If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
72. Tidak Ada Lagi Keraguan


__ADS_3

"Sayang," Julian memanggil sang istri.


"Ya,"


"Apakah kamu mencintaiku?"


"Uhuk ... Uhuk ..." Air mineral yang baru sampai di tenggorokan Emilia, mendadak sulit ditelan.


"Kenapa kamu mendadak bertanya seperti itu?" Emilia mengambil tissue yang diberikan Julian lalu mengelap bibirnya yang berceceran air di wajah bagian bawahnya. Setelah menepuk-nepuk punggung sang istri, Julian kembali duduk di kursinya semula.


"Karena kamu tidak pernah bertanya aku pergi dengan siapa, untuk urusan apa, dan jam berapa aku akan kembali." Emilia menatap wajah pria yang seperti anak kecil sedang meminta perhatian pada ibunya. Tanpa sengaja, Emilia terkekeh dan tersenyum sumringah.


"Julian, aku percaya kamu. Kamu tidak akan melakukan hal yang akan membuatku kecewa. Aku tidak ingin membatasi ruang gerak kamu dengan pertanyaan-pertanyaan sepele. Sekarang aku tanya balik, kalau aku harus pergi ke suatu tempat, apa kamu akan bertanya aku pergi kemana, dengan siapa, dan kembali jam berapa?"


"Tentu saja." Jawab Julian tegas. Emilia mengerjapkan matanya berulang-ulang.


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya padaku?"


Julian menyandarkan punggungnya, lalu berkata.


"Pertanyaan-pertanyaan yang kamu anggap sepele diberikan ke pasangan setelah menikah itu bukan karena tidak percaya. Tapi, lebih ke kepedulian. Kalau kamu peduli pada orang lain, kamu akan mau tahu apa yang dia lakukan, dengan siapa dia pergi, hendak kemana perginya, dan jam berapa dia akan kembali. Aku sebagai seorang suami akan melakukan hal yang sama, dan mungkin bukan hanya bertanya, aku akan melarang jika itu aku anggap tidak baik dan tidak penting untukmu."


Emilia menghela napas panjang. Seperti biasa, dia akan kalah jika harus berdebat dengan pria yang selalu memenangkan tender proyek saat berbicara dengan calon klien bisnisnya. Emilia mengangguk-angguk dan mengerutkan bibirnya.


"Itulah kenapa aku bertanya padamu, apakah kamu mencintaiku?" Julian bertanya kembali. Emilia yang selalu menjunjung tinggi untuk tidak mengatakan cinta pada seorang pria, sejak dulu itu, mengatupkan bibirnya sambil menunduk.


"Haruskah aku mengatakannya disini?"

__ADS_1


Julian mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"A-aku tadi membeli dua lingerie warna merah dan hitam. Aku bermaksud untuk menyatakan cintaku padamu di rumah sambil memakai lingerie dengan pilihan warna yang kamu sukai." Jawab Emilia dengan suara yang sangat rendah. Tampak jelas kalau dia sangat malu jika ucapannya terdengar oleh orang-orang sekitar.


Kini, justru Julian yang terdiam tidak berkata apapun.


"Sial! Aku ingin mendengar jawaban cintamu sekarang. Ayo, kita pulang."


Julian menarik lembut tangan sang istri di satu tangan, sementara tangan lainnya membawakan kantong belanjaan Emilia yang hanya terdiri dari tiga paper bag.


"Julian, tunggu! Makanannya?"


Julian berhenti sejenak lalu memutar punggungnya ke belakang, menghadap Emilia yang masih kebingungan.


"Nanti ada orang yang akan mengurusnya." Julian menyerahkan selembar kartu warna hitam di kasir dan berkata pada kasir tersebut kalau akan ada orang yang mengambilnya. Emilia belum sempat mencerna apa maksud Julian, namun Julian kembali menarik tangannya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari kafe itu berada.


Jantung Emilia berdegup kencang mengetahui kalau dirinya akan dijadikan menu pembuka makan malam. Dia menyesali ucapannya yang tanpa berpikir panjang kalau serigala di sebelahnya ini sangat mudah terpancing jika menyangkut urusan ranjang.


