
Pintu lift yang membawa Emilia menuju lantai tempat dimana kamarnya berada pun terbuka. Wanita yang baru saja membatalkan pernikahan dengan kekasihnya itu, langsung masuk kedalam lift dan menekan tombol tutup pintu. Emilia pun menghilang dari pandangan Julian, seiring dengan tertutupnya pintu lift.
“Julian, apa kamu tidak mendengarkan aku?” Suara wanita yang masih berada di sebelah Julian, mengagetkan pria itu yang sempat melamun.
"Roxane, ayahmu meminta aku untuk membawa kamu pulang sekarang juga. Sebaiknya kamu bersia-siap karena aku tidak akan menunggu lebih lama.” Julian berkata sambil berjalan begitu saja meninggalkan Roxane yang mengernyitkan alisnya.
"Ada apa dengan Julian? Aku tidak pernah melihat dia seantusias itu menatap seorang wanita. Siapa wanita itu?” Roxane melihat kearah pintu lift yang masih tertutup.
-----
“Huft, malam ini aku akan menginap disini. untung saja laptop dan beberapa benda penting sudah ada didalam tasku. Tapi, bagaimana dengan pakaianku? Apakah besok aku harus memakai pakaian yang sama?” Gumam Emilia dalam hati. “Sudahlah, lebih baik aku mandi saja dulu.” Emilia berjalan menuju kamar mandi dan menggantung pakaian yang dikenakannya saat ini di hanger yang sudah disediakan di lemari pakaian. Pikirannya menerawang ke ingatan di masa depan. Satu langkah besar sudah dia lakukan saat membatalkan rencana pernikahannya dengan Roy. Misi selanjutnya adalah membayar hutang pada keluarga Roy. Tapi, darimana aku bisa mendapatkan uang lima ratus juta dalam waktu singkat? Bahkan uang sebesar itu pun aku tidak bisa meminjam dari kantor. Ahhhh, apa yang harus aku lakukan?” Emilia menepuk agak kencang air bathtub yang memenuhi hampir separuh tubuhnya. Seketika air berhamburan ke luar bathtub.
Dia berpikir untuk melakukan kerja sambilan lainnya. Namun, pekerjaannya sebagai manajer sudah sangat menyita waktunya. Setiap hari dia harus pulang lebih malam dibandingkan karyawan-karyawan lainnya. Setelah puas berendam didalam bathtub, Emilia yang masih mengenakan jubah mandi, mematut seluruh tubuhnya didepan cermin dengan rambut yang masih ditutup dengan handuk kering.
“Emilia, kamu diberikan kesempatan di kehidupan kedua ini jadi jangan kamu sia-siakan. Kamu harus bisa terlepas dari jeratan Roy dan keluarganya. Kamu harus memikirkan jalan keluar untuk mendapatkan uang lima ratus juta itu.” Gumam Emilia, lalu wanita itu menghela napas pasrah.
Tiba-tiba, sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya. Emilia mengambil ponselnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat pemberitahuan panggilan tidak terjawab sejumlah dua puluh kali. Dan, lebih kaget lagi ketika dia mengetahui yang menelponnya itu adalah Roy.
“Mau apa dia menelponku?” Gumam Emilia. Tidak hanya itu, Roy pun menerornya melalui pesan singkat
yang dikirimnya.
“Emilia, kamu dimana? Aku kerumah kamu tapi kata nenek kamu, kamu belum pulang.”
__ADS_1
“Emilia, angkat telponku. Kita harus bicara! penting!”
“Emilia, cepat angkat telponku! Kamu dimana? Aku akan menjemputmu.”
“Kamu dimana? Kamu jangan berbuat sesuatu yang bodoh. Aku bisa menjelaskan semuanya. Ada seseorang yang menjebakku.”
“Emilia, jawab telponku! Apakah kamu baik-baik saja?”
Semua pesan singkat Roy seperti ratusan jumlahnya yang Emilia enggan untuk membaca semuanya satu persatu.
