
"Hei, kamu mau kemana?"
"Kemana saja asal tidak bersama kamu. Nanti aku disangka gay kalau bergaul sama kamu."
"What the …! Dasar pria aneh?" Alfred mengumpat Julian dengan suara pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.
Julian pergi menghampiri semua anak buahnya, termasuk Emilia dan tim.
"Kerja kalian sangat bagus." Pujinya sambil tersenyum puas.
"Terima kasih, bos." Jawab dua anak buah Emilia secara serentak. Sedangkan Emilia sendiri mengucapkannya sedikit terlambat.
"Setelah ini kalian langsung kembali ke kantor dan buat laporan lalu letakkan di meja Emilia sebelum pulang kerja. Dan Emilia, laporan itu harus saya terima hasilnya malam ini juga. Besok saya akan ke Singapore selama dua hari." Jawab Julian dengan tegas dan mantap.
Emilia sempat bengong sejenak. Julian tidak memberitahunya kalau dia akan pergi ke luar negeri selama dua hari. Namun, Emilia tidak ingin hubungannya menjadi buah kecurigaan semua rekan kerjanya.
"Baik, pak." Jawab Emilia singkat. Julian tahu kalau Emilia bingung dan penasaran tentang ucapannya yang terakhir.
Sang suami kontrak memang belum sempat memberitahu Emilia namun dia sudah berencana untuk memberitahunya sesaat lagi, setelah acara ini berakhir.
"Emilia, kemarilah sebentar." Julian mengajak Emilia untuk menyingkir sebentar ke sudut ruangan makan sambil menyeduh kopi instan yang sudah tersedia di meja khusus.
"Aku yakin kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku tidak memberitahumu perihal rencana kepergianku ke Singapore." Ujar Julian.
"Hmm, iya sih. Tapi aku rasa aku tidak berhak untuk terlalu ikut campur dan mau tahu urusan kamu." Ucap Emilia dengan suara rendah. Dia tidak ingin ada yang mendengar dirinya menggunakan bahasa informal ke bosnya. Khawatir ada yang curiga dengan kedekatan mereka. Julian tersenyum tipis. Pria itu mendekati Emilia dengan gerakan seolah sedang berbicara teramat penting, sehingga tidak ada yang menyadari kalau mereka berdua adalah sepasang suami istri.
__ADS_1
"Kamu berhak tahu setelah apa yang kita lakukan di malam pertama panas kita." Bisik Julian. Wajah Emilia sontak merah merona malu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Sejak kapan pria ini mesum dan licik?" Gumam Emilia dalam hati.
"Kamu!" Emilia tersadar dan langsung mengambil jarak lebih jauh. Julian terkekeh melihat reaksi Emilia. Justru Emilia terheran melihat Julian yang tertawa. Pria itu sungguh sangat sulit diduga. Disaat semua orang mengira dia adalah pria tanpa ekspresi. Namun, yang Emilia rasakan Julian adalah pria yang hangat dan romantis dengan caranya sendiri. Bukan romantis yang harus dengan bunga atau kata-kata rayuan yang menggoda hingga ke langit ke tujuh.
"Aku harus kembali ke kantor sekarang. Banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan secepatnya." Emilia berkilah dan hendak pergi sebelum ada yang mencurigai interaksi mereka.
"Aku akan pulang cepat malam ini. Karena aku ingin menyimpan energi setelah makan malam." Julian meninggalkan Emilia yang wajah sang wanita menganga lebar tidak percaya dengan yang didengarnya.
"Bulu kudukku berdiri mendengarnya. Hiiyyy," Ucap Emilia pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Emilia dan tim pun bergegas kembali ke kantor setelah berramah tamah sebelum meninggalkan ruangan makan. Emilia senyum-senyum sendiri di dalam mobil mengingat ucapan Julian yang terkesan mesum dan tidak pada tempatnya itu.
"Oh, tidak ada apa-apa." Emilia tersipu malu mengetahui dirinya ternyata diperhatikan diam-diam.
