If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
15. Makan Bersama Di Dalam Mobil


__ADS_3

"Aku sudah berjanji pada teman-temanku untuk makan siang bersama.” Jawab Emilia dengan wajah harap-harap cemas.


“Oh begitu? Ya sudahlah, kalau begitu aku tidak jadi makan siang. Lagipula aku masih banyak pekerjaan menanti. Kamu keluar saja susul teman-teman kamu.” Julian hendak mencopot jasnya kembali karena rencana makan siang pertama bersama sang istri terancam gagal.


Emilia merasa tidak enak namun dia tidak bisa melanggar janjinya begitu saja.


"Maafkan aku. Aku akan menggantinya dengan makan malam dirumah, kalau kamu tidak ada acara." Emilia berkata dengan suara rendah dan sedikit bergetar. Mendengar hal tersebut, Julian menyeringai sambil tersenyum lalu berkata.


"Kalau begitu, kita pulang bersama malam ini. Aku akan menunggumu di basement. Mobilmu biarkan saja di parkiran sampai besok." Emilia tidak bisa membantahnya karena dia sudah menolak ajakan makan siang suami rahasianya.


"Baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu. Jangan lupa untuk makan siang bersama teman-temanmu." Pesan Emilia sebelum dia meninggalkan pria yang gila kerja dan selalu memasang wajah dingin di hadapan semua orang, kecuali di hadapan dirinya.


"Aku usahakan." Hanya dua kata yang diucapkan Julian dan keduanya pun berpisah sampai waktunya makan malam tiba.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sudah lewat dari jam makan malam. Julian sudah keluar lebih dulu sejak setengah jam yang lalu. Emilia terpaksa pulang meskipun pekerjaan belum tuntas dilakukan. Dia berjalan setenang mungkin menuju basement. Sesekali dia melihat ke belakang kalau-kalau temannya ada di belakangnya dan melihatnya menghampiri mobil sang CEO.


"Maafkan aku, aku sangat terlambat." Emilia masuk ke dalam mobil Julian yang ternyata sedang bekerja dengan laptopnya sambil menunggu sang istri selesai bekerja.


"Tidak masalah, ayo kita pulang sekarang." Pulang! Emilia masih tidak biasa mendengar kata 'pulang bersama'. Dia yang biasa pulang ke rumah neneknya dan menghabiskan malam bersama sang nenek untuk saling bercerita apa yang mereka alami seharian ini, kini Emilia harus membagi malamnya dengan Julian, pria yang berstatus suami di atas kertas karena hutang lima ratus juta.


"Iya," Emilia menjawab dengan singkat.


Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam tidak mengatakan apapun. Emilia tidak tahu harus memulai cerita darimana. Dia bukanlah wanita pendiam karena posisi manajer yang dimilikinya harus selalu aktif dan supel kepada siapapun. Tapi bila itu dengan Julian, lidah Emilia langsung terasa kelu dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aura pria ini sungguh sangat berbeda dengan beberapa teman pria Emilia, terutama Roy. Pria tidak pernah menghargainya sama sekali di kehidupan pertama dan sekarang.

__ADS_1


"Ambillah ini," Julian memberikan satu paper bag yang aromanya harum dan membuat perut Emilia cukup meronta.


"Apa ini?" Tanya Emilia sambil menerima bungkusan tersebut.


"Sebelum aku sampai mobil tadi, aku mampir ke coffee shop dan membelikan kamu ini. Kamu pasti sangat lapar."


Emilia mengernyitkan alisnya. Dua bungkus roti dan dua cangkir kopi yang masih hangat.


"Tapi, aku kan mau masak makan malam. Kalau kita makan ini nanti …"


"Kalau kamu mau masak, masak saja. Roti dan kopi hanya untuk mengganjal perut kamu biar tidak lapar." Jawab Julian.


"Kamu juga pasti belum makan. Apa kamu mau menghentikan mobilnya sejenak lalu kita makan di tepi jalan?" Permintaan Emilia mungkin terdengar konyol bagi pria yang tidak pernah makan di dalam mobil sebelumnya. Terlebih lagi di tepi jalan bersama seorang wanita. Namun, Julian menyetujuinya begitu saja. Emilia tersenyum melihat Julian membanting setir ke kiri dengan perlahan, meski tidak mengatakan okay atau tidak.


