If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
17. Pagi Pertama Setelah Menikah


__ADS_3

Barulah setelah dia mengetahui kalau Emilia sudah putus dengan tunangannya, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia pun segera mendekati Emilia dan bahkan langsung melamarnya. Pria itu tidak ingin dilangkahi oleh orang lain lagi. Sebelum terlambat, Emilia harus menjadi istrinya, bukan lagi hanya sebagai kekasih. Istri yang akan menemaninya di dunia nyata, bukan hanya dalam mimpi.


Pagi ini adalah pagi pertama Emilia dan Julian sebagai sepasang suami istri. Emilia kaget ketika bangun tidur ada seorang pria di sampingnya. Pria yang merupakan bos tempatnya bekerja, kini juga menjadi suami kontraknya. Ya suami yang hanya untuk satu tahun itu. Tiba-tiba Emilia teringat kalau apa yang mereka lakukan semalam tanpa pengaman.


Dia mengambil piyama yang tergeletak di lantai lalu hendak melangkah ke meja rias untuk mengambil pil penunda hamil. Pil yang sudah dia persiapkan setelah ijab kabulnya. Dia membeli ke apotik dalam jumlah cukup banyak untuk persiapan.


Namun tiba-tiba, Emilia merintih kesakitan dibagian bawah sana. Suaranya membuat Julian terbangun dan langsung menghampiri sang istri.


"Kamu mau ke kamar mandi? Aku akan membawa kamu kesana." Emilia segan mengatakannya karena dia tidak ingin hal seperti ini membuat Julian berpikiran macam-macam padanya. Emilia memang tidak ingin memiliki anak sampai perjanjian mereka berakhir. Anak adalah titipan yang harus dijaga seumur hidup dan Emilia belum siap jika harus merawat seorang diri kelak setelah bercerai dengan Julian.


"A-aku bisa sendiri." Emilia hanya memegang pergelangan tangan kekar Julian untuk membantunya berdiri. Julian memegang punggung sang istri yang tampak kesulitan dalam berdiri, apalagi berjalan. Pria itu membantu Emilia sampai ke kamar mandi. Julian yang hanya mengenakan celana piyama itu tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang sangat atletis dan mengundang kaum hawa untuk berdecak kagum. Entah mengapa Emilia merasa menjadi wanita paling beruntung yang bisa mendapatkan pria yang nyaris sempurna seperti Julian.


"Aku bisa sendiri. Tapi, aku belum mengambil pakaian ganti." Emilia teringat kalau dia belum membawa pakaian.


"Kamu masuklah dahulu. Aku akan mengambilnya untukmu dan membawakannya untukmu ke kamar mandi." Ujar Julian dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Tapi, apa kamu tahu apa yang akan aku pakai?" Emilia membayangkan pakaian dalam yang akan dia kenakan. Mana mungkin seorang pria memilihkan untuknya? Meskipun pria itu adalah suaminya sendiri.


"Kamu tunggu saja," Sambil tersenyum simpul, Julian meninggalkan Emilia yang bengong tanpa menutup pintu kamar mandi. Tidak berapa lama, datanglah Julian dengan membawa satu set pakaian dalam warna biru langit yang sama persis motifnya. Juga daster lengan pendek sepanjang lutut warna biru langit dengan motif awan yang sangat cantik dan cerah. Emilia tidak tahu sejak kapan pakaian ini ada di dalam lemari. Karena memang Emilia hanya memakai pakaian yang ada di koper bajunya.


"Oh terima kasih. Aku ... aku akan mandi terlebih dahulu." Ucap Emilia malu-malu.


"Apakah kamu mau aku bantu mandikan?" Perkataan Julian yang sedikit menggoda sang istri, membuat Emilia cemberut dan berkata,


"Tidak, terima kasih. Aku tidak yakin kalau aku akan benar-benar mandi kalau bersama kamu." Emilia menutup pintu dan tersenyum simpul dibalik pintu tertutup.


