
“Ini dimana, bos?” Tanya Emilia untuk kesekian kalinya.
“Ini di apartemenku. Ada yang ingin aku katakan padamu. Jadi, ikutlah denganku. Kamu jangan khawatir, tidak ada satupun karyawan yang tahu aku tinggal disini.” Julian lagi-lagi bisa membaca pikiran Emilia.
“Bu-bukan itu yang aku cemaskan. Aku hanya ingin tahu, untuk apa bos membawaku kesini?” Tanya Emilia lagi.
Daripada menjawab pertanyaan Emilia, Julian tetap berjalan lurus kedepan menuju sebuah pintu lift. Emilia melirik ke kanan dan ke kiri memperhatikan suasana sekitar. Sesekali wanita itu berlari kecil mengejar langkah panjang bosnya yang sudah jauh meninggalkannya. Julian menekan tombol lift panah ke atas. Emilia tampak sedikit terengah-engah karena cukup jauh dia berlari mengejar pria yang irit bicara itu. Pintu lift pun terbuka dan Julian masuk kedalamnya. Emilia masih dengan tatapan bingung tidak mengerti, berdiri di luar pintu lift.
“Masuklah. Lebih cepat lebih baik.” Ucap Julian dengan wajah ekpresi datar. Emilia mengerutkan bibirnya dan terpaksa mengikuti bosnya masuk ke dalam lift. Didalam lift tidak terjadi percakapan sama sekali antar keduanya. Mereka sama-sama diam dengan menatap kearah yang berbeda.
Lift pun sampai di lantai yang ternyata berada paling atas dari gedung apartemen ini. Dan, itu berarti lantai ini khusus pemilik unit terbesar dan termewah.
“Hanya ada satu unit di lantai ini dan itu punyaku. Lift yang membawa kita tadi adalah lift khusus yang hanya aku yang bisa memasukinya.” Jawab Julian sambil berjalan terus menuju pintu unitnya. Seumur hidup sekali, baru kali ini Emilia masuk kedalam apartemen dan itu adalah apartemen orang paling kaya. Biasanya, dia hanya masuk ke gedung apartemen dan bertemu di lobi saja dengan klien.
CKLEK!
__ADS_1
Pintu dari unit paling mewah dan paling luas pun terbuka. Emilia langsung dibuat takjub dengan interior didalamnya. Semua furniturenya minimalis namun merknya terkenal mahal. Nuansa warna hitam dan putih mendominasi unit ini. Pria pemilik apartemen itu langsung menuju dapur dan mengambil minuman yang terdapat di lemari pendinginnya.
“Duduklah!” Perintahnya pada Emilia yang masih bingung, sambil menunjuk kursi tinggi yang berada di sisi minibar tersebut.
“Bos, tolong katakan apa maksud anda membawa aku kesini. Aku tidak tahu apa maksud anda malam-malam seperti ini mengajakku kesini.” Ucap Emilia masih dengan suara yang bergetar. Dia tidak pernah akrab dengan pria ini, begitu pun karyawan lainnnya. Karena pria ini seperti membangun dinding yang sangat tinggi dan kokoh pada orang-orang sekitarnya, sehingga tidak ada satupun yang mampu bersikap ramah basa-basi padanya.
Pria itu menyodorkan satu gelas berisi air mineral dingin dan satu gelas lagi untuknya.
“Aku biasanya punya pelayan yang datang dan pergi untuk bersih-bersih apartemen ini setiap hari. Tapi, mulai besok dia mengundurkan diri karena harus pindah ikut dengan anaknya keluar kota.” Jawab Julian. Emilia mendengarkan dengan penuh seksama, karena dia belum tahu kemana arah pembicaraan ini. “Daripada
kamu tinggal di hotel, lebih baik kamu pindah kesini saja. kamu tidak perlu membayar uang kos. Aku hanya minta kamu masak untuk sarapan saja, sebagai gantinya.” Julian menatap mata Emilia lekat-lekat saat mengutarakan maksudnya mengajak Emilia datang ke apartemennya.
