If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
20. Mengunjungi Nenek (2)


__ADS_3

"Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin menjadi santapan gosip miring karena bercerai setelah satu tahun." Jawab Emilia sendu. "Kelak setelah kita berpisah, aku harap saat kita bertemu dijalan, kita tidak akan meninggalkan kenangan buruk satu sama lain dan masih bisa terus berbicara santai seperti tidak ada yang terjadi. Itu harapanku." Emilia tersenyum lebar pada Julian yang justru dibalas dengan ekspresi geram oleh pria yang mengeras rahangnya.


"Jadi, kamu sudah memikirkan perceraian sejak dini?" Tanya Julian sambil menyeringai sinis.


"Bukankah kamu yang mengatakannya sejak awal? Kamu juga yang menyarankan pernikahan kontrak ini." Emilia menyahut tidak mau kalah. 


"Dan, aku menyesalinya." Gumam Julian dalam hati.


Selama perjalanan menuju bandara tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Emilia tidak tahu mengapa wajah Julian tampak sangat marah dan sering mencengkeram setir kemudi dengan kencang. Namun, dia enggan untuk bertanya. Status Julian sebagai bos masih muncul di pikiran Emilia sehingga dia sungkan untuk bertindak di luar batas.


Charlie ternyata sudah menunggu di tempat parkir seperti yang Julian janjikan. Dua lembar tiket dan satu koper cukup besar entah berisi apa, sudah berpindah tangan dari Charlie ke Julian.


"Pesawat berangkat satu jam lagi. Semua kebutuhan tuan sudah ada di dalam koper." Jawab Charlie sambil terus menebarkan senyuman.


Tanpa sadar, bibir Emilia melengkung sambil mengacungkan ibu jarinya lalu berkata, "Wah hebat. Kurang dari satu jam semua bisa ditangani." Puji Emilia pada pria yang tersenyum malu. Julian menyeringai sinis melihat ekspresi anak buahnya yang tersipu malu setelah mendapat pujian dari istrinya, Emilia.


"Okay, terima kasih. Kamu bisa kembali." Ujar Julian pada Charlie.


"Maafkan kami sudah merepotkan anda di hari libur ini. Selamat bersenang-senang." Ucap Emilia pada asisten pribadi suaminya.


"Oh, sama-sama nyonya. Selamat berbulan madu untuk tuan dan nyonya," Charlie membungkukkan badannya sedikit lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya yang diparkir di sebelah mobil Julian sebelumnya.


Julian mengamati ekspresi istrinya yang dia merasa terlalu ramah pada asistennya. Kerutan di alisnya menampakkan ketidaksukaannya pada sikap sang istri tersebut. Emilia menatap Julian setelah mobil Charlie menghilang di balik tikungan.


"Kamu kenapa?" Emilia mengerutkan bibirnya melihat sikap Julian yang sejak keluar dari apartemen tampak kesal.


"Sudahlah, ayo kita langsung check in saja." Julian menarik tangan Emilia dan menggenggamnya. Sementara tangannya yang lain menyeret koper berisi perlengkapannya selama di Jember.

__ADS_1


Setelah terbang selama satu setengah jam, akhirnya sepasang suami istri yang masih baru itu tiba di bandara yang akan membawa mereka menuju ke perjalanan selanjutnya ke Jember.


Julian melihat sang istri tampak kelelahan.


"Kita mampir makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan."


"Iya," Emilia menurut saja karena memang itu yang dia butuhkan.


Sebuah restoran dekat bandara bernuansa makanan serba Jawa Timur, menjadi tujuan mereka. Emilia hanya meminta teh manis hangat namun Julian memesan makanan lainnya lengkap dengan aneka minuman untuk mereka berdua.


"Kenapa pesan banyak sekali?" Emilia masih belum terbiasa dengan perlakuan istimewa dari Julian ini. Terkadang Emilia bersyukur karena diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya. Dia hampir tidak percaya kalau dia bisa kembali ke masa lalu yaitu saat ini.


"Aku tidak ingin kamu sakit." Jawab Julian singkat.


"Aku tidak serapuh itu." 


