If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
66. Pengakuan Secara Tersirat


__ADS_3

Kini Edwin selalu berada di sisi Sophia hampir setiap hari, jika jadwal bekerjanya kosong. Edwin dan Sophia seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan dan selalu terlihat mesra dan membuat iri siapapun yang melihat mereka.


"Aku ada di kantin sekarang," Pesan singkat yang diterima Sophia, membuatnya tidak sabar untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Masih ada waktu setengah jam lagi menuju jam istirahat namun rapat yang dimulai sejak satu jam yang lalu itu, belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai. Seseorang yang duduk di kursi seberang hadapannya, mengamati perubahan wajah Sophia sejak menerima pesan.


"Kamu kenapa?" Emilia yang duduk di sebelahnya, berbisik pada sang sahabat.


"Haaa? Oh tidak apa-apa." Jawab Sophia sambil tersenyum lebar. Emilia mengerutkan alisnya. Ada sesuatu yang sedang dinanti Sophia, pikirnya.


Julian yang duduk di tengah-tengah, melihat istrinya tampak sedang berpikir keras sambil memiringkan dagunya.


"Kalau begitu, rapatnya sampai sini saja. Masing-masing manajer meminta laporan dari ketua tim dan laporkan semuanya ke saya hasilnya satu minggu dari sekarang." Julian berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan rapat beserta jajaran manajer dari masing-masing divisi yang masih ada di dalamnya.


"Kamu mau kemana?" Teriakan Emilia pada Sophia tidak dihiraukannya. Emilia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kebingungan.


"Sayang, ke ruanganku sekarang." Emilia menyeringai melihat pesan masuk yang dikirim oleh bosnya di kantor sekaligus suaminya itu.


"Dia semakin bebas saja memanggilku di kantor. Kalau sampai ketahuan orang-orang bagaimana?" Gumam Emilia dalam hati, diakhiri dengan menghela napas panjang.


Tok tok tok!


"Masuk," Emilia tetap menjaga sikapnya sampai benar-benar dipastikan tidak ada karyawan lain di dekat mereka. Benar saja, sekretarisnya masih berada di hadapannya sambil menunggu dokumen yang sedang ditandatangani Julian.


"Silahkan duduk dulu," Julian berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang masih diperiksanya.


Sepuluh menit berlalu dan Julian masih belum selesai dengan dokumennya. Emilia melirik jam tangannya. Waktu makan siang sebentar lagi tiba. Dia tidak sempat sarapan tadi pagi karena terbangun kesiangan akibat ulah pria yang duduk di kursi kebesarannya di sana. Emilia mengerutkan bibirnya melihat Julian yang belum juga selesai.


Entah bagaimana, Julian tiba-tiba tersenyum tipis sambil tetap menatap dokumen. Emilia memalingkan wajahnya lurus ke depan. Apa dia melihatku menyeringai padanya? Pikir Emilia.


"Ok, semua sudah benar. Kamu copy dulu lalu sebarkan ke masing-masing kepala divisi seperti biasa. Silahkan keluar," Sekretaris itu tersenyum lebar. Melihat wajah bosnya sudah merupakan wisata rohani baginya. Siapa juga yang tidak betah memiliki seorang bos yang sangat sempurna dari semua sisi. Ditambah lagi, semua orang masih mengira kalau Julian masih single.

__ADS_1


Emilia menatap kepergian sekretaris itu sampai akhirnya pintu ditutup dari luar.


"Akhirnya. Ada apa kamu memanggilku?" Emilia tetap duduk di tempatnya semula. Julianlah yang berdiri dan mendekati istrinya.


"Kamu pasti lapar," Julian menyentuh pipi Emilia dan mengusapnya lembut. Emilia memejamkan mata merasakan kehangatan dan kelembutan pria ini seolah langsung memadamkan sedikit api yang menyala di dadanya beberapa menit yang lalu. "Aku sudah memesan makanan dan sebentar lagi akan datang." Julian tersenyum senang melihat istrinya menikmati sentuhan jarinya.


"Apa? Jadi kamu memanggilku kesini untuk makan siang bersama?" Emilia menggenggam tangan Julian dan melepaskannya perlahan.


"Kita kan sudah sepakat untuk membuka status kita. Aku ingin memulainya dari sekarang." Jawab Julian sambil menyandarkan punggungnya di sofa panjang yang dia duduki.


