If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
13. Sarapan Pertama Kali Sebagai Pasangan Suami Istri


__ADS_3

Akhirnya, resmi sudah secara agama dan hukum pernikahan dua insan manusia yang tidak melalui proses pacaran seperti pasangan pada umumnya. Dua buah buku jadi saksi betapa perjalanan mereka menjadi sepasang suami istri baru akan dimulai.


"Emilia, mulai hari ini aku adalah suami kamu dan kamu adalah istri aku." Ucap Julian sesaat setelah mereka berada didalam mobil. Charlie yang duduk di sebelah supir, hanya bisa diam pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan bosnya kepada istri barunya. Charlie mulai merasakan suasana di dalam mobil menjadi pengap dan sesak. Sepertinya mulai besok, dia akan minta ijin untuk tidak berada dalam satu mobil lagi dengan pasangan pengantin baru ini, setidaknya selama tiga bulan kedepan.


"Bos, sepertinya pembicaraan seperti ini bisa ditunda sampai tidak ada yang mendengar." Ucap Emilia sambil berbisik sangat pelan hingga dia harus mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami yang baru beberapa menit lalu disahkan. Jantung Julian berdegup lebih kencang ketika hembusan napas Emilia menyentuh kulitnya. Pria itu berusaha untuk menekan rasa naluriah seorang lelaki yang sudah lama ingin dikeluarkannya itu. Tangannya mengepal kencang.


"Charlie, antarkan kami ke apartemenku. Ada yang harus kami urus di apartemen sebelum ke kantor." Ucap Julian pada asistennya yang duduk di depan.


Charlie, sang supir, dan Emilia menelan saliva susah payah mendengar perintah Julian. Terutama Emilia, dia menggigit bibirnya karena membayangkan apa yang akan terjadi di apartemennya saat mereka hany berdua. Sebelumnya, Emilia merasa aman berada disana karena Julian benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuh dirinya sebelum menikah. Tapi sekarang, mereka berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri. Sudah tidak ada lagi alasan bagi Emilia untuk menolak ajakan Julian yang notabene sudah menjadi suaminya kali ini.


"Baik, bos." Mobil pun meluncur ke apartemen yang terletak di kawasan bergengsi jantung ibu kota Jakarta. Kanan kirinya berdiri bangunan perkantoran, apartemen lainnya, dan pusat perbelanjaan mewah terkenal di Jakarta.


Julian dan Emilia yang duduk di belakang saling menatap ke luar dari jendela masing-masing. Mereka duduk berjauhan seperti orang bermusuhan padahal jantung keduanya sedang berpacu dengan kencang, lebih kencang dari kecepatan mobil yang dikendarai supir pribadi Julian.


"Kami akan menjemput tuan dan nyonya ke kantor setelah menunggu panggilan." Charlie berkata pada majikannya dengan wajah dipaksa tersenyum. Julian melambaikan tangan menyuruh mereka berdua untuk segera pergi, tanpa berkata satu patah katapun. Pria itu berjalan di depan dengan langkah panjangnya mendahului Emilia yang berlari-lari kecil di belakang menyusulnya.


Setelah keluar dari lift yang membawa mereka berdua ke lantai paling atas apartemen ini, Julian dan Emilia merasa kikuk tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Bos, aku ... aku ..." Emilia tidak tahu harus berkata apa. Yang dia inginkan saat ini hanyalah keluar dari apartemen ini dan kembali ke kantor agar bisa menghilangkan kekikukan yang terjadi saat ini.


"Emilia, kita sekarang sudah menjadi suami istri. Dan, hal pertama yang harus berubah adalah panggilan. Mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan nama saja kalau sedang berdua, Julian. Kamu boleh memanggilku bos lagi saat di kantor." Ujar Julian dengan tubuh membelakangi wanita yang masih berdiri di dekat pintu.


"Ahhh, baiklah bos ... Maksud aku ... Julian," Emilia menggigit bibirnya antara malu dan gugup. Sungguh, ingin rasanya Emilia melarikan diri dari tempat ini. Statusnya yang sudah sah menjadi seorang istri, membuatnya gugup dan jantungnya berdegup kencang. Sementara, Julian juga tampak sedang mengontrol nalurinya agar tidak terlihat jelas.