“Pikirkan sekali lagi! Aku jamin, tidak akan ada yang mengetahui kamu tinggal disini. Lagipula, apartemen ini ada dua kamar jadi kamu dan aku akan tidur di kamar terpisah.” Terdengar langkah kaki Julian berjalan mendekat kearah Emilia yang berdiri mematung. “Aku tahu kalau mantan tunangan kamu itu mengejar-ngejar kamu. Apa kamu tidak takut bahaya tinggal sendirian dengan terror sang mantan?” Suara Julian yang berada di belakang Emilia, membuat wanita itu merinding bulu kuduknya.
“Aku memang tidak tahu harus tinggal dimana. Tapi, bukan berarti aku akan tinggal satu atap dengan bosku. Anda bilang tidak ada karyawan yang mengetahui anda tinggal disini, tapi bagaimana dengan teman-teman anda? Aku yakin banyak yang keluar masuk apartemen ini dengan bebas. Aku tidak ingin privasiku terganggu. Ah tidak tidak, intinya, penawaran ini sangat konyol.” Emilia berjalan mantab menuju pintu. Ketika tangannya sudah memegang handle pintu, tiba-tiba Julian mendorong pintu yang setengah terbuka itu menjadi tertutup
__ADS_1
kembali. Emilia yang kaget, reflek memutar tubuhnya kearah belakang dan dua mata mereka pun bertemu tanpa sengaja.
“Aku sudah bilang, tidak ada satupun karyawan dan itu berarti teman-temanku pun tidak ada yang tahu aku tinggal disini. Mereka hanya tahu rumahku, bukan apartemenku.” Ucap Julian, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Emilia yang justru wanita itu memundurkannya hingga menempel di badan pintu belakangnya.
“Bos, kenapa anda melakukan ini padaku? Kenapa … anda mau menolong aku? Apakah ada yang ingin anda minta setelah membantu aku?” Degup jantung Emilia berdetak kencang. Mungkin saja pria ini bisa mendengar bunyi jantungnya yang melompat-lompat. Emilia menundukkan wajahnya. Tidak dipungkiri lagi, pria tampan, tegas, dan berkarakter ini adalah idola semua teman-teman wanitanya dan semua yang pernah melihatnya. Tidak ada satupun yang pernah mendapatkan senyuman dan berbicara akrab dengan pria ini, sepengetahuan Emilia. Namun dengan Emilia, pria ini banyak berbicara dan selalu menatap matanya lekat-lekat.
“Kamu cerdas sekali. Aku memang membutuhkan kerjasama dari kamu.” Jawab Julian sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“Ahh, apa itu? Aku akan berusaha menyangupinya, selama itu masuk akal dan aku bisa.” Jawab Emilia sambil menatap Julian dengan wajah bingung. Julian merasa kalau Emilia tampak sangat imut dan menggemaskan, diluar sikapnya yang tegas dan penuh dedikasi pada pekerjaannya, kalau sedang dalam mode bingung. Sehingga, dia tidak tahan untuk tidak tersenyum tipis. Dan, Emilia bisa melihat sekilas senyuman tipis itu.
“Jadilah istriku selama satu tahun.” Ucapan Julian bagaikan petir di siang hari. Emilia melebarkan mulutnya dan menganga tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“APA? Anda sudah gila? Ups!” Emilia menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena keceplosan.
“Iya, aku mungkin sudah gila menawarkan hal ini pada wanita yang baru saja membatalkan pernikahannya sendiri. Tapi aku justru menawarkan pernikahan kontrak.” Ucap Julian dengan ekpsresi wajah kembali datar.
__ADS_1
“Kenapa anda memilih aku? Bukankah anda bisa memilih wanita lain yang lebih pantas untuk menjadi istri anda, meskipun hanya sebagai istri kontrak?” Emilia bertanya penasaran.
“Hmm, mungkin karena aku sudah mengetahui siapa kamu dari pertemuan kita setiap harinya dan kata hatiku lebih tahu wanita mana yang pantas untuk menjadi istriku, dan mana yang tidak.” Jawab Julian.