"Tapi,"


"Tapi apa? Kamu menunggu apa lagi, sayang?" Julian menunggu istrinya untuk menjawabnya.


"Julian, apa kamu yakin kita bisa menikah lebih lama dari kontrak yang disepakati? Maksudku, aku masih belum siap mendengar gosip miring yang akan beredar nanti." Emilia menundukkan wajah sambil meremas kesepuluh jari tangannya.


Julian tersenyum tipis.


"Aku tidak peduli dengan gosip apapun. Tapi, kalau sampai ada yang berbicara buruk tentangmu di belakang, aku tidak akan segan-segan untuk memecatnya dengan tidak hormat." Tangan Emilia digenggamnya dan sorot mata Julian yang hangat membuat Emilia langsung merasa tenang dan nyaman. Emilia tersenyum mendengar ucapan sang suami.


Tok tok tok!


"Makanan kita sudah datang," Ujar Julian.


Begitu pintu dibuka, tampaklah sekretarisnya membawa dua rantang khusus dikemas dalam kantong bahan yang berisi makanan dari restoran langganannya.


"Makanan ini saya taruh dimana, pak?" Sorot mata sekretarisnya tampak bingung dengan alis berkerut. Dia berpikir apakah dia tidak salah lihat. Bosnya sedang duduk bersebelahan dengan Emilia dan tangan bosnya menggenggam tangan Emilia tanpa melepasnya sama sekali meskipun kehadirannya di tengah-tengah mereka.


Emilia menghela napas melihat cara sekretaris Julian menatapnya. Sebuah gosip liar akan segera menyebar setelah sekretaris itu menutup pintu dari luar.

__ADS_1


"Makanlah, jangan berpikir apapun." Julian tahu kalau istrinya sedang menata hatinya untuk sebuah pengakuan secara tersirat baru saja.


"Julian, hiks hiks," Emilia menyumpit daging teriyaki yang ada di hadapannya dengan perasaan gamang.


"Hahahaha," Bukannya ikut sedih, Julian justru tertawa melihat sikap Emilia yang tampak ingin menangis.


***


"Hai, maaf aku terlambat ya." Sophia menghampiri Edwin yang sedang sibuk dengan tabnya. Edwin pun meletakkan tab hitam miliknya begitu kekasihnya datang.


"Tidak masalah. Aku sudah memesan makanan supaya kamu tidak kelamaan menunggu." Benar saja, baru Sophia meletakkan dompet dan ponselnya, dua orang pelayan di kantin datang dengan dua nampan berisi nasi, sop iga, lauk tempe dan tahu, juga sambal yang berisi dua porsi masing-masing.


Sophia tersenyum senang karena Edwin tahu makanan kesukaannya.


"Kamu pasti lapar sekali," Edwin terkekeh melihat rona wajah Sophia yang seperti sudah tidak tahan untuk melahap semua makanan yang ada di hadapannya.


"Uhhh sangat lapar. Rapat panjang menguras energiku." Jawab Sophia tanpa basa basi lagi.


Edwin senang karena Sophia yang sekarang sudah lebih bebas mengekspresikan apa yang dia mau, tanpa menjaga lagi imagenya seperti pertama kali mereka bertemu.


"Kamu pulang jam berapa hari ini?" Edwin bertanya setelah menghabiskan makanannya hanya dalam waktu tidak sampai sepuluh menit.


"Hari ini aku akan pulang telat. Mungkin jam delapan dari kantor." Ucap Sophia setelah selesai menyuap makanan terakhirnya.


"Aku akan menunggu kamu,"


"Kamu tidak bekerja?" Tanya Sophia dengan mimik wajah serius.


"Mulai hari ini, aku mendapatkan cuti selama satu minggu kedepan."

__ADS_1


"Oya? Wah, apa yang akan kamu lakukan selama satu minggu ini?" Tanya Sophia masih dengan wajah yang sedikit tegang.


"Hari ini dan besok, aku masih di Jakarta. Tapi lima hari selanjutnya, aku akan ke Solo. Salah satu kerabatku ada yang menikah dan aku ditunjuk menjadi ketua panitia persiapan mendampingi EO nya." Jawab Edwin panjang lebar. 


__ADS_2