If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
34. Pria Yang Banyak Bertanya


__ADS_3

"Trik apalagi yang akan dia mainkan kali ini? Aku harus waspada karena aku tidak punya siapa-siapa untuk membantuku saat ini. Julian ke luar negeri, Sophia juga sedang tugas dinas luar. Huft, semangat Emilia! Kamu sudah terbiasa sendiri jadi jangan manja hanya karena sekarang sudah menikah." Emilia mengepalkan tangannya dan beranjak menuju kran shower untuk mulai membersihkan tubuhnya. 


"Selamat pagi, nyonya." Supir Julian yang sudah menunggu Emilia sejak tadi di parkiran, menuju ke lobi setelah mendapat pesan singkat dari Emilia untuk segera menuju depan lobi.


"Selamat pagi, pak. Pak, mulai besok tidak perlu antar jemput aku lagi ya." Emilia benar-benar tidak ingin identitasnya diketahui semua orang yang melihatnya diantar jemput mobil bos besar mereka. Siapapun sudah pasti mengira telah terjadi sesuatu antara Emilia dan Julian jika sopir Julian selalu mengantar dan menjemput dirinya.


"Tapi, nyonya."


"Aku akan bicara pada Julian. Bapak tenang saja. Serahkan semuanya padaku." Ucap Emilia dengan senyum ramah yang biasa ditampilkan ke semua orang.


"Berhenti di halte depan saja, pak. Saya akan jalan kaki dari sana."


"Tapi nyonya, itu masih terlalu jauh dari gedung kantor."


"Itu lebih baik, pak. Saya tidak ingin ada teman saya yang lihat saya naik mobil bos. Nanti saya beri kabar lagi kalau mau pulang ya, pak. Terima kasih."


Emilia bergegas keluar dari mobil setelah memastikan tidak ada yang melihat. Dia pun berjalan menuju halte dan berpura-pura sedang menunggu shuttle bus yang biasa lewat di jam-jam seperti ini.


"Maaf, anda manajer di perusahaan Miller Corp. bukan?" Salah seorang pria menyapa Emilia yang sedang berdiri sendiri.


"Maaf, anda siapa?" Tanya Emilia balik pada pria yang memakai setelan kemeja panjang dan celana kerja itu.


"Perkenalkan, nama saya Danny. Saya salah satu karyawan di perusahaan tuan Julian Miller juga tapi beda lantai." Jawab pria yang mengaku bernama Danny itu.

__ADS_1


"Oh, okay." Emilia tidak ingin melanjutkan percakapan dengan pria asing yang baru dikenalnya itu. Dia pun kembali memalingkan wajahnya ke arah lain sambil bertanya-tanya kenapa bus nya belum datang juga.


"Kalau jam segini agak lama busnya karena karyawan yang mau naik masih belum banyak. Setengah jam lagi pasti ramai yang antri dan busnya akan datang sekaligus dua tiga bus." Jawab pria itu lagi.


"Iya iya," Ingin rasanya Emilia pergi ke kantor dengan jalan kaki saja, andaikan pinggangnya tidak terasa pegal dan ngilu akibat perbuatan sang suami semalam.


"Apa anda ingin berjalan kaki saja? Olahraga pagi bisa membuat tubuh kita lebih sehat dan segar." Jawab pria yang Emilia mulai rasakan terlalu banyak bicara dan membuat jiwa introvertnya sedikit terganggu.


"Tidak, terima kasih. Silahkan kalau mau jalan." Jawab Emilia dengan senyum terpaksa.


"Kalau begitu, saya temani ya." Jawab pria yang selalu mengumbar senyumnya itu. Wajahnya cukup lumayan tampan tapi entah mengapa, Emilia merasa Julian adalah pria paling tampan yang pernah dia temui. Julian memiliki karakter wajah khas Italy yang cenderung memiliki rahang tegas, tajam, dan cekungan bola matanya yang dalam membuatnya semakin terlihat misterius dan penuh daya tarik pikat yang membuat semua teman wanitanya sangat menggilai pria yang dicap gay tersebut.


