If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
50. Pria Dengan Celemek


__ADS_3

Namun, Emilia tidak ingin berdebat dengan pria yang pasti tidak akan bisa dimenangkan karena kata-kata Julian memang ada benarnya. Setidaknya itu menurut para orang awam yang tidak memiliki idola tersendiri.


Keduanya mulai menikmati film dengan genre komedi romantis. Awalnya Mareta tampak canggung karena tangan panjang dan lebar Julian merengkuh bahu kanannya dan mendekapnya erat ke tubuhnya. Namun, film yang dibintangi oleh aktor dan aktris favoritnya mampu membuatnya melupakan sejenak sentuhan tangan yang hangat namun cukup berat itu.


"Hahahaha,"


"Astaga, apa yang dia lakukan? Lucu sekali."


Julian tertawa terbahak-bahak. Dia belum pernah selepas ini mengekspresikan suasana hatinya. Emilia yang tidak pernah melihat pria ini tertawa lepas sebelumnya, cukup kaget juga namun dia sendiri tidak kuasa untuk membuka mulutnya lebar-lebar karena tontonan yang sangat lucu itu. Seketika keduanya lupa dengan image yang seharusnya mereka pertahankan.


"Apa kamu suka filmnya?"


"Ya, sangat menghibur sabtu pagiku." Emilia menghapus butiran air mata di sudut matanya karena tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa kamu ingin menghabiskan sabtu ini di dalam apartemen saja atau mau jalan-jalan?" Julian mengganti saluran tv dengan acara yang lebih berat kali ini yaitu tentang politik.


"Apa yang akan kita lakukan di dalam apartemen seharian? Tapi, kalau untuk keluar rumah, aku khawatir kamu masih lelah baru pulang dari luar negeri. Atau, aku saja yang jalan-jalan, kamu istirahat saja dirumah." Terbersit sebuah ide di benak Emilia untuk mengunjungi sahabatnya yang baru pulang dari rumah sakit, Sophia.


Julian mematikan tv yang dia tonton dengan remote di tangannya.


"Kita bisa melakukan banyak hal di dalam apartemen." Julian mulai menghampiri Emilia lebih dekat dan memegang kancing pertama di piyama yang Emilia pakai.


"Apa yang kamu lakukan? Kita baru saja melakukannya semalam." Emilia menahan kerah piyama dengan tangannya agar tangan Julian tidak semakin bebas berkelana di dadanya.


"Semalam itu baru menu pembuka. Sekarang adalah menu utamanya." Dengan tatapan tajam dan nakal sekaligus, Emilia lagi-lagi dibuat menyerah dengan permintaan sang suami merangkap bos atau sebaliknya itu yang tidak masuk di akal. Energi yang dimiliki Julian tidak ada habisnya dan selalu lapar jika melihat Emilia ada di dekatnya.


Warna putih yang mendominasi ruang tengah, kini didominasi juga oleh suara-suara yang keluar dari bibir sepasang suami istri yang baru bertemu kembali kurang dari satu minggu. Julian sepertinya enggan untuk melepaskan Emilia meski semenit pun saat berada di dekatnya. Tidak ada celah bagi sang istri untuk melepaskan diri dari kurungan sang suami jika sudah berada di bawah tubuhnya.

__ADS_1


"Julian, aku sudah lelah." Keringat bercampur saliva bercucuran di wajah dan tubuh polos Emilia.


"Sebentar lagi, sayang. You drive me crazy," Julian tidak menyia-nyiakan momen mereka berdua.


—--


Bel pintu berdering dari teras milik rumah seorang wanita single, Sophia. Ini adalah hari kedua dia menghabiskan hari di rumah seorang diri untuk memulihkan tubuhnya pasca musibah yang hampir merenggut nyawanya. Semakin dipikirkan, Sophia merasa kalau kejadian saat itu adalah faktor kesengajaan yang dilakukan seseorang yang membencinya.