—--


"Bagaimana ini, Roy? Ayah kamu sudah membatasi pengeluaran ibu. Sekarang ibu tidak punya muka bertemu dengan teman-teman arisan sosialita ibu. Mereka sudah pamer pergi ke luar negeri dan membeli tas terbaru merk He*mes. Bahkan mereka juga akan memulai arisan berlian. Kamu bicara dong ke ayah kamu!" Sonia mengomel sepanjang waktu sejak Arka, suaminya, membatasi limit penggunaan kartu kreditnya dan tidak ada lagi supir pribadi untuk mengantar sang istri kemana-mana di hari biasa. 


Dan, inilah yang membuat Roy enggan pulang ke rumah karena ibunya pasti akan mengeluh sepanjang waktu. Roy pun melampiaskannya dengan pergi ke rumah Netta setiap pulang kerja dan pulang larut malam, bahkan pria itu sering menginap di rumah sepupunya Emilia itu jika besoknya adalah akhir pekan atau hari libur.

__ADS_1


"Terus Roy harus bagaimana, bu? Ibu juga tahu kalau fasilitas mobil buatku saja sudah disita ayah. Sekarang aku kemana-mana naik motor. Kalau begini, lama-lama aku diusir dari rumah oleh ayah." Ucap pria yang sudah mapan dalam karir itu tapi belum mapan dalam percintaannya.


Roy sudah berusaha menghubungi Emilia di telpon dan pergi ke kantornya, tapi Emilia selalu berhasil menghindari Roy dan nomor ponselnya sepertinya diganti sehingga Roy tidak bisa lagi mendekatinya. Pria itu juga sudah berkunjung ke rumah neneknya Emilia namun rumahnya kosong. Kata para tetangga, neneknya Emilia pindah rumah tapi tidak memberitahu dimana alamatnya yang baru.


Emilia benar-benar hilang ditelan bumi. Tidak ada yang tahu dimana dia sekarang tinggal dan semua teman-temannya juga tidak tahu dimana Emilia berada. Karena yang mereka tahu, Emilia memang sangat tertutup dan tidak mudah bergaul selain dengan satu temannya, Sophia.


"Sophia, please beritahu aku dimana Emilia tinggal." Roy mendatangi kantor dimana Emilia bekerja di jam pulang kerja dua hari yang lalu dan kebetulan Sophia baru keluar dari lift.


"Cih! Untuk apa kamu mencari dia? Walaupun aku tahu dimana dia berada, aku tidak akan memberitahu kamu. Dasar pria tukang selingkuh!" Wanita berparas cantik dengan rambut sebahu itu berjalan begitu saja meninggalkan pria yang sudah menghancurkan hidup sahabatnya, Emilia.


"Sialan!" Roy mengepalkan tangannya mendengar umpatan dari sahabat mantan tunangannya itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai jawaban. Dia harus segera menemukan Emilia dan menyuruh mantan tunangannya itu untuk bicara baik-baik pada ayahnya, Arka, jika memang tidak ingin melanjutkan pertunangan.


"Kemana wanita sial itu? Mentang-mentang jadi manajer terus bisa memperlakukan aku seenak jidatnya? Mentang-mentang dia sudah melunasi hutang jadi berani seperti ini. Awas kalau ketemu dia, aku akan rampas keperawanannya jadi dia tidak akan menolak kalau aku nikahi. Hehehe," Roy bermain dengan pikiran dan angan-angannya sendiri yang membuatnya lupa kalau Emilia sudah tidak punya hati lagi padanya.


"Roy, kamu dimana?" Suara Netta yang manja dan lirih terdengar di telinga Roy, membuat pria itu sedikit melupakan ambisinya untuk menemukan Emilia.

__ADS_1


"Andai saja Emilia selembut dan semanja itu seperti Netta padaku, aku pasti akan memperlakukannya dengan baik. Bahkan aku pegang tangannya saja dia menolak. Dengan alasan nanti saja kalau sudah menikah. Cih! Belagu sekali dia." Pikir Roy yang belum menjawap telpon dari Netta itu.


__ADS_2