If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
67. Bertemu Orangtua Edwin (1)


__ADS_3

"Hari ini dan besok, aku masih di Jakarta. Tapi lima hari selanjutnya, aku akan ke Solo. Salah satu kerabatku ada yang menikah dan aku ditunjuk menjadi ketua panitia persiapan mendampingi EO nya." Jawab Edwin panjang lebar.


Mendengar kata 'menikah' membuat Sophia tersenyum lirih dan diam sejenak beberapa menit. Dia mengalihkan pandangannya ke samping untuk melihat apa saja yang ada di hadapannya. Edwin merasakan kalau kekasihnya sedang mencoba menahan rasa yang sulit untuk diungkapkan.


"Hei, ada apa sayang? Kenapa kamu diam?" Edwin mengusap pipi sang kekasih dengan penuh cinta, tidak peduli akan banyaknya pengunjung di kantin dan beberapa pasang mata menyaksikan kemesraan yang Edwin tunjukkan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya …." Sophia mengatupkan bibirnya dan kembali tersenyum lirih.


"Awal bulan depan aku akan ke Bandung untuk mengunjungi orang tuaku. Apa kamu mau ikut?" Pertanyaan Edwin membuat pemilik sepasang manik hitam cantik berbinar-binar.


"Kamu serius?"


"Tentu saja. Aku sudah lama tidak pulang. Aku akan memperkenalkan kamu sebagai kekasihku." Ucap Edwin lagi, disertai senyuman yang selalu bisa meluluhkan hati Sophia.


Sophia menganggukkan kepalanya. Seumur hidupnya baru kali ini dia akan bertemu orangtua dari pria yang menjadi kekasihnya. Dia tidak tahu apa saja persiapan yang harus dia lakukan. Tapi, itu bisa ditanyakan pada rekan-rekan kerjanya yang telah berkeluarga nanti.


Dia tidak pernah mengira kalau ada saatnya dia akan mengalami hal seperti ini. Menjalin hubungan khusus dengan seorang pria, lalu saling merindukan dan bertemu hampir setiap hari, menelpon dan berkirim pesan hanya untuk mengingatkan jangan telat makan atau jemputan sudah siap. Ditambah lagi dengan kemajuan saat ini dimana dia akan diperkenalkan ke keluarga kekasihnya.


Sophia berjanji akan melakukan yang terbaik dan menunjukkan kesan pertama yang sangat berkesan di mata keluarga Edwin kelak. Setidaknya dia tidak akan membuat malu Edwin yang telah mengajaknya.

__ADS_1


***


"Sampai kapan kamu mau bersembunyi disini? Sekarang ini aku merasa gerak gerikku sedang diawasi. Aku bisa kesini karena aku berhasil menghindar." Netta datang ke rumah pribadi Roy yang juga tempat persembunyiannya. Dengan dua kantung plastik di kedua tangannya, berisi beberapa kebutuhan makanan dan harian yang diperlukan Roy. Pria itu tidak bisa keluar rumah karena statusnya kini masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang.


Dua hari sudah Roy bersembunyi di rumah ini. Hanya Netta yang tahu keberadaannya. Bahkan orangtua Roy pun tidak mengetahui rumah ini. Roy sengaja tidak memberitahukan semua properti miliknya pada kedua orangtuanya.


"Aku bersumpah aku akan membunuh pria bernama Julian itu dengan kedua tanganku sendiri." Dengan roti di tangan kanannya dan gelas berisi kopi cappucino di sebelah tangan kirinya, Roy menikmati makanan bawaan Netta dengan sekejap mata. Dia memang sudah kelaparan sejak pergi dari rumah. Semua kartu kredit yang biasa dia pakai untuk kebutuhan sehari-hari diblokir oleh ayahnya sendiri. Pekerjaannya pun terpaksa dia tinggalkan demi keselamatannya.