Ada dua nama yang langsung muncul di kepalanya saat ini, Roy dan Netta. Sepasang manusia itu Sophia ingat betul pasti memiliki dendam padanya setelah apa yang dia lakukan pada mereka beberapa kali. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan kalau mereka lah pelakunya.


"Kamu?"


"Maaf, aku tidak memberitahukan sebelumnya untuk datang. Apa aku mengganggu?" Pria yang menyelamatkan nyawanya, kini muncul di hadapannya dengan menjinjing keranjang buah aneka macam.


"Tidak, tidak. Aku baru mau masak buat makan siang. Masuklah," Sophia yang kini menempati rumah salah seorang sepupunya yang tinggal di Amerika, memberikan jalan untuk pria bernama Edwin untuk masuk. Ini adalah kali kedua Edwin memasuki rumah ini, setelah sebelumnya mengantarkan pulang Sophia dari rumah sakit.


"Mau aku bantu? Kamu duduk saja, biar aku yang memasak." Edwin memberikan senyum tampannya setampan wajahnya pada Sophia yang terpaksa mengiyakan karena memang kakinya masih terasa nyeri jika dipakai berjalan jauh.


Sophia duduk di kursi makan yang terdapat di dalam dapur. Perempuan itu mengamati gerak gerik Edwin yang sangat terampil menggunakan spatula untuk mengaduk dan juga saat memberi beberapa bumbu ke dalam masakan. 


Sesekali Edwin tersenyum melihat ke belakangnya. Wajah Sophia yang tanpa make up sama sekali, tetap terlihat cantik di mata Edwin.


"Sepertinya kamu sudah terbiasa di dapur." Sophia tidak tahan untuk tidak memecahkan kesunyian selain bunyi wajan dan spatula beradu.


"Dulu saat aku masih kuliah, aku sudah terbiasa memasak sendiri karena aku ngekos." Jawab Edwin tanpa ragu.


"Oh, kamu kuliah dimana? Mungkin kita satu almamater." Tanya Sophia lagi sambil menenggak minuman yang tersaji di hadapannya.

__ADS_1


"Stanford University,"


Byurrrrrrr


Air yang baru mampir di tenggorokan Sophia, menyembur keluar seiring dia mendengar nama kampus yang diucapkan oleh Edwin, pria misterius yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Kamu … lulusan Stanford University?" Tanya Sophia lagi tidak percaya.


"Ya, baru empat tahun yang lalu. Oke, sudah siap makanannya. Aku sudah makan siang jadi kamu tidak perlu menyisakan untukku."


Nasi putih yang sudah dimasak Sophia sebelumnya, sup jagung, telur dadar, dan ikan bandeng tersaji di hadapan Sophia dengan tampilan yang sangat menggoda. Edwin, pria dengan celemek itu menatap Sophia dengan penuh kehangatan seolah berkata, "Ayo makanlah selagi hangat."


"Aku tidak ingin makan sendiri. Kamu juga harus makan karena kamu yang masak." Ucap Sophia dengan sendok dan garpu yang sudah digenggamnya.


"Sebelum kesini aku sudah makan. Makanlah lalu minum obat. Aku akan membantumu melepas perban dan menggantinya dengan yang baru."


"Kamu tidak perlu bertanggung jawab mengurusku. Bukan kamu yang menyebabkan aku begini. Aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Sophia dengan wajah ditekuk kusut.


"Memang bukan tapi aku hanya ingin melihat pertolonganku tidak sia-sia. Hehehe," Edwin terkekeh mendengar jawabannya sendiri.


"Ayo makanlah," 


Sophia pun terpaksa memakan makanan yang tampak sangat menggugah selera itu. Edwin berdiri menuju kulkas untuk mengambil sebotol air minum dan mencari gelas yang ada di dekat lemari es untuk diisi oleh air minum dan disiapkan di hadapan Sophia sebagai teman makan.


Sophia melihat semua yang dilakukan Edwin seperti orang yang sedang melayani pasien yang tidak bisa melakukan apapun.


"Ahhh biarkanlah, aku mau makan dulu," Pikir Sophia.

__ADS_1


__ADS_2