"Kami senang deh sekarang bu Emilia murah senyum dan mau berkumpul dengan kita-kita lagi. Kalau bu Emilia yang dulu itu membuat kami ketakutan dan bingung sendiri." Salah seorang anak buah Emilia yang duduk di depan mengutarakan isi hatinya. Dan, rekan kerja yang lainnya mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang dikatakan rekannya tadi.
"Memangnya, saya yang dulu kenapa? Perasaan sama saja deh. Saya yang sekarang ya saya yang dulu." Jawab Emilia lagi.
"Hmm, tidak tidak tidak. Bu Emilia yang dulu kalau menjawab pertanyaan itu cuma satu kata, "okay," , "Ya," , "Tidak," "Lanjutkan," Ya seperti itulah." Emilia mengerutkan dahinya mendengar sifatnya yang dulu dari anak buahnya.
"Aku ingat kalau aku memiliki sifat dan kebiasaan seperti itu. Kala itu, yang ada di pikiranku hanyalah pekerjaan dan persiapan menjelang pernikahanku dengan Roy. Tapi ternyata, itu semua berakhir dengan sia-sia karena aku menikahi pria yang sangat buruk kelakuannya. Ditambah lagi keluarga besarnya tidak ada yang mendukungku, kecuali ayah Arka." Gumam Emilia dalam hati.
Emilia tersenyum lebar menanggapi komentar yang langsung diucapkan di depannya.
__ADS_1
"Maafkan saya yang dulu ya. Saya yang dulu terlalu memikirkan pekerjaan sehingga tidak tahu cara bersosialisasi yang benar." Jawab Emilia singkat.
"Jangan pernah berubah lagi ya bu. Kami semua sangat menyukai sikap ibu yang sekarang." Jawab anak buahnya yang lain.
Emilia memang belum menikah, apalagi punya anak. Panggilan ibu disematkan karena posisi Emilia yang merupakan pimpinan mereka dan mereka wajib menghormatinya.
Mobil pun akhirnya sampai di depan lobi kantor. Semuanya kembali menuju ke kesibukannya masing-masing. Namun tidak dengan Emilia. Tidak jauh dari hadapannya berada, ada seorang pria yang menunggu dirinya sejak tadi. Karena posisi pria itu menghalangi jalannya, maka mau tidak mau Emilia melayaninya.
"Mau apa lagi kamu?" Tanya Emilia dengan seringai sinis dan tidak peduli.
"Lia, pikirkanlah hubungan kita sekali lagi. Kartu undangan, gaun pengantin, dan tempat semuanya … belum aku batalkan. Ayolah, jangan seperti anak kecil begitu. Setiap orang kan pasti punya kesalahan dan masa lalu. Kamu juga pasti punya kan?" Dialah, Roy, yang masih mengemis dan berharap Emilia untuk kembali ke komitmen mereka sebelumnya untuk menikah.
"Cih! Kesalahanku?" Tanya Emilia lagi.
"Ya, kamu juga pasti punya kesalahan kan? Kamu tidak mungkin selalu benar dan tanpa dosa." Jawab Roy penuh percaya diri.
"Kamu tahu kesalahanku? Kesalahanku adalah … tidak membuka mataku betapa kamu itu ternyata adalah seorang bajingan, brengsek, tukang selingkuh, dan tidak pernah menghargai wanita." Jawab Emilia lagi dengan nada berapi-api.
"SIALAN! Maksud kamu apa? HAH?"
"Hei, disini adalah tempat kerjaku. Aku bisa memanggil security dan mengusir kamu keluar secara tidak terhormat." Ujar Emilia dengan tatapan mual melihat mantan tunangannya itu berlama-lama.
"Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan suami yang lebih segala-galanya dariku! Lebih mapan, lebih hebat, lebih kaya, lebih tampan, bahkan masa depanku pun lebih terjamin." Jawab Roy dengan semangat menggebu-gebu.
"Cih! Penuh percaya diri sekali! Silahkan cari wanita bodoh di luar yang mau dibodohi dengan tikus got macam kamu!" Emilia mendorong tubuh Roy ke belakang dengan gerakan tiba-tiba lalu Emilia berhasil masuk melewati pintu tap absen yang hanya bisa dibuka dengan menggunakan kartu karyawan.
__ADS_1