
“Bagaimana dengan kamu? Dia pasti juga mengincar kamu.” Tidak dipungkiri kalau Emilia juga sangat mengkhawatirkan Julian. Roy pasti mengincar Julian yang telah membuat semua rencana pria pecundang itu berantakan.
Bukannya khawatir atau bingung, Julian justru menyeringai dan berdiri menghampiri jendela besar di belakang kursinya.
“Dia hampir mati di tanganku. Dan kalau dia berani menyentuhku lagi, aku tidak akan memberinya ampunan lagi. Bahkan polisi pun tidak perlu bersusah payah menangkapnya. Aku akan pastikan dia langsung mendekam di balik jeruji penjara untuk selamanya.” Suara Julian terdengar tenang dan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya tertata rapih meski penekanan emosi jelas terasa.
Baru saja Emilia ingin menjawab, sebuah dering telpon mengagetkannya.
“Ayah,” Ucapnya lirih.
“Ayah? Ayah mana? Bukankah ayah kamu sudah tidak ada, sayang?”
“Ini … ayahnya Roy.” Ucap Emilia sambil mengangkat satu tangan dengan maksud agar Julian diam sejenak.
“Halo, iya ada apa ayah?” Meskipun Emilia sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan keluarga Roy, namun Arka adalah seorang figure ayah yang baik di mata Emilia. Di kehidupan sebelumnya dan juga kehidupannya yang sekarang, hanya Arka yang selalu mendukung dan selalu baik padanya.
“Hari ini? Hmm, boleh. Dimana ayah? Oh okay ayah. Iya tentu saja aku masih tahu rumah ayah. Okay aku akan kesana sepulang bekerja. Iya, ayah. Okay, bye.” Julian mengerutkan alisnya. Jelas sekali terdengar kalau Emilia seperti memiliki janji temu dengan mantan calon ayah mertuanya itu.
“Pak Arka ingin bertemu denganku.” Tanpa menunggu pertanyaan dari suaminya, Emilia menyampaikan maksud dari ayahnya Roy itu menelpon.
“Oh, dimana?”
“Di rumahnya.” Jawab Emilia lirih.
__ADS_1
“Apa? Kamu akan ke rumahnya malam-malam? Aku akan ikut denganmu.” Ucap Julian lagi dengan tubuh ditegakkan dan wajah menatap lurus Emilia dengan sorot mata tajamnya.
“Tapi …”
“Aku akan ikut. Ini akan menjadi momen pertama kali kita mengumumkan hubungan kita ke orang-orang.” Emilia menghela napas tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Cepat atau lambat hubungan mereka memang akan segera diketahui oleh orang lain. Keluarga Roy adalah salah satunya yang harus mengetahui status Emilia saat ini. Setelah dia membatalkan pertunangannya dengan Roy, Emilia hanya sekali bertamu ke rumah orang tua Roy untuk menegaskan keputusan final.
“Kita akan keluar tepat setelah jam pulang kerja berakhir.” Ucap Julian lagi.
“Okay. Kalau tidak ada yang kamu butuhkan lagi, aku akan keluar sekarang.” Emilia masih berdiri menunggu perintah selanjutnya dari pria yang masih menjadi bosnya itu.
“Tidak ada, sayang. Kamu boleh keluar.” Julian mengedipkan nakal satu matanya pada sang istri dan dibalas dengan bibir cemberut Emilia. Julian terkekeh melihat ekspresi istrinya yang menurutnya imut dan menggemaskan.
“Edwin, tolong ke ruanganku sekarang.” Julian menelpon pria yang baru saja kembali dari ruangan rapat dan sedang disibukkan dengan menyusun dokumen yang perlu untuk dikerjakan segera setelah rapat berakhir.
Tok tok tok!
“Malam ini aku dan Emilia akan pergi ke rumah mantan calon mertuanya. Kalau ada dokumen yang harus aku tandatangani, segera bawa ke sini.”
“Aku sedang mengerjakannya. Ngomong-ngomong, mantan calon mertua? Maksud kamu mereka pernah nyaris menjadi mertua istri kamu?” Edwin yang baru bekerja dengan Julian, sepertinya harus mulai cepat tanggap dalam membantu sahabatnya itu. Bukan hanya dalam pekerjaan, tapi dalam urusan pribadi juga.