"Aku mau ke kamar dulu." Julian berkata lalu menghilang dibalik kamar yang tertutup pintunya.


"Duh, kenapa begini sih? Kalau aku berangkat ke kantor sekarang, tanpa seijin dia, tidak apa kali ya. Toh aku kan mau kerja." Gumam Emilia dalam hati.


Sedangkan di dalam kamar, Julian tepatnya berada di dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang tiba-tiba menghangat entah kenapa.


"Tapi, aku pria normal. Aku selama ini menyalurkan hasratku seorang diri. Kini aku sudah punya istri jadi seharusnya aku bisa melakukannya." Ucapnya lagi sambil bertanya dan jawab sendiri.


"Emilia, kemarilah." Julian yakin suaranya terdengar sampai keluar kamar. Namun setelah ditunggu-tunggu, tidak ada jawaban dari wanita yang dipanggil namanya. Julian mengerutkan alis dan mengeringkan wajahnya sejenak lalu keluar kamar mencari keberadaan sang istri.


"Emilia," Dia bisa bernapas lega karena istrinya ternyata sedang di dapur mengolah sesuatu. "Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Bos eh Julian, tadi aku lihat roti sandwich yang aku buat belum kamu makan. Jadi, aku membuat yang baru untukmu. Kamu pasti belum sarapan kan?" Harum aroma roti yang masih hangat baru keluar dari panggangan tiba-tiba membuat indra penciumannya kembang kempis. Perutnya yang memang belum diisi sejak pagi, langsung berontak minta diberikan jatahnya.


"Aku tidak sempat sarapan. Kamu juga buat untuk bagianmu kan?" Tanya Julian lagi.


"Iya, aku juga sangat lapar."Jawab Emilia malu-malu. Dua porsi roti panggang dan dua gelas jus jeruk menemani sarapan pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


"Emilia, saat di kantor nanti, apakah kamu ingin menyembunyikan status pernikahan ini?" Julian membuka percakapan setelah keduanya selesai makan.


"Iya, aku mohon tolong dirahasiakan. Kontrak pernikahan ini hanya satu tahun dan aku tidak ingin menjadi sisi yang buruk setelah pernikahan ini berakhir." Jawab Emilia dengan wajah sendu.


"Sesungguhnya, aku tidak akan mengakhiri pernikahan ini sampai kapanpun." Gumam Julian dalam hati. "Baiklah, terserah kamu saja." Ucap Julian. Emilia tersenyum tipis mendengar jawaban pria yang terkenal irit bicara di kantor. "Baiklah, aku sudah selesai. Kamu tidak perlu mencuci piringnya sekarang. Aku sudah menyuruh Charlie untuk mencarikan asisten rumah tangga." Jawab Julian.


"Tidak. Aku rasa kita tidak membutuhkan asisten rumah tangga. Aku bisa melakukan bersih-bersih sepulang bekerja." Emilia merasa tidak nyaman jika ada orang lain di apartemen ini. Dia tidak ingin ada gosip yang beredar di luar mengenai pernikahan tersembunyi ini. Sebisa mungkin dia ingin menutup rapat apapun yang bisa membuat kemungkinan bocornya status pernikahan mereka berdua.


"Tapi aku tidak ingin merepotkan kamu. Apartemen ini cukup luas dan kamu akan kesulitan." Jawab Julian lagi.


"Kita bisa melakukannya bersama-sama kalau kamu tidak keberatan." Jawab Emilia sambil tersenyum lebar. Julian mengerutkan alisnya. Entah apa maksud Emilia menolak asiste rumah tangga. Julian mengira itu karena Emilia tidak ingin terganggu privasinya jika ada orang luar dirumah ini.

__ADS_1


"Okay, tidak masalah. Aku juga terbiasa melakukan semuanya sendiri." Ucap Julian lagi. "Kamu mau berangkat bersama-sama ke kantor?"


__ADS_2