
Permintaan yang konyol!
Sophia menggigit bibirnya. Dia sendiri tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang terlontar begitu saja dari suara hatinya yang paling dalam.
"Apa … kamu yakin?" Edwin tidak berkedip menatap wajah Sophia yang tidak berani menatapnya.
"Tapi, itu … kalau pacar kamu tidak keberatan. Eh tapi, sudahlah aku …"
"Aku tidak punya pacar." Edwin memotong ucapan Sophia yang terdengar malu dan sedikit ragu-ragu. Mendengar jawaban Edwin, Sophia menghela napas lega secara diam-diam
"Oh, okay." Suasana kembali hening beberapa saat. Banyak sekali kalimat yang ingin diucapkan Sophia namun semua tertahan di ujung bibirnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan? Selain kenapa aku memilih profesi menjadi seorang satpam dengan ijazah kuliah bergengsi? Atau, kamu ingin bertanya apakah gaji yang aku terima menjadi seorang satpam, bisa memenuhi kebutuhanku sehari-hari?" Edwin menatap wajah Sophia yang selalu menunduk.
"Maafkan aku dengan semua pertanyaan konyol itu. Aku tidak berhak ikut campur dengan pilihan hidup orang lain yang tidak ada hubungannya denganku. Bahkan, kita tidak berteman dekat sehingga aku bisa mempertanyakan semua hal itu." Sophia menatap wajah Edwin seperti seekor kucing yang sedang memelas meminta perhatian.
Imut! Sangat imut! Begitu kesan pertama Edwin melihat wajah Sophia yang tetap cantik meski tanpa make up. Pria itu menghela napas panjang sebelum mengatakan sesuatu.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kita memang tidak berteman dekat karena aku lebih senang berteman dengan perempuan yang belum memiliki kekasih. Karena tidak ada konsep pertemanan antara seorang pria dan seorang wanita." Jawab Edwin lagi.
"Kalau … maksud kamu adalah apakah aku sudah punya kekasih atau belum, dengan jujur aku katakan kalau … aku … sudah … punya kekasih." Jawab Sophia tanpa ragu.
__ADS_1
Suasana kembali hening dan dua pasang mata itu di dalam ruangan dan di dalam rumah yang sepi saling menatap tajam seolah-olah sedang mencari kedalaman arti dibalik iris mata hitam pekat keduanya.
"Kalau begitu aku …" Sophia menangkap tangan Edwin yang spontan berdiri hendak keluar meninggalkan sang perempuan yang duduk di sofa panjang.
"Maukah kamu menjadi kekasihku? Karena kekasih yang aku maksud adalah … kamu. Aku juga belum punya seorang pria yang akan menghiasi hari-hariku dan menorehkan namaku di hatinya." Ucap Sophia sambil mendongak berbicara pada pria yang tingginya di atas rata-rata pria Indonesia itu.
Edwin tersenyum dan mendengus pelan.
"Kamu belum tahu siapa aku dan bagaimana sifatku. Ditambah lagi, aku seorang satpam dan kamu seorang manajer di perusahaan ternama. Apakah itu pantas dan cocok untuk bersanding menjadi sepasang kekasih?" Edwin tidak melepaskan pegangan tangan Sophia.
"Aku tidak merasakan itu menjadi sebuah penghalang. Yang penting, aku tidak menjadi duri dalam hubungan seorang pria." Jawab Sophia dengan wajah memelasnya.
Sangat imut! Aku tidak tahan lagi. Kenapa dia bisa seimut itu? Aku kan jadi ingin memakannya. Edwin mengatupkan bibirnya dan memejamkan matanya sambil tersenyum tipis.
"Apa kamu tidak menyesal menjadi kekasih seorang satpam?" Tanya Edwin lagi. Sophia adalah pacar pertamanya. Seumur hidup sejak dia sekolah sampai kuliah dan bahkan setelah bekerja, tidak ada yang pernah berhasil menggaet hatinya untuk dijadikan kekasih. Karena semua teman perempuan yang dia miliki hanya teman biasa ketika berkumpul. Edwin selalu menolak jika diajak pergi berdua saja dengan teman perempuannya. Dia tidak ingin memberi harapan palsu pada mereka yang selalu memberikan perhatian lebih padanya.
