If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
8. Hanya Satu Syarat


__ADS_3

“Kenapa anda memilih aku? Bukankah anda bisa memilih wanita lain yang lebih pantas untuk menjadi istri anda, meskipun hanya sebagai istri kontrak?” Emilia bertanya penasaran.


“Hmm, mungkin karena aku sudah mengetahui siapa kamu dari pertemuan kita setiap harinya dan kata hatiku lebih tahu wanita mana yang pantas untuk menjadi istriku, dan mana yang tidak.” Jawab Julian.


“Tapi … tetap saja, ini tidak benar. Menikah itu untuk seumur hidup. Dan, itu bukan hal yang


bisa dijadikan candaan. Kalau anda mencari wanita yang bisa dijadikan istri kontrak, anda bisa cari wanita lain. Maaf, aku tidak bersedia.” Emilia membalikkan badannya ingin keluar dari unit apartemen ini. Namun, tiba-tiba saja bunyi telpon masuk menghentikan langkahnya. Kali ini Emilia terpaksa menerimanya karena bunyinya sangat berisik dan mengganggu pria yang sedang mengerutkan alis di belakangnya.


“Halo,”


“Lia, dimana kamu? Aku sudah menunggu di lobi hotel tempat kamu menginap. Keluarlah! Kita harus bicara.” Suara Roy yang berteriak, membuat Julian yang berada didekat Emilia bisa mendengarnya.


“Kamu … di hotel? Untuk apa kamu mencari aku? Aku sudah putuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kita, jadi aku tidak ada keinginan untuk melanjutkannya lagi.” Emilia merasa tidak perlu untuk menutupi lagi masalah pribadinya dihadapan bosnya. Meskipun Julian tetap berdiri memperhatikannya, namun Emilia tidak peduli.


“Lia, kamu tahu kalau aku sudah membuat banyak persiapan dan semuanya sudah mendekati sempurna. Kamu tidak bisa begitu saja membatalkan acara pernikahan kita. Ayo kita bicara! Kamu jangan ambil keputusan sepihak saat hatimu sedang emosi.” Roy masih bersikeras untuk mengajak Emilia melanjutkan acara pernikahan mereka yang undangannya sudah disebar itu.


“Kamu tidak bisa …”


“Halo,” Julian yang sudah tidak sabar untuk ikut campur, langsung mengambil ponsel Emilia dan berbicara langsung dengan Roy yang ada di ujung telpon.


“Sebaiknya kamu jangan mendekati Emilia lagi. Atau, aku akan laporkan tindakan kamu ini ke pihak berwajib atas dasar pasal perbuatan tidak menyenangkan.” Julian langsung menutup telpon dan menyerahkannya kembali kepada Emilia. Sang pemilik telpon hanya bengong dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan bosnya. Emilia menghela napas kasar sambil merengutkan bibirnya.


Telpon itu berdering kembali dan di layarnya tertulis nama Roy. Emilia menatap lurus namun enggan untuk menggeser slide nya ke panah hijau. Hingga akhirnya dering itu mati


dengan sendirinya.


“Apa kamu tetap ingin kembali ke hotel?” Pertanyaan Julian membuyarkan lamunan Emilia.


“Kalau aku kembali ke hotel, Roy pasti akan memaksaku untuk memenuhi permintaannya melanjutkan rencana pernikahan ini. Tapi, kalau aku tidak kembali ke hotel, dimana aku akan tinggal? Semua pakaianku ada di dalam kamar hotel. Aku hanya membawa dompet dan hp.” Gumam Emilia dalam hati.


“Penawaran dariku masih berlaku. Tinggallah disini dengan menjadi istri kontrakku.” Ujar Julian lagi.

__ADS_1


“Ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa anda ingin menikah kalau hanya untuk satu tahun? Apakah anda akan segera kembali ke Italia tahun depan? Ataukah, anda sudah memiliki istri disana jadi anda membutuhkan istri cadangan sebagai pelampiasan selama disini


saja?” Pertanyaan Emilia membuat yang bertanya dan yang ditanya sama-sama


bengong melebarkan mata. “Ma-maksud aku. Aku hanya ingin tahu …”


“Aku belum menikah disana dan dimanapun. Kalau itu yang kamu maksudkan. Aku hanya butuh seorang istri untuk aku tunjukkan pada ibuku karena ibuku mengira kalau aku penyuka sesama jenis. Jadi, aku …”


“Pffft, HAHAHAHA. Maaf, maafkan aku, bos.” Emilia menutup mulutnya agar tawanya tidak semakin kencang.


