia dipenuhi oleh segudang harapan yang cerah dan menyenangkan. Dia tidak peduli jika harus menggadaikan harga dirinya dengan menjadi istri dari sang bos. Asalkan peristiwa menyedihkan di kehidupan sebelumya tidak terulang lagi.
-----
Pagi menyapa semua makhluk bumi dan menandakan harapan baru akan menyambut mereka yang mau berusaha dengan giat. Emilia sudah keluar dari apartemen lebih dulu karena ingin segera ke bank mencairkan cek yang diberikan Julian semalam sebelum tidur. Black card yang di berikan pria itu hanya bisa digunakan untuk belanja, bukan untuk mencairkan uang tunai.
Sebelum meninggalkan apartemen, Emilia sudah membuatkan nasi goreng daging untuk Julian. Dia pun bergegas untuk menuju bank sebelum antrian mengular.
Setelah hampir 1 jam proses mencairkan uang, akhirnya uang lima ratus juta itu pun berada didalam genggaman Emilia. Karena telah melakukan janji temu sebelumnya pada kedua orangtua Roy, dia segera menuju kerumah mantan calon mertuanya, sebelum berangkat ke kantor.
"Kamu sudah datang pagi-pagi sekali. Masuklah!" Sahut Sonia dengan tatapan sinisnya. Dari dulu sampai sekarang, wanita itu tidak pernah menyukai Emilia, gadis yatim piatu yang beruntung bisa bekerja di kantor bergengsi dengan jabatan manajer. Seharusnya Sonia senang dan bangga karena calon menantunya adalah wanita terpelajar dan karirnya mapan. Tapi ternyata Sonia berpikir lain. Semakin hebat karir seorang wanita, maka akan semakin sombong dan tidak sopan pada suaminya kelak. Karena itu, Sonia lebih memilih gadis lugu yang bisa dia atur dan kendalikan semaunya.
Emilia masuk kedalam rumah yang dia yakini untuk terakhir kalinya dia datangi.
"Emilia, kamu sudah makan nak?" Arka yang ikut menyambut sang mantan calon menantu itu tersenyum cerah dan penuh kehangatan, beda dengan istrinya.
"Sudah, pak. Terima kasih. Maafkan aku datang pagi-pagi sekali karena setelah ini aku akan kembali ke kantor." Ucap Emilia dengan wajah menatap tegak lurus ke dua orangtua didepannya.
__ADS_1
"Kenapa dengan perempuan ini? Berani sekali sikapnya! Dulu takut-takut dan selalu hampir menangis jika sedang berbicara dengan kami. Tapi sekarang, tidak ada lagi tanda-tanda keluguan di wajahnya." Gumam Sonia dalam hati. Matanya menatap penampilan Emilia dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. Seolah-olah dia meragukan kalau perempuan yang sedang berdiri di hadapannya bukanlah Emilia.
"Aku membawa uang lima ratus juta untuk melunasi hutang-hutang nenek selama ini." Ucapan Emilia membuat Sonia dan Arka saling menatap tidak percaya.
"Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu secepat ini?" Mungkin seperti itu yang dipikirkan kedua orangtua itu.
Namun, Emilia tidak mau ambil pusing. Yang penting bagaimana caranya dia bisa terlepas dari jeratan hutang keluarga ini sehingga dia tidak akan mengalami kehidupan yang pernah menyedihkan itu. Walau dia juga tidak tahu apakah pernikahan dengan Julian nanti berjalan dengan baik atau tidak. Tapi, setidaknya dia sudah melepaskan satu beban.
"Nak Emilia, bukannya kami tidak mau menerima uang ini dan bukannya kami tidak senang, tapi ... kalau boleh kami tahu, darimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Kalau itu hanya membuat kamu menderita, lebih baik kamu tidak usah membayar seluruhnya. Kami tidak ingin menyusahkan kamu dan nenek kamu." Ucap Arka dengan sikap bijak kebapakannya.
Emilia tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan mantan calon mertuanya.
"Bapak dan ibu tidak perlu khawatir. Aku mendapatkan uang ini dengan cara meminjam di kantor. Jadi, aku bisa mencicilnya dengan gaji bulananku." Jawab Emilia dengan penuh percaya diri.
Sonia mendengus sinis mendengar jawaban Emilia. Jatah untuk perawatan dirinya dan shopping barang bermerk terancam gagal karena Emilia jelas-jelas menolak menikah dengan anaknya, Roy.
"Emilia, akhirnya kamu datang juga. Aku tahu kalau kamu pasti berubah pikiran. Aku tahu kalau kamu tidak akan menggagalkan rencana pernikahan kita." Roy yang baru menuruni anak tangga dari lantai dua, melihat calon istrinya sedang duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya. Pria yang sudah mengenakan seragam pegawai negeri sipil sebuah kementerian itu, tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar seperti mendapatkan harta karun.
__ADS_1