"Julian, pelan-pelan. Aku tidak akan kemana-mana." Seperti melayang di udara, Emilia merasakan mobil yang dinaikinya ini seperti pesawat yang sedang terbang namun dalam ketinggian yang sangat rendah.


"Aku yang sudah kemana-mana sejak kamu menyebutkan lingerie, sayang." Julian tersenyum puas sambil terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang cukup lengang itu.


Mulut Emilia menganga lebar.


Sesampainya di apartemen, Emilia diminta untuk segera ke kamar dan memakai lingerie warna merah terlebih dahulu.


"Ini masih sore, Julian." Jawab Emilia dengan sedikit penolakan.

__ADS_1


"Dan, aku berjanji aku tidak akan memaksamu lagi di malam hari." Jawab Julian dengan senyuman nakalnya.


"Ya Tuhan, bahkan aku belum makan."


"Sambil menunggu kamu keluar berganti pakaian, aku akan membuat sandwich untukmu. Cepatlah!" Julian menepuk bokong Emilia untuk segera bergegas masuk ke dalam kamar.


Emilia tidak bisa berkutik lagi. Awalnya dia hanya ingin terhindar dari todongan pernyataan cinta di kafe, tapi siapa yang menyangka kalau akibatnya justru lebih fatal baginya.


Emilia meletakkan dua lingerie beda warna itu di atas kasur sambil menatap malu-malu.


"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku begitu bodoh tanpa sadar membeli ini? Hahhh, seharusnya aku tidak termakan hasutan mba penjaga butik tadi saat mengatakan sedang promo diskon lima puluh persen. Bodohnya aku!" Emilia menepuk dahinya sendiri menyesali perbuatannya yang tanpa pikir panjang itu.


"Warna merah. Dia bilang warna merah. Jadi, aku harus memakai benda ini yang bahkan hanya menutupi ****** dan segitiga bagian bawahku. Selebihnya seperti tidak memakai pakaian sama sekali. Gila! Dasar gila kamu Emilia! Aaargggghh ..." Emilia mengepalkan tangannya kesal dengan dirinya sendiri. Sudah pasti, ini tidak akan berhenti hanya sebentar saja. Suaminya akan terus membuatnya tersadar hingga tengah malam.


Dengan berjalan perlahan sambil mengendap-endap tanpa menimbulkan bunyi langkah kaki, Emilia keluar dari kamar dengan lingerie warna merah dan tali bahu yang terbuat dari pita tipis yang tampaknya sia-sia ditautkan karena sekali tarikan saja bagian atas tubuhnya akan terekspose sempurna.


Dilihatnya Julian masih asyik menata roti yang sudah dibakarnya sambil membelakangi istrinya yang tidak terdengar bunyi langkah kakinya. Namun, tiba-tiba Emilia berpikiran untuk kembali ke kamar saja berganti pakaian.


"Sayang, kamu mau kemana?"


Pasrah sudah Emilia saat sang suami berhasil memergokinya untuk lari ke kamar. Dengan kulit tubuh yang sangat terbuka dan suhu pendingin ruangan yang sangat rendah, Emilia merasakan kulitnya berdiri karena kedinginan.


Kulitnya semakin bergidik ketika ada jari yang menyentuh lengannya dari belakang dan menyusuri kulit mulusnya dengan sangat lembut dari sikut hingga ke leher. Sebuah kecupan tipis pun dirasakannya di tengkuk leher bagian belakang.


"Kamu sangat seksi, sayang. Bahkan hanya dari belakang pun, aku sudah sangat ingin memakan kamu seutuhnya. Bagaimana aku tidak bisa peduli kemana kamu pergi, dengan siapa kamu pergi, dan jam berapa kamu akan kembali. Aku tidak ingin lagi melewatkan satu hari pun tanpa memeluk dan menciummu."


Emilia sungguh sangat luluh mendengar kata-kata Julian yang berdiri di belakang tanpa jarak dengannya. Tiba-tiba dia teringat kembali dengan kehidupan pertamanya kala menjadi istri dari pria yang telah menyakitinya luar dalam fisik maupun mental. Emilia tersenyum bahagia dan dia sudah yakin kalau tidak akan ada lagi keraguan di hatinya untuk mengakui kalau dia begitu mencintai Julian.

__ADS_1


__ADS_2