"Cih, gay apanya? Pria buas itu benar-benar pintar menyembunyikan identitasnya." Ujar Emilia dalam hati dengan seringai yang tidak sengaja dibuatnya di hadapan Danny.


"Maaf, apa kehadiran saya sangat mengganggu?" Pria tersebut memasang wajah sendu.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bus yang baru datang itu langsung dikerumuni para karyawan yang ingin sampai kantor lebih cepat, termasuk Emilia yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini agar bisa terhindar dari pria yang banyak bertanya itu.


Namun sialnya, pria bernama Danny itu mengekor Emilia dan memilih berdiri di dekat Emilia duduk.


"Saya kerjanya di lantai dua bagian marketing. Senang sekali akhirnya bisa berkesempatan berbicara dengan nona manajer." Jawab Danny lagi.


"Iya," Jawab Emilia singkat. Sungguh dia tidak ingin bicara banyak hari ini. Namun, dia tidak bisa memotong begitu saja ucapan pria yang terus menerus mengajaknya berbicara. Emilia berharap dari jawaban-jawaban singkatnya setidaknya bisa memberi sinyal pada pria itu untuk diam.

__ADS_1


Drrrttt …


Emilia merasakan ponselnya yang ada di dalam tas bergetar. Akhirnya, ada pengalihan issue, pikirnya. Namun, kedua matanya terbelalak lebar ketika melihat nama yang muncul di layar. Tidak ingin terlihat oleh orang di sekitarnya, Emilia mematikan saja panggilan itu dan menonaktifkan ponselnya. Dia akan menelpon kembali pria yang pasti sedang sibuk dengan rekanan bisnisnya itu disana.


"Kenapa tidak anda jawab panggilannya?" Danny kembali bertanya dengan segala keingintahuannya.


"Tidak apa-apa." Jawab Emilia lagi. Emilia langsung memejamkan mata sejenak dengan harapan pria bernama Danny itu tidak mengganggunya dengan banyak pertanyaan lagi.


Begitu sampai depan gedung kantor, Emilia langsung bergegas menuju pintu lift yang akan membawanya menuju lantai kantornya. Namun, secepat apapun kakinya melangkah, Danny berhasil mengejarnya dan menghentikan langkah Emilia sebelum sampai di pintu lift yang kebetulan masih menutup.


"Kalau boleh, saya ingin mengajak anda untuk makan siang bersama hari ini. Apakah bisa?" Danny memasang wajah penuh pengharapan agar permintaannya dikabulkan oleh wanita yang dikenal sangat irit bicara namun kecantikannya tidak kalah dengan karyawan wanita lainnya.


"Maaf, saya ada janji dengan teman. Permisi, saya duluan." Saved by the lift. Pintu lift pun terbuka dan Emilia langsung masuk diantara kerumunan karyawan yang ingin sampai di meja mereka lebih cepat dari jam kerja. "Fyuh, untunglah dia tidak ikut lagi." Gumam Emilia dalam hati.


Namun, masalah besar menunggunya. Telpon dari Julian yang sengaja dia matikan agar tidak diketahui oleh orang lain, harus dia telpon kembali sebelum pria itu berpikiran macam-macam.


"Halo,"


"Emilia, kenapa kamu matikan panggilan telponku?" Suara Julian yang terdengar kecewa membuat Emilia harus memberikan alasan yang jitu agar pria ini tidak berpikiran liar.


"Kamu menelponku saat aku di shuttle bus, aku tidak mau ketahuan yang lain." Jawab Emilia dengan suara rendah dan dia memastikan tidak ada orang didekatnya saat sedang menelpon.


"Shuttle bus? Kenapa kamu tidak naik mobil yang aku sediakan?" Pertanyaan Julian membuat Emilia teringat kalau dia lupa memberitahu tentang antar jemput yang tidak harus dia terima ini.

__ADS_1


"Aku rasa, aku tidak butuh mobil antar jemput itu. Semua orang akan bergosip yang tidak-tidak kalau melihat aku naik turun mobil bos mereka." Jawab Emilia sambil mengatur napas dan kata demi katanya dengan baik dan tersusun rapih.


"Kalau kamu tidak mau memakainya, aku akan pecat supirnya." Jawab Julian lagi.


__ADS_2