"Ahhh ini, aku hanya sedikit oleng." Jawab Emilia sambil tersenyum tipis. "Eh kamu mau apa?" Julian mendekati Emilia dan menggeser duduk istrinya ke pojok.


"Sini aku bantu pijatkan."


"Jangan! Ini tempat umum, aku malu." Emilia melirik ke kiri dan ke kanan, berharap tidak ada yang melihat mereka duduk sedekat ini.


"Kenapa? Kita sudah suami istri. Tidak ada yang bisa protes dan melarang kita." Julian berhasil menarik pinggang ramping Emilia untuk mendekat dengannya setelah kedua tangan wanita itu menampik berkali-kali. "Diamlah! Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Atau, kamu sebenarnya mengharapkan aku melakukan sesuatu?" Satu alis Julian dinaikkan dan bibirnya menyunggingkan senyuman nakal.


"Tidak, terima kasih. Tubuhku masih rontok." Jawab Emilia malu-malu. Dia teringat kembali dengan malam dan pagi pertama yang mereka lakukan sebagai sepasang pengantin baru. Julian benar-benar tidak memberikannya kesempatan untuk melarikan diri. Bahkan saat dia hendak pergi ke kamar mandi untuk mandi pun, pria ini mengejarnya dan mereka melakukannya lagi dan lagi. 


Emilia teringat kalau dia belum minum pil penunda kehamilan dan Julian pun diyakini Emilia tidak mengenakan pelindung.

__ADS_1


"Apalagi yang kamu pikirkan?" Julian melihat ekspresi istrinya yang lagi-lagi melamun.


"Aku tidak mungkin bertanya padanya bagaimana kalau nanti aku hamil dan punya anak? Karena pria dan wanita yang berhubungan badan, belum tentu si wanita langsung hamil." Gumam Emilia. "Tidak ada." Jawab Emilia singkat pada sang suami. Julian hanya menggeleng-gelengkan kepala heran.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang, setelah sepuluh menit Julian memijat dahi sang istri. Meskipun belasan pasang mata pengunjung restoran itu melihat ke arah mereka, Julian tidak peduli. Pria itu ingin menunjukkan kalau dia dan Emilia adalah sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


"Makan yang banyak ya. Kamu pusing mungkin karena telat makan." Julian menyendok nasi di dalam bakul kecil yang terbuat dari bambu ke atas piring Emilia.


"Julian, biar aku yang melakukannya." Emilia berusaha mengambil sendok nasi yang dipegang Julian namun pria itu mengelak.


"Kali ini biarkan aku yang melayani kamu. Kalau kamu sudah sehat, kamu bisa melayani aku kembali." Ujar Julian sambil tersenyum manis.


Entah apa maksud pria ini tapi yang pasti Emilia menikmati pelayanan istimewa yang diberikan suaminya. Ya, suami yang tidak pernah dia anggap sebelumnya di kehidupan pertamanya. Entah apa yang membuat Emilia tidak melihat ada Julian yang berada di sekitarnya memperhatikan dirinya.


"Julian,"


"Hmm,"


"Kapan kita akan bertemu orangtua kamu?"


Julian terdiam sejenak lalu berkata,


"Aku akan mengatur jadwal dengan mereka. Mereka sangat sibuk susah ditemui. Bahkan anaknya sendiri pun harus membuat janji kalau ingin bertemu dengan mereka." Ucap pria dengan paras bak dewa Apollo tersebut. Dewa yang terkenal ketampanannya.


Emilia hanya mengangguk-angguk dan mereka berdua makan dalam suasana yang cukup hening. Hanya sesekali Emilia dan Julian bercakap-cakap dan selebihnya mereka menikmati makan malam yang kesorean tersebut.


Perjalanan yang ditempuh Julian dan Emilia menggunakan fasilitas mobil sewa yang sudah diatur oleh Charlie. Supir yang disewa baru datang menyusul setelah pasangan pengantin baru itu hampir menyudahi makanan mereka.

__ADS_1


Emilia memilih untuk tidur karena tubuhnya masih belum fit benar untuk dibawa perjalanan jauh. Julian merasa sedikit menyesal karena terlalu memaksakan keinginannya sejak semalam hingga tadi pagi.


__ADS_2