“Ada apa dengan orang ini? Cih! Dia pikir aku akan bunuh diri atau melakukan tindakan merugikan diriku sendiri, begitu kah? Justru aku sedang menikmati kebebasanku karena bisa lepas dari rencana yang akan membuatku
menderita seumur hidup.” Gumam Emilia lagi. Dan, tiba-tiba dering telpon pun masuk ke ponselnya. Roy menelponnya setelah melihat pesannya dibaca oleh Emilia. Wanita itu menghela napas berat namun tidak memberikan kesempatan pada Roy untuk mengucapkan sepatah katapun. Dia menunggu sampai dering telpon itu berhenti sendiri. Emilia meletakkan telponnya diatas meja setelah bunyinya berhenti. Baru saja dia ingin meninggalkan ponselnya, tiba-tiba pesan singkat masuk lagi.
“Aku tunggu di lobi hotel sekarang juga.” Hanya beberapa kata namun mampu membuat dahi Emilia berkerut.
“Apa-apaan orang ini? Menyuruh orang seenaknya di luar jam kerja! Huh, apa kamu pikir aku akan menuruti perintahmu?” Ucap Emilia dengan seringai sinisnya.
Kenyataannya, disinilah dia berada. Berdiri dihadapan bosnya yang sudah duduk lebih dahulu di sofa lobi dengan penampilan kasualnya.
“Ada apa Bos memanggil aku keluar?” Tanya Emilia, masih dengan posisi berdiri. Bukannya menjawab pertanyaan karyawannya, Julian justru menatap lurus Emilia dari atas sampai bawah. Dan, yang dilihat pun merasakan tidak nyaman dengan tatapan bosnya.
“Hah, ikuti aku!” Julian berjalan lurus menuju keluar pintu utama dan membuka pintu mobilnya yang sudah terparkir di depan lobi. Emilia mengikuti langkah cepat bosnya dari belakang meski masih bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
“Kita mau kemana, bos?” Emilia berhenti tepat didepan mobil bosnya. Julian yang sudah masuk kedalam mobil, langsung membuka kaca jendela penumpang untuk berbicara pada wanita yang masih berdiri diluar.
“Masuklah! Aku akan membawamu ke satu tempat.” Jawab Julian tanpa melihat wajah Emilia.
“Aku tidak akan masuk ke dalam mobil kalau bos tidak memberitahuku kita akan kemana.” Ucap Emilia bersikeras dengan pendiriannya.
“Masuklah atau kita akan seperti ini sampai pagi.”
Emilia merengut kesal dengan sikap bosnya yang selalu bertindak semaunya. Setelah menghela napas kasar, Emilia terpaksa masuk kedalam mobill mewah milik CEO tempatnya bekerja, karena mobil dibelakang mereka sudah antri menekan klakson. Setelah memasang seatbeltnya, Julian langsung memacu mobilnya dengan
sekali hentakan, membuat Emilia yang belum bersiap-siap itu terdorong ke belakang.
“Bos, kamu mau membawa aku kemana malam-malam seperti ini?”
“Aku tahu alasan kamu menginap di hotel. Kamu baru saja membatalkan rencana pernikahan kamu, bukan?” Tanya Julian tanpa melihat kearah lawan bicara.
“Hah, gossip cepat sekali menyebar ya. Darimana anda tahu berita ini?” Tanya Emilia dengan wajah sedikit gugup dan malu. Malu karena berita ini kalau tersebar pasti dirinya akan menjadi bahan sindiran.
“Kamu tidak perlu malu. Membatalkan rencana pernikahan itu bukan aib. Siapapun berhak untuk melakukan itu.” Seolah-olah Julian bisa menebak isi hati Emilia, wanita itu tersenyum lirih mendengar ucapan Julian. Emilia berpikir kenapa bosnya tertarik dengan urusan pribadinya dan dia ingin sekali bertanya. Namun, pertanyaan itu tidak jadi dia ungkapkan karena bosnya sudah menghentikan mobil tepat didepan sebuah gedung apartemen.
“Ini dimana, bos?” Tanya Emilia untuk kesekian kalinya.
“Ini di apartemenku. Ada yang ingin aku katakan padamu. Jadi, ikutlah denganku. Kamu jangan khawatir, tidak ada satupun karyawan yang tahu aku tinggal disini.” Julian lagi-lagi bisa membaca pikiran Emilia.
__ADS_1
“Bu-bukan itu yang aku cemaskan. Aku hanya ingin tahu, untuk apa bos membawaku kesini?” Tanya Emilia lagi.