Beruntung dia masih bisa memiliki uang tunai di dompetnya dan pemberian ibunya. Namun, dia tidak bisa selamanya bersembunyi seperti pengecut seperti ini. Hati kecilnya masih tetap terobsesi untuk membawa Emilia ke dalam pelukannya dan melenyapkan Julian yang telah membuatnya berada dalam kondisi seperti sekarang ini.


Netta kini menjadi tangan kanannya untuk menyediakan semua kebutuhan yang dia perlukan.


"Cih, apa kamu sudah lupa kalau semua barang-barang yang kamu pakai itu adalah pemberian dariku? Kamu itu hanya bonekaku, Netta. Jangan buat aku marah karena kamu telah berkhianat padaku." Jawab Roy dengan rahang mengeras.


"Berkhianat? Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah mengkhianati kamu!"


"Cih, kamu kira aku tidak tahu kalau kamu bermain dengan lelaki lain di belakangku? Tapi aku diamkan saja karena kamu tidak pantas untuk aku cemburui. Aku baru sadar sekarang kalau Emilia masih jauhhhh lebih baik daripada kamu." Julian menyeringai dan mendengus kasar.


"Berhenti membandingkan aku dan dia! Aku tidak suka kamu menyebut nama dia di hadapanku." Jawab Netta murka.

__ADS_1


"Oya? Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau aku menyebut namanya berulang-ulang? Aku baru menyesal sekarang kenapa aku tidak gauli saja dia sejak dulu biar dia tidak bisa kemana-mana." Roy menenggak habis kopi dinginnya dan membuang roti yang belum habis itu ke tempat sampah yang ada di samping lemari pendingin.


"Hah, percuma kamu menyesal sekarang karena dimatanya kamu adalah sampah yang bahkan tidak bisa didaur ulang." Mata Netta menyala-nyala penuh emosi mengetahui masih ada nama Emilia di hati pria yang selalu menghabiskan malam-malam panas dengannya itu, meski secuil ruang di hati Roy.


PLAKKK!


Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Netta. Tubuh wanita seksi itu untuk sejenak limbung dan terjatuh ke atas lantai. Tamparan Roy yang cukup keras membuat sudut bibir Netta berdarah dan pipi wanita yang selalu memakai pakaian seksi itu menjadi merah. Netta tidak percaya dengan apa yang dialaminya.


Sejak hubungan rahasia mereka yang terjalin cukup lama, baru kali ini Roy menamparnya. Mulut Netta menganga lebar dan genangan air mata nyaris turun di sepasang mata dengan kontak lensa warna coklat itu. Air mata bukan karena sedih tapi karena rasa sakit fisik yang diterimanya secara tiba-tiba.


"Jaga mulutmu! Aku bisa merobeknya hingga kamu tidak akan bisa bicara lagi dan kamu akan menjadi wanita cacat yang bahkan pengemis tidak akan mau memungut dirimu." Aura wajah Roy yang menggelap dan penuh ancaman, membuat Netta bergidik ngeri. Satu tangan Roy mencengkeram rahang Netta dengan kuat dan seringai sinis Roy semakin menambah tensi ketegangan pada diri Netta, wanita perebut tunangan Emilia yang tidak lain juga adalah sepupunya sendiri.


Wajah Netta dihempaskannya ke samping. Rambut panjangnya tampak sedikit acak-acakkan dan wajahnya yang sudah bersimbah air mata membuat riasan wajahnya menjadi luntur di beberapa bagian.


"Sekarang, buatkan aku makanan. Terserah makanan apa yang kamu bisa. Dan awas, kalau kamu memasukkan sesuatu yang aneh di dalam makananku, aku mengawasimu! CEPAT!"


Ucapan kencang Roy mengagetkan Netta dan wanita itu pun bergegas berdiri dan menuju ke dapur. Dia tidak tahu harus memasak apa karena seumur hidupnya dia tidak pernah berada di dekat kompor sama sekali. Mungkin keajaiban terbesar darinya adalah bisa memasak air.


Roy duduk di kursi dapur dan mengawasi wanita yang tampak linglung di depan kompor.

__ADS_1


"Cih, dasar wanita tidak berguna!" Ucapnya.


__ADS_2