“Apakah kamu sedang mentertawakan aku? Apa kamu senang sekarang?” Julian tersenyum tipis melihat wanita yang semula bersedih itu, kini justru tertawa lepas.


“Maafkan aku,” Emilia menarik dan menghembuskan napasnya dalam-dalam.


“Aku senang kamu sudah bisa tertawa. Jadi bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?” Kalimat yang diucapkan Julian adalah kalimat yang biasa digunakan seorang pria untuk melamar seorang wanita. Tapi, pria itu mengatakannya dengan nada datar dan


Emilia pun mendengarnya tanpa ada rasa yang meletup-letup bahagia.


“Ayo kita lakukan sekarang juga,” Ucap Julian pada Emilia tanpa mengedipkan matanya.


“Apa? Lakukan apa?”


“Ayo kita mulai membuat surat perjanjian itu sekarang.” Julian membalik badannya dan melangkah menuju ke sebuah ruangan yang lebih besar. Emilia terpaksa mengikutinya lagi. “Duduklah!” Emilia spontan duduk setelah diperintah.


“Kita akan membuat poin-poin apa saja yang harus kita berdua lakukan agar pernikahan kita yang hanya satu tahun berjalan sukses dan tanpa merugikan kamu juga aku.” Jawab Julian dengan santainya.


“Apakah pria yang duduk di hadapanku ini adalah bosku yang biasa bersikap dingin dan menakutkan di kantor? Kenapa dia bisa berbicara selancar ini di hadapanku.” Gumam Emilia dalam hati.


“Ckckckck, kamu melamun lagi.” Julian menjentikkan jarinya beberapa kali untuk menyadarkan Emilia dari lamunannya. Wanita yang masih diambang keraguan itu kaget sehingga tanpa disadari langsung duduk tegak.


“Bos, apa anda yakin?” Tanya Emilia sekali lagi.

__ADS_1


“Sangat yakin.” Jawab Julian dengan sorot mata tajam.


“Apakah bos bisa memberiku pinjaman uang lima ratus juta saat ini juga?” Pertanyaan Emilia membuat dahi Julian berkerut.


“Aku akan memberikannya


padamu tanpa kamu harus berhutang. Sebagai kompensasi dari pernikahan yang kamu dan aku akan lakukan.” Jawab Julian.


Emilia tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Dia menjual dirinya sendiri demi untuk membayar hutang pada keluarganya Roy. Tapi, hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa terbebas dari takdir yang pernah dia alami di kehidupan pertamanya. Emilia tidak ingin


menjadi pengecut dan benalu yang menempel pada keluarga Roy demi hutang neneknya.


“Baiklah, aku hanya menginginkan uang itu. Oya satu lagi. Karena pernikahan ini hanya berjalan


selama satu tahun, tidak bisakah kalau … kita … tidak melakukan … itu …” Emilia


ragu-ragu untuk mengatakan hal yang paling penting dalam hidupnya. Julian tersenyum


tipis melihat kepanikan Emilia demi menyelesaikan ucapannya yang terbata-bata.


“Seks?”


“Ahhh, i-iya.” Jawab Emilia kaget dan gemetar. “Aku … tidak pernah melakukan itu sebelumnya dengan pria manapun. Jadi, aku rasa, aku akan memberikannya kelak pada suamiku yang mau menemaniku seumur hidupku, bukan hanya satu tahun.” Jawab Emilia dengan wajahnya


yang merah merona.


“Tidak bisa!” Jawab Julian tegas.


“APA? Aku hanya meminta satu syarat itu saja, aku tidak akan meminta apapun. Anda juga tidak perlu menafkahi aku, meminta ijin padaku kalau ingin pergi kemanapun dan menemui wanita lain. Intinya, anda bebas melakukan apapun yang anda inginkan. Tapi, aku hanya minta anda mengabulkan satu syarat dariku saja, untuk tidak berhubungan


****.” Jawab Emilia dengan mata sendu.

__ADS_1


__ADS_2