Emilia tidak pernah mengira kalau dia akan merasakan momen seperti ini. Makan di dalam mobil bersama seorang pria yang dia tidak duga sama sekali kalau telah menjadi suaminya. Di kehidupan sebelumnya, Emilia bahkan tidak pernah menganggap kehadiran Julian karena wanita itu terlalu fokus dengan pekerjaan dan urusannya dengan Roy.


"Julian," Emilia memberanikan diri untuk membuka percakapan.


"Ya," Sungguh satu jawaban yang sangat singkat.


"Kamu ingin aku masakkan apa nanti? Maksudku, apakah kamu ada makanan kesukaan khusus? Aku akan mencoba memasaknya untukmu." Ucap Emilia.


"Makanan kesukaan? Aku tidak tahu. Selama ini aku hanya makan yang aku temui, tidak pilih-pilih." Jawab Julian dengan wajahnya yang konsisten datar.

__ADS_1


"Oh begitu. Lalu, apa ada makanan yang membuat kamu alergi? Misalnya, seafood, ayam, atau apa gitu." Emilia hanya ingin memastikan kalau dia tidak salah membuat makanan yang akhirnya akan berujung petaka.


"Aku bisa makan apa saja, kamu jangan khawatir. Tapi, kalau untuk beberapa hal, aku hanya mengkonsumsinya itu itu saja. Bukan karena aku alergi dengan yang lain tapi aku hanya suka saja." Jawab Julian lagi.


"Oh ya? Contohnya?" Emilia senang karena akhirnya dia bisa membuat pria lemari pendingin itu berbicara lebih lama.


"Aku suka kopi Americano dan roti rasa keju. Dan, aku tidak terbiasa makan nasi setiap hari. Yang aku konsumsi biasanya roti atau steak. Tapi, aku suka nasi hanya saja tidak sering." Jawab Julian lagi.


"Baiklah, aku sudah tahu apa yang akan aku sajikan dirumah. Mari membuat satu tahun ini lebih mudah agar tiba waktunya nanti, tidak ada rasa yang tertinggal." Ucap Emilia sambil tersenyum lebar. Julian justru mengernyitkan alisnya. Ucapan Emilia di kalimat terakhir membuatnya agak kesal namun dia tidak bisa berbuat apapun.


"Aku sudah kenyang. Ayo kita lanjutkan perjalanan." Julian hanya minum sedikit kopi dan secuil roti tapi sudah mengatakan kenyang. Emilia merasa dia salah mengucapkan sesuatu sehingga melukai perasaan Julian. Namun, Emilia tidak ingin bertanya dan memilih untuk mengiyakan ajakan Julian untuk segera pulang.


"Aku langsung ke kamar saja. Aku sudah kenyang jadi aku tidak mau makan lagi." Emilia merasa ada yang tidak benar dengan sikap pria itu.


"Julian, aku …"


"Ya?" Julian berbalik menghadap wanita yang berdiri di belakangnya.


"Ah tidak apa-apa. Aku juga mau langsung ke kamar." Jawab Emilia sambil berjalan cepat menuju kamarnya. Julian hanya bengong dan mengernyitkan alisnya melihat sikap istrinya yang sedikit aneh.


Julian dan Emilia pun menikmati mandi mereka dengan penuh kesegaran. Emilia dengan mandi showernya dan Julian dengan berendam di dalam bathtub. Kebalikan dari Julian, Emilia lebih senang mengguyur seluruh tubuh hingga rambutnya dengan air hangat. Percikan air shower ke tubuhnya seperti therapy yang membuatnya tenang dan nyaman hingga melupakan sejenak masalah yang pernah dialaminya saat menjadi istri Roy.


Setelah hampir setengah jam, keduanya keluar dari kamar masing-masing dengan selisih waktu tidak jauh berbeda tapi keduanya sama-sama menggunakan jubah setelah mandi warna putih.

__ADS_1


__ADS_2