
Tiba-tiba dia teringat kembali dengan kehidupan pertamanya kala menjadi istri dari pria yang telah menyakitinya luar dalam fisik maupun mental. Emilia tersenyum bahagia dan dia sudah yakin kalau tidak akan ada lagi keraguan di hatinya untuk mengakui kalau dia begitu mencintai Julian.
"Kamu suka?" Emilia memutar tubuhnya dan kini tubuh bagian depannya terpampang nyata di hadapan Julian yang tidak mengedipkan matanya sedetik pun.
"Kamu cantik sekali. Sejak kapan istriku mulai berpikiran untuk memakai gaun ini?" Julian memegang helaian ujung rambut Emilia dan memilinnya lalu menciumnya. Emilia menyempatkan diri untuk mandi sejenak sebelum memakai lingerie dan menemui suaminya, tentu saja. Aroma shampoo yang harumnya menenangkan, membuat Julian seolah-olah terhipnotis oleh istrinya untuk beberapa detik.
"Aku lihat benda ini dipajang di salah satu etalase jadi aku memilih untuk membelinya." Jawab Emilia malu-malu.
"Pilihanmu sangat cepat. Aku suka sekali. Tapi, aku lebih suka apa yang ada di balik benda ini. Sebelumnya, ayo kita makan dulu. Aku sudah membuat sandwich untuk kita berdua."
Tangan Emilia ditarik lembut menuju meja makan dimana dua piring kecil sandwich dan dua gelas ramping jus jeruk sudah tersaji dengan cantiknya di sana.
Keduanya pun makan malam yang terlalu cepat dengan suasana hening. Begitu heningnya hingga Emilia merasa kalau degup jantungnya yang berpacu kencang karena tatapan Julian yang tidak lepas dari dirinya. Emilia merasa risih sebenarnya karena baru kali ini sumur hidupnya dia memakai pakaian kurang bahan harga mahal seperti ini.
"Tidak bisakah kamu makan tanpa menatapku seperti itu?" Bukannya memalingkan wajahnya, Julian justru terkekeh dan menatap istrinya lebih intens lagi.
"Aku tidak sabar untuk memakanmu. Apa kamu sudah selesai?" Emilia menelan saliva dengan susah payah begitu mendengar jawaban sang suami mesumnya.
"Aku rasa ... aku membuat pilihan yang salah dengan memakai ini. Jadi, aku akan menggantinya." Emilia bergegas berdiri dan berlari secepatnya menuju kamar untuk mengganti pakaian. Julian yang sempat kaget melihat gerakan mendadak sang istri, berusaha mengejar Emilia dengan melompati sofa yang ada di ruang tengah dan dalam sekejap mata dia pun sudah berdiri menghadang sang istri yang hampir sampai ke pintu kamar.
"Kenapa kamu lari? Kamu membuatku seperti serigala yang sedang memburu kelinci mangsanya." Ucap Julian dengan suara sedikit terengah-engah. Begitu juga dengan Emilia yang tampak memburu napasnya karena lari malam yang baru saja dia lakukan.
__ADS_1
"Dan kenapa kamu harus mengejar aku juga?" Emilia menutup dadanya dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dada karena melihat tatapan pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan kelaparan.
"Aku tidak tahan lagi."
"Kyaaaa, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku! Julian, aku minta turunkan aku!" Emilia meronta minta dilepaskan karena Julian yang tiba-tiba membopong tubuhnya.
"Hush, diam lah sayang, malam ini masih akan sangat panjang jadi simpan tenagamu." Emilia menutup mulutnya tidak berani berkata-kata lagi. Meskipun ucapan Julian dengan nada berbisik dan sangat lembut namun arti dari ucapannya itu membuat Emilia diam tidak meronta lagi.
Langit yang masih memancarkan warna orange, keriuhan sesama pengguna jalan raya, dan kendaraan yang memadati jalanan hingga kemacetan dimana-mana, tidak terdengar sama sekali hingga ke lantai paling atas dari gedung apartemen mewah di tengah kota Jakarta itu.