"Aku sudah bilang kalau aku sudah bersedia menjadi kekasih kamu. Itu artinya aku tidak akan menyesal." Jawab Sophia lagi.
Jarak mereka yang sangat dekat hingga napas satu sama lain yang keluar dari mulut masing-masing, dapat terasa menghembus wajah keduanya, membuat Sophia dan Edwin merasakan jantung mereka masing-masing berdegup sangat cepat seperti orang yang sedang lomba triatlon.
Edwin mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Sophia perlahan.
__ADS_1
"Kamu tahu? Aku kira aku adalah lelaki yang hanya akan memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Sejak aku melihat kamu di rumah sakit, aku selalu bertanya-tanya, apakah perempuan ini sudah menikah? Atau, apakah perempuan ini sudah punya pacar atau tunangan? Aku selalu menghempaskan pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalaku hingga …"
Cup!
Sophia tiba-tiba mendaratkan ciuman tipis di bibir Edwin yang dia tatap sejak tadi. Kedua mata Edwin terbelalak lebar tidak menduga akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari wanita yang sudah memberikannya tembakan cinta pertama kali. Dan kini dia pun memberikan ciuman pertama tak diduga-duga. Mendapati respon Sophia, Edwin tidak sungkan lagi untuk menarik lembut tengkuk wanita yang tersenyum padanya dan keduanya pun larut dalam ciuman panjang dan cukup panas. Suara cecap dan lenguhan Sophia terdengar jelas di rumah yang hanya berisi mereka berdua.
Edwin menjepit kedua pipi Sophia dengan kedua tangannya.
"Aku bisa gila. Hehehe, ada yang berdiri tapi bukan tiang. Sial!" Edwin bergegas keluar dari rumah meninggalkan Sophia yang bengong mendengar ucapan Edwin yang tiba-tiba. Pria itu tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di hubungan resmi mereka di hari pertama.
Sophia tersenyum lebar dan membiarkan Edwin keluar dari rumahnya tanpa menarik tangannya lagi. Dia tahu kalau mereka berdua sangat menginginkan hal tersebut namun, hal dimana hanya sepasang suami istri yang sah yang bisa melakukannya. Kepergian Edwin keluar dari rumahnya setidaknya menunjukkan kalau pria itu tahu batasannya sampai dimana.
—--
"Taman Safari?" Julian kaget bukan main ketika istrinya meminta jalan-jalan ke daerah puncak dan Taman Safari menjadi destinasi utamanya.
"Iya, aku sudah lama ingin kesini tapi tidak tahu jalannya dan tidak mau seorang diri juga." Jawab Emilia saat mereka sedang berkemas-kemas untuk menginap dua malam di daerah puncak.
"Sebelum menikah, kamu kan bisa pergi dengan teman kamu, Sophia." Jawab Julian sambil mencoba menutup koper dengan zipper. Dia tidak menguncinya karena koper itu tidak akan masuk ke mesin pemindaian seperti di bandara.
"Aku tidak memiliki waktu liburan untuk diriku sendiri saat menjadi tunangan pria itu. Setiap Sabtu Minggu aku harus pergi ke rumah orangtuanya untuk berkunjung dari satu rumah kerabatnya ke kerabat yang lain." Jawab Emilia. Sorot matanya melukiskan sendu yang masih terbayang jika mengingat status dirinya saat itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu kamu, sayang." Julian menghampiri sang istri dan memeluknya erat lalu memberinya kecupan di bibir.
"Sudah sudah, nanti aku berakhir tanpa selembar pakaian pun kalau diteruskan." Emilia mendorong dada Julian menjauh dan menyingkir dari hadapannya untuk kemudian membereskan peralatan skincare dan make up nya. Julian terkekeh mendengar jawaban sang istri yang memang masuk akal.