If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
62. Percobaan Pembunuhan


__ADS_3

Tok tok tok!


"Masuk," Suara sahutan dari dalam membuat Emilia mengambil napas dan menghembuskannya terlebih dahulu sebelum memutar kenop pintu berwarna perak itu.


Emilia membuka pintu dengan gerakan sangat hati-hati lalu menutupnya kembali. Julian duduk di sana di kursinya mengawasi Emilia yang berjalan perlahan mendekat ke arah mejanya.


"Ada yang bisa aku bantu, bos?" Tanya Emilia dengan ucapan layaknya bawahan pada atasan.


"Bos? Hahaha, terserah kamu sajalah. Sayangku, kemarilah." Gerakan empat jari Julian yang memanggil dirinya mendekat, membuat Emilia melebarkan matanya. Emilia mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Ka-kamu mau apa?" Emilia mengerutkan bibirnya.


"Tadi bos, sekarang kamu. Cepatlah kemari. Aku sudah tidak tahan lagi." Julian mendongakkan kepalanya ke sandaran leher kursi sambil memejamkan mata.


"Maksud kamu apa tidak tahan? Julian, ini masih di kantor. Kamu jangan macam-macam. Sampai resepsi itu digelar, aku tidak ingin ketahuan oleh yang lain." Bibir Emilia merengut kesal. Pria ini benar-benar berbuat semaunya dimanapun kapanpun.


"Memangnya aku mau apa? Ya Tuhan, aku hanya minta kamu pijat dahiku. Aku butuh relaksasi." Ucap Julian sambil menatap wajah Emilia dengan sorot mata bingung. Namun, tidak lama kemudian pria itu terkekeh karena ekspresi Emilia yang seperti orang kebingungan.


"Ish, aku kira kamu mau apa." Emilia mengepalkan tangannya geram karena Julian seolah-olah sedang mempermainkannya. Dia pun berjalan menuju kursi besar Julian.


"Memangnya kamu pikir aku mau apa? Hahaha. Tapi kalau dipikir-pikir, kita memang belum pernah mencoba *** in the office." Jari jemari Emilia yang memijat dahi Julian terhenti sejenak. Emilia menghela napas melihat senyuman Julian yang mencurigakan.


"Jangan pernah bermimpi," Emilia mengerutkan bibirnya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu takut ada yang akan datang masuk?"


"Kamu sudah tahu jawabannya." Emilia tersenyum lebar.


Julian mendecih lalu pria itu menekan tombol telpon.


"Aku tidak ingin diganggu selama satu jam kedepan. Siapapun tidak boleh masuk ke ruanganku, tanpa kecuali." Ucap Julian pada sekretarisnya. Tanpa menunggu jawaban, Julian menutup telpon. Tinggal Emilia yang melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya.


Julian memutar kursinya dan menarik tangan Emilia yang tergantung di kedua sisinya.


"Sekarang tidak akan ada yang mengganggu kita berdua." Tubuh Emilia yang sudah terjatuh sempurna di atas tubuh Julian yang dalam posisi duduk setengah berbaring itu membuat Emilia belum menyadari akan bahaya yang akan mengintainya. Bahaya karena Julian hanya meminta waktu pada sekretarisnya satu jam sedangkan pria ini tidak ada yang tahu sampai mana batasan waktunya.


"Julian, aku …." Julian tidak memberi waktu Emilia untuk melarikan diri dan menolak dirinya. Entah mengapa tiba-tiba pria ini menginginkan sang istri saat ini juga. Seolah-olah tidak ada waktu lagi selain saat ini. Emilia menggigit bibirnya agar desahannya tidak terlolos dari bibirnya. Julian pun berusaha selembut mungkin namun sayangnya semua itu hanya niat yang muncul di pikirannya.


Tubuh Emilia diangkatnya dan mereka pun melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri di sofa panjang yang tersedia di ruangan kerja Julian.


Dua orang pria tampak sedang menunggu dengan sabar di dalam sebuah sedan hitam yang terparkir di depan lapangan dekat sebuah gedung perkantoran. Mereka sudah memperkirakan jam berapa target mereka akan keluar dari kantor, setelah mendapat informasi dari resepsionis yang tanpa sengaja memberitahukan jam kepulangan bosnya pada pria yang mengaku sebagai supir pengganti untuk Julian.