Suara-suara sepasang suami istri yang sedang memadu kasih, memenuhi kamar yang biasanya sepi ditinggal penghuninya selama jam kerja. Tidak ada yang perlu disembunyikan dan direndahkan volume suara mereka karena tidak akan ada yang bisa mendengarkan juga kamar apartemen paling mewah di gedung itu.
"Julian, please ... Pelan-pelan." Julian tersenyum nakal seraya menatap sepasang mata manik hitam yang menitikkan air mata di sudut matanya dengan wajah merah meronanya lalu berkata,
"Your wish is my command, wife."
"Tempat kerja baru?" Sophia melebarkan mata seolah tidak percaya dengan yang didengarnya baru saja. Edwin berkata kalau mulai Senin besok dia akan bekerja di kantor salah satu temannya sebagai asisten pribadi sekaligus sekretaris khusus yang membantu sang teman yang merupakan CEO perusahaan tersebut menjalani bisnisnya. "Wow, aku tidak percaya mendengar ini. Berita ini sungguh mendadak dan sangat mengejutkan." Ucap Sophia sambil menggeleng kepalanya namun senyum manisnya tetap ditunjukkan pada pria yang duduk di hadapannya.
"Begitulah. Besok pagi aku akan mengajukan pengunduran diri ke pos dan kebetulan sudah ada pengganti yang menunggu sejak lama." Jawab Edwin sambil memasukkan sepotong kentang wedges ke dalam mulutnya dengan garpu yang sudah disediakan sang kekasih.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, kamu memang pantas mendapatkan pekerjaan itu. Sayang ijazah kamu kalau tidak digunakan, bukan?" Ucap Sophia lagi. Edwin mengangguk pelan dan memiringkan dagunya.
__ADS_1
"Oya, malam ini aku harus kembali ke kosan. Aku sudah menemukan tempat kos yang baru di dekat kantor jadi aku tidak perlu bermacet-macetan pulang pergi." Ucapan Edwin spontan membuat Sophia terdiam sendu. Dia yang sudah terbiasa dengan kehadiran sang kekasih di rumah ini, sepertinya akan kembali sendirian lagi.
"Aku janji kita akan lebih sering bertemu dibandingkan sebelumnya." Senyum lebar Edwin membuat Sophia mengerutkan alisnya.
"Maksud kamu? Apa tempat kerja kamu dekat dengan kantorku?"
"Entahlah, aku hanya merasa begitu."
"Terima kasih makan malamnya, sayang. Aku harus segera pulang sebelum kemalaman di jalan."
"Haruskah secepat ini? Ini masih sore." Ucap Sophia dengan nada merajuk manja.
"Iya, sayang. Besok kita akan bertemu lagi. Aku butuh bantuan kamu untuk mengatur susunan tempat kosanku yang baru." Sophia mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan saling memeluk pinggang menuju pintu keluar rumah Sophia.
"I'll be missing you so bad," Seolah enggan untuk melepaskan sang kekasih pergi, Sophia menarik kerah kaos polo sang kekasih dan mendekatkan ke wajahnya.
"Bagaimana aku bisa berpisah meskipun sekejap mata dengan wanita manja ini?" Edwin mencubit gemas hidung Sophia yang cukup mancung itu. Keduanya pun saling berciuman mesra dan cukup panas di depan pintu sebelum pegangan pintu itu dibuka dari dalam.
Hari Senin yang untuk sebagian karyawan menjadi momok yang menyebalkan dan membuat malas, namun tidak dengan seorang pria yang sudah rapih dengan kemeja panjang putih dan celana panjang hitam, dilengkapi dengan jas hitam, mematut dirinya di depan cermin yang berukuran penuh setinggi manusia dewasa.
Edwin mengambil kacamata yang sudah disiapkannya di atas meja. Penglihatannya masih normal tapi dia merasa perlu kacamata untuk membuat image dirinya sebagai seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi handal di sebuah perusahaan besar.
__ADS_1