Julian hanya mengusap perlahan rahang yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus. Mantan calon mertua? Status yang sangat tidak enak didengar oleh Julian namun memang begitu kenyataanya.
“Ya. Kamu harus segera menemukan lelaki pecundang itu agar dia segera dijebloskan ke dalam penjara dan tidak akan mengganggu aku dan Emilia lagi.” Julian berdiri dan memasukkan kedua genggaman tangan ke dalam saku celana panjang bahannya.
__ADS_1
“Tentu saja. Aku bekerja disini selain menjadi sekretaris pribadimu juga sebagai asisten pribadimu. Jangan lupa gajinya harus dobel ya!” Edwin melemparkan seringai senyum yang membuat keduanya terkekeh.
“Satu lagi,” Ucapan Julian membuat Edwin berhenti melangkah ke luar ruangan.
“Ada apa lagi?”
“Dilarang berpacaran saat jam kerja. Diluar itu, kalian bebas melakukan apapun.”
“Haaah, kalau pacaran tidak boleh tapi kalau suami istri bebas ya melakukan apapun.” Sindir Edwin yang di hari pertamanya bekerja ini sudah melihat betapa posesifnya Julian pada sang istri dan membuatnya harus menjaga pintu di luar lebih dari setengah jam lamanya.
“Tentu saja, oleh karena itu kalian menikah dulu lalu salah satunya akan aku pecat. Mudah kan? hahahaha,” Tertawa Julian menjadi perih di hati Edwin. Mana mungkin dia keluar dari pekerjaan yang akan membuat orang tuanya bangga ini? Lebih tidak mungkin lagi kalau kekasihnya yang keluar dari perusahaan ini karena Sophia adalah salah satu karyawan teladan yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan.
“Kamu tahu betul bagaimana membuat orang lain tidak bisa memilih.” Edwin menggelengkan kepalanya dan keluar dari ruangan Julian yang masih terkekeh melihat ekspresi temannya yang tidak bisa berkata-kata lagi.
“Aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuh seujung kuku pun Emilia. Kalau pria banci itu macam-macam, aku tidak akan segan-segan membunuhnya.” Senyuman sinis Julian akan menggetarkan siapa saja yang melihatnya.
“Nak Emilia … uhmm, maaf kamu datang dengan siapa?” Arka sempat terkejut melihat kedatangan mantan calon menantunya yang ditemani oleh seorang pria yang tinggi menjulang dengan setelan jas serba hitam masih melekat di tubuhnya.
“Ini …”
“Saya adalah suaminya. Nama saya Julian Miller.” Julian mengulurkan tangannya kepada pria yang wajahnya sendu dan penuh kehangatan. Beda sekali dengan penampilan lelaki yang pernah dikurungnya dan berteriak ingin membunuhnya.
“Suami?” Tampak jelas di wajah Arka betapa pria paruh baya itu dibuat bingung dan terkejut dalam satu ekspresi wajah. Dia tidak menyangka bisa secepat ini Emilia menikah setelah membatalkan pertunangan dengan Roy yang belum lama terjadi. Dan, yang lebih mengagetkan Arka lagi adalah tidak ada undangan pernikahan yang diberikan Emilia padanya.
__ADS_1
“Oh, ayo silahkan duduk. Maaf, saya … tidak bisa berkata apa-apa. Saya masih bingung.” Arka berjalan lebih dahulu menuntun kedua tamunya memasuki ruangan tamu dimana Sonia telah menunggu dengan wajah dingin dan sinisnya seperti biasa. Julian memegang pinggang Emilia dan berjalan di sebelahnya tanpa berjarak sedikitpun. Arka dan Sonia mengerutkan alis dan saling bertukar pandang.
Emilia bukannya tidak tahu kalau dia menjadi pusat perhatian tuan rumah namun dia tidak bisa menolak perlakuan Julian. Dia juga ingin menunjukkan betapa kini dia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik setelah menikah dengan pria yang harus ditunjukkan ke semua orang kalau mereka berdua saling mencintai.