"Target sudah keluar." Salah satu pria memberitahukan temannya yang lain yang bertugas sebagai supir. Keduanya pun bersiap-siap dan mesin mobil dihidupkan. Kendaraan roda empat itu berjalan perlahan mengikuti sebuah mobil mewah warna hitam metalik yang berada di depan mereka.


Sebuah tempat yang sepi dan lengang akan dijadikan tempat eksekusi untuk Julian yang diyakini mereka akan menjadi tempat terakhir korban mereka menghabiskan waktunya di dunia.


"Pak, sepertinya mobil kita ada yang mengikuti sejak keluar dari kantor." Supir Julian yang sudah curiga sejak tadi, tidak tahan lagi untuk tidak memberitahukan tuannya yang sedang asyik dengan laptopnya. Julian pun menutup laptopnya dan melihat ke arah belakang. Beruntung kaca film mobil yang dia gunakan sangat aman dan tertutup dari luar.

__ADS_1


"Jalan seperti biasa saja, pak. Ambil tempat sepi untuk berhenti." Alih-alih takut, Julian menyeringai sinis dan mengeluarkan sesuatu dari belakang jok kursi penumpang depan. Sebuah senjata laras pendek yang sudah mendapatkan ijin kepemilikan secara resmi dari instansi terkait, digenggam Julian.


Supir pribadi Julian mulai merasakan jantungnya berdebar kencang. Baru kali ini bosnya benar-benar menggunakan senjata api sejak mendapatkan ijin.


"Jangan takut, pak. Tugas anda hanya membawa mobil ini ke tempat sepi." Julian tahu betul kalau supirnya ketakutan. Tidak ada orang biasa yang baik-baik saja jika melihat senjata api di depan mata mereka.


Sesuai dugaan Julian, mobilnya disalip dari arah samping dan mobilnya pun terpaksa berhenti tiba-tiba karena mobil yang menyalip sudah berhenti di depan mereka.


"Tetap di tempat. Jangan buka pintu sampai aku perintahkan!" Ucap Julian pada supirnya yang dibalas dengan anggukan. Julian memperhatikan dua pria yang turun dari mobil di depannya memakai topi basebal dan kacamata hitam. Sulit untuk melihat wajah mereka dengan jelas dibalik semua atribut itu.


Tok tok tok!


Kaca jendela supir diketuk dari luar dan lagi-lagi supir itu hanya diam.


"Sekarang, buka seatbelt dan tiarap ke samping." Supir itu segera menuruti apa yang dikatakan majikannya.


Benar saja, sebuah timah panas ditembakkan dari jarak dekat di kaca jendela. Untung saja jenis mobil Julian sudah terlindung sempurna mulai dari interior hingga eksteriornya. Peluru panas itu tidak mempan menembus kaca jendela. Bahkan retak pun tidak. Kaca anti peluru dipasang di semua sisi, depan belakang dan samping.


"SIAL! Keluar kalian atau aku akan ledakkan mobil ini!" Suara pria di luar bisa Julian dengar dengan baik. Julian mengambil ponselnya dan menelpon sambungan langsung darurat kepolisiaan untuk melaporkan apa yang dia alami saat ini. Dia tidak ingin terjadi baku tembak yang pada akhirnya akan jatuh korban. Meski dia yakin bukan dia korbannya.


"Pindah ke samping! Biar aku yang mengemudi!" Ucap Julian dengan nada sedikit memerintah. Supir itu pun bergegas pindah ke kursi penumpang sebelahnya dan Julian segera mengambil posisi supir. Bunyi mesin dihidupkan membuat orang di luar tampak terkejut dan menggedor-gedor kaca jendela lebih keras lagi.


Julian mengambil gerakan manuver mobilnya mundur sejauh mungkin lalu menekan pedal gas sekencangnya sehingga menimbulkan bunyi yang menakutkan siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


"Bapak mau apa?" Tanya supir itu dengan wajah pucat pasinya.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan dua cecurut itu!" Seringai sinis Julian cukup menjawab pertanyaan supir yang sudah memasang seatbelt sejak tadi.


__ADS_2